Bulan Ramadan merupakan bulan yg ditunggu2 oleh seluruh umat Islam. Bulan yg penuh dgn keberkahan, bulan dimana setiap perbuatan ibadah yg kita lakukan akan mendapatkan pahala yg berlipat ganda.

Seperti dalam bulan Ramadhan ini, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, telah mencontohkan kepada umatnya apa saja amalan sunah yg dapat dilakukan pada bulan suci Ramadhan, salah satunya dalah membaca Al-qur’an. Ketahuilah, bahawa Al-qur’an pertama kali di turunkan pada bulan Ramadhan.

Sunnah : Pendapat Ulama Kibar Syafi’i

Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i atau Imam Nawawi rahimahullah (1233 – 1277 M, Nawa, Suriah) berkata: 

“Ulama madzhab kami berkata: Yang sunnah adalah memperbanyak membaca Al Qur’an di bulan Ramadhan dan mempelajarinya. Yaitu dgn cara, seseorang membaca Al Qur’an di depan orang lain, lalu orang lain membaca di depannya. Berdasarkan hadits sebelumnya dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Anhu” (Kitab Al Majmu’ Syarh Al Muhadzab, 6/274).

Syeikh Nawawi bin Umar al-Bantani Al-Makki Asy-Syafii rahimahullah mengatakan : “Termasuk membaca al-Qur’an (pada malam Ramadhan) adalah mudarasah (tadarus), yg sering disebut pula dgn idarah. Yakni seseorang membaca pada orang lain. Kemudian orang lain itu membaca pada dirinya. (yg seperti ini tetap sunnah) sekalipun apa yg dibaca (orang tsb) tidak seperti yg dibaca orang pertama.” (kitab Nihayatuz Zain, 194-195)

Syarafuddin Abu Muhammad Ismail bin Abi Bakr bin ‘Abdullah al-Muqri Asy-Syafi’i atau Ibnu Muqri’ rahimahullah (wafat 873 H / 1468 M dalam usia 118 tahun di Zabid Al-Hudaidah Yanan Barat) dalam kitab Raudh at-Thalib mukhtashar Raudh at-Thalibin karya Imam Muhyiddin Syarf an-Nawawi, berpendapat bahwa : 

“(Dan disunatkan) dgn kesunatan yg kokoh (di bulan ramadhan tadarus al-Qur’an), yaitu seseorang membaca al-Qur’an dihadapan orang lain dan orang lain membaca alQur’an dihadapannya, berdasarkan hadits dua kitab shahih (artinya) “Malaikat Jibril menjumpai Nabi shalallahu alaihi wasallam pada setiap malam dari bulan ramadhan, lalu tadarus al-Qur’an bersama beliau” (Raudl ath-Thalib)

Dari keterangan diatas, Ulama Syafi’iyah, menganjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan mudarasah. Yaitu seseorang membaca Al-Qur’an kepada orang lain dan orang lain tsb membacakan Al-Qur’an untuknya, berdasarkan hadis Ibnu Abbas di atas (Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 6/377). 

Dalam kitab ‘Ianatutholibin juga dijelaskan oleh Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Zainal Abidin as-Syatha Asy-syafii Al-Makki rahimahullah (1266 – 1310 H / 1849 – 1892 M Makkah), bahwa disunnahkan memperbanyak sedekah dan membaca al-qur’an, dan hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tsb sudah sangat jelas sekali.

Nabi mudarasah bersama Jibril

Diriwayatkan dari Abu Hurairah (Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi atau Abdullah bin Amin) Radhiyallahu Anhu (603 – 678 M, Jannatul Baqi’ Madinah) yg mengatakan bahwa Malaikat Jibril alaihis salam itu setiap tahun selalu tadarus Alquran bersama Nabi Muhammad shalallahu alaihis salam. Namun menjelang Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam wafat, Malaikat Jibril alaihis salam datang dua kali dalam satu tahun, untuk melakukan tadarus. Karena itu, setiap Ramadan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, terbiasa i’tikaf sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadan. Namun di tahun menjelang Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam wafat, Nabi itikaf selama dua puluh hari (HR Imam Bukhari rahimahullah wafat 870 M di Uzbekistan).

Redaksi hadits hampir sama dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu (619 M, Mekkah – 687 M, Ta’if, Arab Saudi), diriwayatkan oleh Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi atau Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah (780 – 855 M, Bagdad Iraq) : 

Bahwa Rasululah shalallahu alaihi wasallam adalah orang yg paling pemurah. Sedangkan saat yg paling pemurah bagi beliau pada bulan Ramadhan adalah pada saat Malaikat Jibril alaihis salam mengunjungi beliau. Malaikat jibril alaihis salam selalu mengunjungi Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam setiap malam bulan ramadhan, lalu melakukan MUDARASAH (tadarus) al-Qur’an bersama Nabi. Rasul shalallahu alaihi wasallam ketika dikunjungi Malaikat Jibril, lebih dermawan dari angin yg berhembus.” (kitab Musnad Ahmad)

Syaikh Abu Muhammad Mahmud ibn Aḥmad ibn Musa Badruddin al-‘Ayni atau Syekh al-‘Aini Al-Hanafi rahimahullah (762 – 855 H / 1360 – 1453 M Kairo Mesir) dalam kitab ‘Umdatul Qari fi Sharhi Sahih al Bukhari,  menyampaikan kesimpulan ulama yg menyatakan bahwa perbuatan yg dilakukan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam secara rutin merupakan sunah mu’akkad yg pahalanya tentu sangat besar.

Melaksanakan tadarus Alquran di bulan Ramadan satu di antaranya dianjurkan oleh Muhammad bin Ismail bin Shalah Al-Amir Al-Kahlani Ash Shan’ani atau Al-Shan’ani rahimahullah (wafat Selasa 3 Sya’ban 1182 H / 13 Desember 1768 M

pada usia 123 tahun di Yaman) dalam kitabnya Subulus Salam Syarhu Bulughil Maram min Jam’i Adillatil Ahkam, menjelaskan: “Qiyam ramadhan (dalam hadist2 diatas) adalah mengisi dan memeriahkan malam Ramadlan dgn melakukan salat dan membaca Alquran. 

Dalam Buku Saku Sukses Ibadah Ramadhan terbitan Pengurus Pusat Lajnah Ta’lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tahun 2017, dijelaskan ibadah puasa dan membaca Al Quran adalah dua ibadah serangkai yg akan memberi syafaat di akhirat nanti.

Dalam buku tsb juga dijelaskan, pelaksanaan tadarus atau membaca Al Quran di masjid selama Ramadhan, sudah dilaksanakan di masa Khalifah Umar Bin Khattab Radhiyallahu Anhu (wafat 3 November 644 M, Madinah)

Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Ishaq Shihabuddin Ibrahim ibnu Abdulllah Al-Hamdani Al-Hamawi Al-Kufi atau Abi Ishaq al-Hamdani rahimahullah (1187 – 1244 M

berikut:

“Ali bin Abi Thalib keluar di awal Ramadhan, lentera dinyalakan dan kitab Allah dibaca di masjid-masjid. Ali berkata: Semoga Allah menerangimu, wahai Umar dalam kuburmu, sebagaimana engkau telah menerangi masjid-masjid Allah dengan Al Quran,” (Riwayat Al-Hafidh Imam Muhaddits Abu Hafs umar ibn Ahmad ibn Syahin Adz-Dzohry atau Imam Ibnu Syahin (wafat 385 H / 995 M).

Orang yang membaca Al-Qur’an dan men-tadabburi-nya serta mengamalkannya pasti dia diberi pahala, meskipun tidak menghafalnya, sebagaimana di dalam hadits yg diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha (wafat 13 Juli 678 M, Jannatul Baqi’ Madinah). Beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. 

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ 

“Orang yg mahir membaca Al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yg terhormat dan orang yg terbata2 di dalam membaca Al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala” (HR Imam Muslim rahimahullah dalam kitab shalat al Musafirin wa Qashruha)

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 1449 M di Mesir) berkata : Hadis yg menjelaskan bahwa mengeraskan bacaan al-Quran di malam hari adalah bagus, namun selama tidak mengganggu orang lain dan jauh dari pamer” (kitab Fath al-Bari Syarah Sahih Bukhari, 7/487)

Oleh karena itu, tradisi mengkhatamkan Alquran, baik dgn model tadarus bersama, atau pun mengkhatamkan sendiri, merupakan tradisi baik yg perlu dilakukan, apalagi di bulan Ramadan. Dan kita bisa meniru cara ulama dalam mengkhatamkan Al Quran di bulan Ramadan ini.

Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam

From various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *