Dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW
الإيمان نصفان : نصف صبر، ونصف شكر
“Komposisi iman itu 50% berisi sabar dan 50% syukur”
Walau sabar dan syukur itu satu paket yang membentuk iman, dawuh Imam Ghozali, syukur itu lebih tinggi derajatnya. Bahkan lebih tinggi dari akhlaq baik lainnya yg pernah kita bahas. Hal ini karena tujuan syukur itu tidak ada hal lain kecuali langsung menuju Gusti Allah.
Kita review sejenak, tujuan akhlaq mulia yang udah di bahas. Bahwa sifat sabar untuk mengontrol syahwat dan amarah diri sendiri. Zuhud untuk menyingkirkan hijab yg jadi penghalang diri menuju Gusti Allah. Khouf untuk mengantarkan diri pada maqom terpuji. Taubat untuk menghapus dosa yg mengotori diri.
Sedangkan syukur beda. Tidak ada halangan apapun sebelum itu, tidak bertujuan untuk memperbaiki diri sendiri, bahkan tidak dilakukan untuk mencapai surga. Orang saat bersyukur pasti hakikat tujuannya untuk mengagungkan Gusti Allah saja dan syukur adalah tujuan puncak dari segala peribadatan.
Gusti Allah dawuh dalam ayat
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Do´a mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ´aalamin”
Ayat ini memberi pengertian bahwa segala tujuan kita mencari ilmu, berperilaku dan beramal sholeh, baik ibadah murni atau bukan adalah biar bisa syukur. Kita boleh saja niat berilmu dan beramal untuk mengenal Gusti Allah. Tapi kalo belum bisa bersyukur, tanda belum kenal betul sama Gusti Allah. Sekedar tau nama-Nya aja.
Ngomong-ngomong syukur ini, mengingatkan kita pada Mbah Yai Syahid Kemadu yang dijuluki Kyai Alhamdulillah oleh Mbah Musthofa Bisri.
Kalo Kyai-Kyai lain punya dzikir andalan seperti Laa ilaaha illa Allah, Subhanallah, Allahu Akbar, Astaghfirullah dan lain-lain, Mbah Yai Ahmad Syahid Kemadu lain lagi. Begitu seringnya beliau menyebut Alhamdulillah di tiap kesempatan atau diselipkam saat berbicara, sampai ada yang menjulukinya Kyai Alhamdulillah dan menjuluki pesantrennya dengan Pesantren Alhamdulillah. Apapun kondisinya, mesti dzikirnya Alhamdulillah.
Di mana saja, bahkan di sawah, beliau bisa mengajar. Kebanyakan ajaran dan nasehat yang disampaikan beliau kepada santri dan tamu beliau, tidak secara vulgar didawuhkan tanpa tedeng aling-aling. Kadang-kadang dibungkus cerita, kadang-kadang sambil menunjuk fenomena sekitar, kadang-kadang justru seperti bertanya. Umumnya penekanan beliau ya seperti selalu dikesankan oleh sikapnya sendiri, kepada penanaman landasan syukur dengan menyadarkan orang akan betapa tak terhitungnya kenikmatan dan anugerah Gusti Allah. Baik kenikmatan yang menyenangkan bahkan kenikmatan dibalik kesusahan yang menimpa.
Diceritakan oleh KH Yahya Cholil Staquf Leteh Rembang, seusai mengikuti suatu kegiatan Nahdlatul Ulama di Semarang, rombongan kyai Rembang dalam satu mobil dalam perjalanan pulang. Diantara mereka adalah Mbah Kyai Ahmad Syahid bin Sholihun rahimahullah dari Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang.
Saat melewati wilayah Demak yang jalanannya senantiasa dalam kondisi buruk, mobil itu tak dapat melaju kencang. Tiba-tiba dari dalam air kanal di pinggir jalan itu menyembul sesosok ( dan untungnya!) laki-laki tanpa sehelai benang menempel di tubuhnya.
Dengan penuh percaya diri, laki-laki itu mendaki keatas tebing sembari menggenggam erat pusat rasa malunya, seolah-olah jika yang itu tertutup berarti seluruh bagian tubuh sisanya pun tak
kelihatan.
Terang saja pemandangan tak senonoh itu menghujam penglihatan para kyai. Spontan beliau-beliau terperanjat bukan kepalang lalu pada berseru.
“Astaghfirullah!” Kyai Mabrur berseru.
“Maa syaa-allaah!” Kyai Wahab.
“Laa ilaaha illallaah!” Kyai Tamam.
“Subhaanallaah!” Kyai Sahlan.
Dan Mbah Syahid? “Alhamdulillaaaah…”

No responses yet