Karena syukur itu puncak dari segala peribadatan dan tanda syukur itu senang dan gembira, maka tidak salah seorang ulama dawuh

الإسلام دين فرح

“Islam itu agama yang menyenangkan”

Ada juga Imam Sufyan Ats Tsauri dawuh bahwa idkholus surur (menyenangkan hati orang lain) itu ibadah tertinggi. Sebab kalo orang itu gembira dan senang, orang akan gampang bersyukur. Kalo orang gampang bersyukur, ujung-ujungnya dia melakukan amal tanpa merasa terbebani alias ikhlas. Sedangkan ikhlas adalah hakikat.

Banyak inspirasi syukur yang berujung ikhlas yang bisa diambil dari amal para ulama. Inspirasi untuk apa saja, mulai dari mengasuh anak sampai dalam berdagang.

Seperti inspirasi amal para guru kampung kita yang ikhlas-ikhlas, seperti amal guru penulis sendiri, Mbah Kyai Kholilurrohman Jetis Sidoarjo. Beliau mau menerima murid dari segala kalangan. Beliau ini mau dibayar seikhlasnya, bahkan kadang tidak dibayar sekalipun pun mau, santri yang telat mbayar atau tidak mbayar pun gak ditagih. Berbagai kondisi murid pun beliau terima di pondoknya, mulai dari yang waras hingga yang agak waras sekalipun.

Lalu ada cerita Mbah Abdurrohman Condromowo Cepoko Nganjuk yang tetap istiqomah mengajar walaupun tidak ada santri yang datang ngaji. Beliau dawuh, “Bukan cuma manusia yang butuh ngaji. Dampar, kloso dan semua makhluk di sini butuh ngaji”. Beliau berprinsip bahwa ngaji bukan perkara ada santri atau tidak, tapi keistiqomahan itu sebenarnya yang digeluti.

Ada pula kisah Mbah Syadzili Muchdhor Pakis Malang. Beliau adalah kyai yang sangat dermawan senang idkholus surur kepada orang lain. Demi menyenangkan hati orang, beliau tiap hari istiqomah membeli dagangan pedagang keliling yang kebetulan lewat didepan rumahnya, tidak jarang beliau memborong habis dagangan itu meskipun beliau tidak membutuhkan apa yang beliau beli. Lalu beliau bagikan barang-barang yang dibeli itu kepada santri dan tetangga sebelah rumah.

Orang bisa istiqomah karena dia mencintai apa yang dilakukan. Namanya cinta pasti ikhlas dilalui mau sesulit apapun. Ikhlas ini datang dari hati yang penuh syukur dan senang dengan pemberian karena bangga dan ta’dzim pada Sang Pemberi yaitu Gusti Allah Ta’ala.

Menyenangkan Yang Lain

Kadang kita terlalu fokus mengagungkan Tuhan, namun lupa bahwa ada manusia yg di samping kita. Kalo dikaitkan dengan bab syukur, jelas tidak disebut bersyukur, orang yang tidak menjaga perasaan orang lain.

Saya jadi ingat cerita Mbah Hamid Pasuruan, ketika beliau masih mondok, ada satu teman pondoknya yang tidak pernah membersihkan mulutnya, hingga bau mulutnya memenuhi masjid. Hingga tidak ada orang yang mau sholat, terutama sholat shubuh, di dekatnya. Bayangkan saja, gak usah dipraktekkan.

Teman tersebut sering disindir malah dimaki terang-terangan oleh orang-orang di depan mukanya, namun belum kapok. Itulah mengapa kita disunnahkan bersiwak atau menggosok gigi sebelum sholat, agar orang lain tidak terganggu oleh keberadaan kita.

Balik ke cerita. Di antara santri-santri satu pondok, ternyata cuma Mbah Hamid muda yang seolah bersikap wajar bila di dekatnya.

Rupanya selidik punya selidik, Mbah Hamid ketika berada di dekatnya, beliau menahan nafas. Maka jadilah tiap shubuh beliau selalu menahan nafasnya dan menghirup udara lewat mulutnya. Itu dikarenakan Mbah Hamid punya sikap lebih baik mengalah daripada menyakiti perasaan temannya itu. Lebih baik beliau menahan nafas agar hatinya tidak memaki dan mulutnya tidak mengumpat. Mungkin sebab itulah, Mbah Hamid diangkat derajatnya di antara manusia.

Saya diceritani guru saya kisah ini ketika sedang membahas cabang iman yang berupa menjaga perasaan orang lain dan menjaga aib/cacat orang lain dalam kitab Qomi’ut Tughyan.

Ada dua tokoh yang saling bertentangan di sini, namun cerita ini dijalin oleh satu sindiran bahwa acapkali kita lupa menyenangkan hati manusia demi menyenangkan hal yang kita pikir itu menyenangkan Tuhan, tapi pada hakikatnya pikiran kita aja yg kege-eran.

Kadang kita terlalu dangkal saat memaknai perintah syukur pada Gusti Allah. Nganggep bahwa biar Gusti Allah gak marah-marah, maka kita kudu syukur pada-Nya. Kesannya Gusti Allah butuh banget terima kasih kita.

Syukur Untuk Diri Sendiri

Imam Ghozali dawuh, syukur itu hakikatnya bukan untuk Gusti Allah, tapi buat kita sendiri. Karena sebenarnya orang bersyukur itu untuk menetapi akal sehatnya sendiri sehingga otomatis akan memperkuat hujjah atau argumentasi buat dirinya sendiri atas Ketuhanan Gusti Allah dan mau menetapi dan semakin meyakini benernya argumentasi dlm Islam. Semakin orang itu kuat akal sehatnya, syukurnya makin kuat. Maka semakin mengagungkan Gusti Allah dan suka cita untuk taat pada syariat. Ujungnya, perilaku orang sesuai fitrahnya.

Seperti yang kita bahas, orang bisa bersyukur karena punya ilmu. Orang punya ilmu tentu perilakunya sesuai ilmunya, sehingga perilakunya jadi masuk akal. Orang yang punya akal, tentu tidak akan mengaku-ngaku segala kenikmatan itu dari dirinya. Karena melihat banyak banget hal rumit yang tak terjangkau oleh dirinya, sementara dirinya ternyata banyak banget kelemahan dan erornya. Pasti ada Dzat Maha Absolut yang mampu mendatangkan kenikmatan dan rasa nikmat itu. Dan itu pasti Maha Tunggal, tidak mungkin banyak. Dari situ orang bisa bersyukur dan semakin mempercayai Islam.

Kalo orang tidak bersyukur, berarti dia menyalahi akal sehatnya. Menyalahi akal sehat berarti tak punya ilmu. Tak punya ilmu, berarti goblok. Maka tidak heran disebut goblok itu maksiyat paling hebat. Gak heran pula, orang gak bersyukur itu disebut kufur (tertutup) karena akalnya ketutup kegoblokannya, tingkah dan pemikirannya pun jadi gak masuk akal.

Maka gak salah Gusti Allah dawuh

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ

“Siapa saja yang mau bersyukur pada Gusti Allah, maka sesungguhnya dia berbuat baik untuk kebaikan dirinya sendiri”

Maka, agar lebih bisa banyak bersyukur, kita kudu menghilangkan kegoblokan kita dengan lebih banyak belajar. Karena semakin dalam ilmunya, orang bakal semakin banget syukurnya. Kalo belum bisa bersyukur, tandanya masih goblok.

Tiga Golongan Orang Bersyukur Berdasarkan Ilmunya

Semakin dalam ilmunya, orang bakal semakin banget syukurnya. Maka Imam Ghozali membagi manusia yang bersyukur itu jadi 3 golongan berdasarkan tingkat keilmuannya :

  1. Golongan jahil (orang goblok), mereka yang tidak punya ilmu sama sekali atas sesuatu, tidak mengamalkan ilmu dan tidak tahu hikmah dan rahasia di balik ilmu tersebut. Mereka tidak bisa diharapkan untuk mau bersyukur. Misal kita buta ilmu kedokteran dan gak tahu fungsi organ2 pada manusia dan ajaibnya sistem tubuh manusia. Lalu saat musim covid, kebetulan kita gak tertular covid. Kita gak akan ngerti bahwa ada sistem rumit di tubuh kita yg bekerja menangkal wabah sehingga kita kebal, karena kita memang goblok masalah itu. Akhirnya, karena kegoblokan kita itu, bukannya malah bersyukur pada Sang Pencipta sistem, malah kita koar-koar wabah itu hoax. Begitulah orang guoblok.
  • Golongan sholih, mereka yang punya ilmu secara normatif, mengamalkannya berdasarkan kepatuhan saja, tidak berdasarkan pemahaman terhadap hikmah dan rahasia di balik ilmu itu. Syukurnya ada, namun bisa dianggap syukur yg nanggung karena tidak datang dari pemahaman yg mendalam akan sesuatu. Karena ilmunya standard, maka keyakinannya juga standard. Misal kita tahu bahwa ada ancaman covid. Maka kita patuhi saja standar protokol kesehatan secara normatif, pakai masker, cuci tangan dan lain-lain buat jaga2. Karena gak tahu seluk beluk covid, taunya cuma patuh protokol kesehatan, maka kita akan kesulitan membantah jika ketemu orang goblok yg koar2 kalo covid itu hoax.
  • Golongan arif, mereka yang selain tahu ilmunya dan mengamalkannya, juga tahu hikmah dan rahasia di balik itu semua. Kepatuhan dan syukurnya datang dari pemahaman ilmu yang mendalam, sehingga kualitas patuh dan syukurnya sangat bermutu asli beneran. Misal kita seorang dokter yang bener2 dokter. Saat wabah covid, kita mampu mengetahui seluk beluk virus itu sehingga mampu merumuskan cara penanganan dan pencegahan. Walaupun seribu gelombang orang goblok menyerbu, kita bisa tangkal semuanya karena kita punya ilmu yg mendalam. Dengan ilmu yg mendalam itu juga, kita akhirnya bisa melihat sendiri keajaiban sistem tubuh kita dlm menangkal penyakit. Sehingga gak pake paksaan, kita pun amat sangat bersyukur pada Sang Pencipta sistem itu.

Maka kalo kita mengamalkan satu ibadah atau menekuni sebuah bidang, jangan nanggung-nanggung. Perdalam saja, totalitas tanpa batas. Jangan cuma puas kecek-kecek di pinggiran, sekalian nyemplung aja yg dalem. Karena ilmu yg nanggung, syukurnya nanti juga nanggung.

Nah, itulah hubungan antara tingkat keilmuan dengan tingkat syukur seseorang. Ini membuktikan bahwa syukur itu dasarnya ilmu. Maka kita jangan berhenti belajar, biar bisa bersyukur.

5 Tips Bersyukur

Imam Ghozali juga punya 5 tips untuk melihat sisi lain dari satu balak dan cobaan secara akal sehat, sehingga kita masih bisa bersyukur saat kena balak. Tips itu antara lain :

  1. Bersyukur bahwa Gusti Allah tidak menimpakan balak yg lebih berat dari yg sekarang diderita. Misal kena covid, masih syukur gak kena HIV/AIDS.
  2. Bersyukur bahwa Gusti Allah masih memberi balak pada lahiriyah kita, tidak menimpakan balak pada aqidah kita.
  3. Bersyukur bahwa semua balak di dunia ini sifatnya sementara, satu saat akan berakhir, sedangkan balak di akhirat itu selamanya.
  4. Bersyukur bahwa semua balak ini bentuk takdir Gusti Allah, sementara sunnatullah bahwa selalu ada kebahagiaan dibalik kesusahan sehingga pasti gak lama akan datang kebahagiaan itu, pikiran kita pun jadi tenang.
  5. Bersyukur bahwa adanya balak berarti ada pahala yg besar di baliknya, sehingga jadi kesempatan untuk memperbanyak ibadah, seperti dampak covid, semua libur, akhirnya bisa punya waktu panjang buat i’tikaf di masjid, menghangatkan suasana keluarga dan menghatamkan Al Qur’an.

Tips2 itu kalo kita biasakan, walau di saat musim wabah kayak gini, ya asik-asik aja jadinya.

Penting juga untuk tidak melihat penderitaan orang lain sebagai alasan kita bersyukur. Misal lihat tetangga kena covid, kita bersyukur gak kayak mereka. Hal itu sangat diharamkan karena itu bagian dari hasud dan ujub.

Sebagai penutup, kita sarikan pembahasan bab syukur ini.

  1. Syukur itu derajat akhlaq tertinggi dari akhlaq sholeh lainnya
  2. Syukur adalah puncak segala tujuan peribadatan baik yang murni maupun tidak, ta’bbudi maupun ta’aqquli.
  3. Syukur itu bisa bermakna amanah dalam kenikmatan dalam rangka mengagungkan Sang Pemberi kenikmatan.
  4. Tanda orang bersyukur itu hatinya senang.
  5. Fungsi syukur bukan untuk Gusti Allah tapi untuk sendiri.
  6. Rukun syukur ada tiga : ilmu, perilaku dan amal
  7. Hanya orang yang berilmu yang bisa bersyukur.
  8. Syukur banyak bentuknya, saat merasa diri banyak kekurangan lalu merujuk pada orang yg lebih tahu, itu satu bentuk syukur. Istighfar juga bentuk syukur.
  9. Orang syukur terbagi menjadi tiga : jaahil, sholeh dan arif
  10. Bersyukur pun bisa dilakukan ketika mendapat kesusahan. Tinggal mencari perspektif lain dari kesusahan dan hikmah di balik itu.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *