Harapan paling besar dari seorang hamba adalah mendapatkan rahmat dari Tuhannya. Hal itu karena rahmat adalah syarat mutlak seorang hamba dimasukkan ke dalam surga. Begitu pula para rosul dan orang-orang sholih, mereka diselamatkan dari marabahaya juga dengan rahmat-Nya.

Tetapi selain rahmat, seseorang hendaknya juga berharap mendapatkan maghfirah atau pengampunan dari Allah.

Seperti diketahui, bahwa salah satu sifat Allah adalah Ghofur dan Rohim, yaitu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Dengan sifat ghofur, Allah mengampuni semua dosa orang yang bertaubat, dan memaafkan semua kesalahan dan perbuatan jahat, dan di akhirat Allah akan menyelamatkan atau mengentaskan seseorang dari api neraka.

Dengan sifat rohim, Allah merahmati mereka dengan memberi pertolongan, taufiq dan hidayah di dunia ini, dan di akhirat Allah akan memasukkan dia ke dalam kelompok ahli surga.

Dari penjelasan ini, kita mengenal istilah dalam ilmu agama, yaitu: “Memprioritaskan keselamatan daripada memperoleh keuntungan”.

السلامة مقدمة على الغنيمة

Keselamatan adalah dengan meninggalkan segala larangan, sedangkan keberuntungan adalah dengan mengerjakan tugas dan kewajiban.

Pada susunan kata (shighot) hauqolah, kita juga mendapatkan pelajaran untuk memprioritaskan keselamatan. Setelah selamat kita peroleh, baru kita memfokuskan diri untuk mendapatkan keberuntungan.

Mari kita tengok. Shigot hauqolah didahului dengan kata “Laa Haula” yang berarti tidak ada daya untuk meninggalkan kemaksiatan. Dan disambung dengan kata “Walaa Quwwata” yang berarti tidak ada kekuatan untuk menjalankan ibadah, ubudiyyah dan ubudah.

Kedua hal itu, yaitu daya dan kekuatan tidak akan diperoleh kecuali dengan pertolongan Allah.

لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Dalam shigot hauqolah, ada dua hal yang diminta yaitu daya (Haula) dan kekuatan (Quwwata). Dan meminta kepada ALLOH dengan dua sifat yaitu Al-‘Aliyyi العلي Dzat Yang Maha Tinggi dan Al-‘Adzim العظيم Dzat Yang Maha Agung.

Dalam ilmu Badi’, hal semacam ini dinamakan Laf Nasyr Murottab (لف نشر مرتب). Lafadz Laa Haula (لا حول) berhubungan dengan kata Al-‘Aliyyi (العلي). Sedangkan kata Laa Quwwata (لا قوة) berhubungan dengan kata Al-‘Adzim (العظيم).

Artinya kita tidak mempunyai daya untuk meninggalkan kemaksiatan kecuali mendapatkan pertolongan dari Allah Yang Maha Tinggi.

أي لا حول إلا بالله العلي

Dan kita juga tidak mempunyai kekuatan untuk menjalankan ibadah kecuali mendapatkan pertolongan Allah Yang Maha Agung.

أي لا قوة إلا بالله العظيم

Dalam sholat kita mengenal istilah ruku’ dan sujud. Ruku’ adalah sikap membungkuk pada waktu shalat, dengan tangan ditekankan di lutut sehingga punggung dan kepala sama rata. Sedangkan sujud adalah perbuatan menempatkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki pada kondisi serentak di lantai dengan tujuan tertentu karena ALLOH pada waktu dan saat-saat tertentu.

Kita tahu bahwa anggota sujud lebih banyak daripada anggota ruku’, begitu juga saat sujud posisi kita lebih rendah mencium tanah daripada ruku’.

Pada saat ruku’ kita membaca tasbih sebagai berikut.

سبحان ربي العظيم وبحمده.

Dari sini kita tahu bahwa ruku’ dilakukan dengan berdiri membungkuk, dan menggunakan bacaan Al-‘Adzim. Sedangkan Al-‘Adzim saat hauqolah digunakan untuk Laa Quwwata. Di sini kita mengetahui penyesuaian ma’na dan lafadz.

Kesesuaian itu dilihat dari lafadz Al-‘Adzim yang bermakna Agung, sesuai dengan pekerjaan ruku’ yang dilakukan dengan posisi berdiri membungkuk.

Dan ruku’ juga lebih mudah dilakukan daripada sujud, seperti mudahnya seseorang mengerjakan ibadah.

Sedangkan pada saat sujud kita membaca tasbih sebagai berikut.

سبحان ربي الأعلى وبحمده.

Dari sini diketahui bahwa sujud dilakukan dengan membungkukkan badan lebih rendah bahkan dengan menyentuhkan anggota sujud dengan tanah, dan menggunakan bacaan Al-A’la. Sedangkan Al-A’la bermakna “Sangat Agung”, yaitu shigot Af’alu Tafdlil (أفعل للتفضيل) dari kata Al-‘Aliyyi yang saat hauqolah digunakan untuk Laa Haula. Di sini kita juga mengetahui penyesuaian ma’na dan lafadz.

Kesesuaian itu dilihat dari lafadz Al-A’la yang bermakna Sangat Tinggi, sesuai dengan pekerjaan sujud yang dilakukan dengan posisi membungkukkan badan lebih rendah dan menyentuh tanah.

Dan sujud juga lebih banyak anggotanya daripada ruku’, seperti lebih sulitnya seseorang meninggalkan kemaksiatan. Oleh karena itu, digunakan kata yang mempunyai penekanan lebih kuat, yaitu Al-A’la.

Karena itu, Syaikhona Maimoen Zubair memberikan semboyan “Kowe mandek rokok iku luweh apik tinimbang sholat sunnah nanging isih rokok-an.”

Artinya kurang lebih: “Kamu berhenti merokok itu lebih baik daripada senang sholat sunnah tapi masih merokok”.

Hal itu karena sholat sunnah adalah tambahan yang dilakukan setelah gugurnya kewajiban. Seperti dalam hadist Qudsi berikut:

وما تقرب لي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضته عليه، ومازال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه.

Sedangkan meninggalkan rokok adalah meninggalkan hal yang makruh atau suatu hal yang kurang baik untuk kesehatan. Walaupun begitu, Syaikhona Maimoen Zubair juga tidak lantas mengharamkan rokok.

Semoga kita bisa dimudahkan untuk berziarah ke makam Rosululloh, Maqbaroh Baqi’, Sayyidah Khodijah, dan para guru-guru kita Syaikhona Maimoen Zubair, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dan Habib Salim Asy-Syathiri dan ulama lain di Maqbaroh Ma’la Mualla.

Kramatsari, Jum’at Pahing, 10 Juli 2020 M/ 18 Dzul Qo’dah 1441 H.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *