Jama’ah : “Jo, akhir-akhir ini banyak sekali di Medsos orang membicarakan tentang Tuhan yang direpresentasikan sebagai hukum alam. Bahkan yang paling ekstrim ada yang bilang bahwa alam itu sendirilah Tuhan. Jadi Tuhan itu ada atau tidak ada sebenarnya Jo?”
Paijo : “Ha ha ha kang itu kerjaan orang yang terlalu banyak waktu luangnya. Alias pengangguran. Sudahlah kita rasan-rasan merdunya suara Nisa Sabyan saja “
Jama’ah : “Lho Jo, mereka ini ngakunya ilmuwan, bukan pengangguran.”
Paijo : “Lha kalau bukan nganggur, ngapain bicara sesuatu yang mereka (manusia sejak zaman dahulu, sebelum manusia mengenal sains) nggak bisa menjangkaunya? Bahkan ketika mereka membanggakan sains pun tetap nggak bisa menjangkau Tuhan, atau apalah sebutan mereka hukum alam, hukum universal, atau hukum keabadian. Yang bagi orang beragama mereka menyebutnya Tuhan.”
Jama’ah : “Tapi mereka kadang rasional juga lho Jo. Nggak kayak kita kaum pengikut agama yang hanya mengandalkan keyakinan.”
Paijo : “Lha itulah yang akang harusnya kritis terhadap mereka. Karena kalau memakai logika mereka pun, ujung rasionalitas adalah keyakinan. Jadi mereka pada.dasarnya sedang beragama dengan sains. Jadi apa bedanya dengan orang yang sudah beragama dengan Tuhan? Tuhan mereka adalah hukum sains yang katanya abadi dalam perubahan. Nah imajinasi orang beragama sudah melampaui fase itu. Sehingga yakin bahwa semua fenomena (perubahan) nggak bisa dihentikan atau dijangkau dalam batas keumuman waktu hidup manusia, maka lahirlah keyakinan akan Tuhan yang Maha segalanya. Jadi akang tidak perlu risau dengan semua itu. Apapun yang dilakukan mahluk adalah representasi hukum Tuhan. Itulah ayat-ayat atau tanda bahwa Tuhan itulah yang paling nyata atau yang Maha Ada. Kita dan juga para ilmuwan itu nantinya juga akan menua dan mati. Selesai sudah perdebatan mereka dan dilanjutkan oleh para pengikutnya. Nah kita yang percaya dengan agama dan Tuhan juga begitu, sampai kiamat atau alam ini mati entah berapa lama lagi. Tuhanlah yang tetap abadi. Keyakinan seperti ini juga akan banyak diikuti manusia. Intinya kang, hakekatnya manusia itu lemah, bodoh, dan tak berdaya menghadapi hukum Tuhan. Kecuali dia bisa memerankan dirinya dengan merepresentasikan sifat-sifat mulia Tuhan. Ada manusia yang mengandalkan kekuatan akalnya semata, ada pula yang mengandalkan kesadaran spiritual nya semata. Nah saya sendiri kang diajari Yuk Tin agar selalu mengandalkan akal dan spiritual secara seimbang dengan kesadaran bahwa Tuhanlah yang menguasai keduanya. Makanya santai sajalah kang, kita ikuti kehendak Tuhan dengan bekal akal dan spiritual yang sudah dianugerahkan kepada kita.”
Jama’ah : “Lha terus kenapa kita harus sekolah jika ujung adalah sebuah keyakinan transendental Jo?”
Paijo : “Waduh kang, pertanyaan akang itu sama dengan jawaban kenapa akang harus bangun, makan, beol, tidur dan bangun lagi? Bukankah banyak dari kita yakin bahwa besok masih hidup dan sekarang harus bekerja dengan baik? Meskipun di sisi lain kita juga yakin bahwa tidak ada kepastian tentang kita bisa bangun besok pagi. Karena tak sedikit yang kemudian mati mendadak dan tidak harus menunggu sakit ataupun tua. Sampai sekarang sains juga tak mampu menjawab bagaimana hubungan kehidupan dan kematian itu secara memuaskan. Hanya agama yang bisa sedikit mengurangi “kegalauan” manusia tentang hal itu. Tapi karena kita sedang hidup, maka kita terus bergerak.agar tidak selalu terjebak dalam nalar kegalauan itu terus-menerus. Sekolah adalah bagian dari gerakan kehidupan itu sendiri. Demikian pula dengan aktifitas lain yang menandai sebuah kehidupan. Seperti yang kita berdua sedang lakukan ini, sibuk membincangkan Tuhan di warung Yuk Tin. Bisa merenungi keadaan kita sebagai manusia dan juga semua fenomena di sekitar kita dengan nalar akal dan spiritual adalah sebuah nikmat. Apalagi jika ada suguhan teh hangat dan nasi pecel Yuk Tin. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan? Kita ini tidak ikut susah payah menciptakan alam dengan semua isinya, kok kita mau sombong dengan akal yang terbatas melawan yang Maha Ada.” #SeriPaijo

No responses yet