Khalwat Pertama dan Latihan Spiritual

Syekh Syarafuddin QS merawat dan melatih Syekh `Abdullah QS dengan disiplin spiritual secara intensif dan zikir yang panjang waktunya. Enam bulan setelah pernikahan, beliau diperintahkan untuk memasuki khalwat selama 5 tahun. Beliau bercerita,

Aku masih seorang pengantin baru, yaitu 6 bulan ketika Syekhku memerintahkan aku untuk memasuki khalwat selama 5 tahun. Ibuku sangat kecewa, beliau mendatangi Syekhku, yaitu kakaknya sendiri dan protes akan keputusan itu. Istriku juga kecewa, namun hatiku sama sekali tidak pernah mengeluh. Bahkan sebaliknya, aku sangat senang memasuki khalwat yang sangat aku idam-idamkan itu.

Aku berangkat khalwat, meskipun ibuku menangis dan mengatakan, “Tidak ada lagi yang aku miliki selain engkau. Kakakmu masih di Rusia, dan ayahmu telah meninggal.” Aku kasihan melihat ibuku, namun aku sadar akan perintah Syekhku dan itu pasti berasal langsung dari Nabi SAW. Aku memasuki khalwat itu dengan perintah untuk mandi dengan air dingin enam kali sehari, serta menjaga segala kewajiban-kewajiban dan zikir hariannya. Sebagai tambahan, aku diperintahkan untuk membaca tujuh sampai lima belas juz Quran dan mengulang Nama Allah SWT 148.000 kali dan selawat Nabi SAW 24.000 kali setiap harinya.

Banyak lagi latihan-latihan lainnya yang harus dilakukan dengan terfokus dan penuh ketenangan. Aku berada di sebuah gua, di tengah sebuah hutan besar, di atas gunung bersalju yang tinggi. Satu orang ditunjuk untuk melayaniku dengan 7 buah zaitun dan 2 ons roti setiap harinya. Saat itu umurku lima belas setengah tahun. Ketika aku selesai berkhalwat umurku sudah mencapai dua puluh tahun, berat badanku hanya 100 pound, sangat kurus.

Penglihatan-penglihatan dan pengalaman-pengalaman yang telah terbuka tidak mampu aku ceritakan dengan kata-kata. Aku memasuki khalwat itu dengan mengatakan pada egoku, “Egoku, ketahuilah, aku tidak akan meninggalkan khalwat ini, bahkan jika aku harus mati. Jangan coba-coba mengubah pikiranku atau menipuku.”

Ada sedikit lubang di atas gua, namun aku menutupnya dengan sepotong kain. Aku hanya tidur sebentar dalam khalwat itu. Aku tidak merasa butuh untuk tidur, karena dukungan surgawi begitu kuatnya. Suatu saat aku menerima penglihatan ketika Nabi SAW berkhalwat di gua Hira. Selama 40 hari aku duduk di belakang beliau dan tidak pernah tidur tetapi tetap dalam keadaan seperti itu.

Ketika aku berzikir, setelah lewat tengah malam, badai melanda pegunungan itu. Aku mendengar badai itu merobohkan pepohonan, kemudian datang hujan dan akhirnya turun salju. Begitu dingin dan tidak ada yang menghangatkanku kecuali panasnya hawa zikirku. Sebuah angin kencang menerbangkan sumpalan kain pada lubang di atap gua. Aku pun membeku, dan salju mulai berjatuhan di tubuhku. Begitu dinginnya, sehingga aku tak mampu menggerakkan jari-jariku untuk berzikir. Jantungku seakan terhenti. Terlintas keinginan untuk menutup lubang itu kembali, namun Syekhku datang dengan berteriak, “Anakku! Engkau sibuk dengan dirimu sendiri atau dengan Dia yang telah menciptakanmu?! Jika engkau mati kedinginan, itu lebih baik daripada mengizinkan hatimu lalai walau sesaat.” Penglihatan itu membuat hatiku terasa hangat dan kemudian aku mengulangi zikirku segera. Aku perang melawan diri sendiri. Akhirnya aku mengatakan, “Biarkan aku mati, tetapi aku akan tetap melanjutkan zikirku.” Tiba-tiba, angin disusul salju pun berhenti. Sebuah pohon jatuh, tepat menutupi lubang di atap gua.

Suatu hari setelah salat malam, ketika aku sibuk dengan zikir dan hatiku terhubung dengan Asalnya, aku mengalami penglihatan bahwa diriku sedang berzikir di Hadirat Ilahi. Pada saat yang sama aku merasakan sesuatu membelitku, aku sadar itu bukan sesuatu yang spiritual tetapi berwujud. Aku teringat dengan perkataan Nabi SAW, “Tidak ada ketakutan di dalam hatiku kecuali takut pada Tuhan.” Meskipun sesuatu membelit tubuhku, aku tetap tidak terganggu dalam Hadirat-Nya.

Pada tingkatan itu aku mencapai maqam kesadaran akan 777.777 kali pengulangan Nama Ilahi. Ketika akan mencapai 777.778 aku mendengar dari Hadirat Ilahi, “Wahai hamba-Ku, malam ini engkau telah mencapai rahasia kesadaran akan angka/jumlah (wuquf adadi). Engkau telah berhasil meraih kunci maqam itu. Masukilah Hadirat-Ku dalam tingkatan seseorang yang mampu berbicara pada Tuhannya, tingkatan Musa AS ketika dia berbicara dengan Hadirat Ilahi.“

Aku menerima jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang para awliya belum pernah mampu mencapainya. Aku gunakan kesempatan itu untuk bertanya pada Allah SWT, “Ya Allah, apakah Nama-Mu Yang Teragung?” Dan aku mendengar, “Wahai hamba-Ku, engkau akan diberi jawabannya nanti.” Lalu penglihatan itu lenyap bertepatan dengan waktunya untuk Salat Subuh.

Sebelum salat, aku diwajibkan untuk mandi dengan air dingin. Namun karena tidak ada air yang mengalir maka aku pun mandi dengan salju. Ketika akan bangkit untuk mandi, sebuah kepala ular menghadap tepat di wajahku, ternyata dialah yang membelit tubuhku. Kepalanya begitu tenang sehingga jika ada gerakan karena rasa takut bisa membuatnya menyerangku. Aku tidak mempedulikan ular itu. Aku tahu jika aku merasa takut, dia akan menyerang. Jadi dalam pikiranku, aku membuatnya tidak ada. Aku tidak bisa mandi dengan ular membelitku, namun perintah Syekh harus aku ikuti. Maka aku guyur air di sekujur pakaian dan ular itu. Selama 40 hari, ular itu tetap membelitku. Ketika salat, ular itu menggerakkan kepalanya untuk memberi kesempatan aku bersujud. Selama 40 hari, ular itu terus menatapku, menungguku berbuat kesalahan atau ketakutan, untuk kemudian menyerangku. Itu ujian dari Syekhku, untuk melihat apakah aku takut pada selain Allah SWT. Pada akhirnya hal itu berakhir, ular itu mulai melepaskan belitannya dari tubuhku. Dia berhenti sebentar di hadapanku untuk kemudian menghilang.

Syekh `Abdullah QS melewatkan waktu 5 tahun dalam khalwat semacam itu, yang berakhir ketika beliau menginjak usia 20 tahun. Ketika beliau kembali, beliau sudah pantas untuk masuk wajib militer. Syekh `Abdullah QS pun bergabung dalam kemiliteran.

Kenaikan Beliau

Syekh `Abdullah QS bercerita dalam sebuah insiden yang terjadi selama pengabdian beliau dalam dinas militer Kekhalifahan Utsmani (Ottoman),

Aku menjumpai ibuku hanya dalam waktu satu atau dua minggu. Lalu mereka mengambilku untuk berperang dalam Safar Barlik di Dardanelles. Suatu hari ada serangan dari musuh dan kami, 100 orang tertinggal di belakang untuk mempertahankan wilayah perbatasan. Aku adalah seorang penanda yang ulung, mampu memukul sebuah ancaman dari jarak jauh. Kami tidak mampu mempertahankan posisi kami di bawah serangan yang tajam. Aku merasakan sebuah peluru menembus jantungku, aku pun terjatuh di tanah.

Ketika aku terbaring sekarat, aku melihat Nabi SAW menghampiriku. Beliau berkata, ”Oh anakku, engkau ditakdirkan untuk meninggal di sini, namun kami masih memerlukanmu di bumi ini, baik secara spiritual maupun fisik. Aku datang padamu untuk menunjukkan bagaimana seorang manusia meninggal dan bagaimana malaikat mengambil nyawa.” Beliau memberiku penglihatan di mana aku melihat rohku mulai meninggalkan tubuhku, dari sel ke sel, berawal dari ibu jari kakiku. Begitu kehidupan dilepaskan, aku dapat melihat berapa banyak sel-sel dalam tubuhku. Fungsi-fungsi setiap sel, dan penyembuh setiap penyakit dari setiap sel dan aku juga mendengar zikir di setiap sel itu.

Begitu rohku mulai bergerak meninggalkan tubuh, aku mengalami apa yang orang rasakan ketika meninggal dunia. Aku dibawa melihat berbagai keadaan saat kematian: kepedihan, kemudahan, dan kematian yang sangat membahagiakan. Nabi SAW mengatakan, “Engkau termasuk orang yang meninggal dengan keadaan bahagia.” Aku menikmati kematian itu, karena hal itu membuatku memahami ayat Quran, ‘Kami adalah milik Allah SWT, dan pada-Nya kami kembali‘ [2:156].

Penglihatan itu berlanjut sampai aku mengalami saat rohku sampai pada napas terakhir. Aku melihat malaikat maut datang dan mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan. Segala macam penglihatan bagi orang yang sedang sekarat aku alami, namun aku masih dalam keadaan hidup, sehingga aku dapat memahami rahasia segala tingkatan itu.

Aku melihat rohku memandang ke bawah pada jasadku, dan Nabi SAW mengatakan padaku, “Kemarilah!” Aku menemani Nabi SAW dalam sebuah penglihatan akan ketujuh surga. Aku melihat apa pun yang Nabi SAW inginkan aku melihatnya di dalam tujuh surga-surga itu. Beliau mengangkatku pada maqam kebenaran di mana aku melihat nabi-nabi, semua awliya, seluruh syuhada, dan kaum yang lurus imannya.

Beliau mengatakan, “Oh anakku, sekarang aku akan membawamu melihat siksaan-siksaan neraka.“ Di sana aku melihat semua yang Nabi SAW pernah sebutkan dalam hadis-hadis dan sabda beliau tentang siksaan-siksaan neraka. Aku pun berkata, “Wahai Nabi SAW, engkaulah yang dikirim sebagai wasilah bagi umat manusia, adakah cara agar mereka dapat terselamatkan?”

Beliau menjawab, “Anakku, dengan syafaatku mereka dapat terselamatkan. Aku menunjukkan padamu, takdir dari kaum yang aku tidak mempunyai kekuatan untuk campur tangan atas mereka.”

Nabi SAW berkata, “Anakku, kini aku kembalikan kamu ke dunia dan ke dalam tubuhmu.” Begitu Nabi SAW mengatakan hal itu, aku melihat ke bawah di mana terlihat tubuhku telah membengkak. Aku pun berkata pada Nabi SAW, “Wahai Nabi Allah SAW, lebih baik aku di sini bersamamu. Aku tidak mau kembali. Aku bahagia bersamamu dalam Hadirat Ilahi. Lihatlah dunia itu. Aku sudah pernah di sana dan sekarang aku telah meninggalkannya. Mengapa harus kembali? Lihat, tubuhku sudah membengkak.” Nabi SAW menjawab, “Oh anakku, engkau harus kembali. Itulah tugasmu.”

Atas perintah Nabi SAW, aku kembali pada tubuhku, meskipun aku tidak menginginkannya. Aku melihat peluru telah menyatu dalam daging, dan pendarahan telah berhenti. Begitu aku memasuki tubuhku dengan lembut, penglihatan itu pun berakhir. Aku melihat para dokter di medan peperangan sedang mencari mereka yang masih hidup di antara yang telah gugur. Salah seorang berteriak, “Yang itu masih hidup!” Aku terlalu lemah untuk bergerak atau pun berbicara, sampai aku menyadari bahwa tubuhku telah tergeletak di sana selama 7 hari. Mereka membawa dan merawatku, sampai kesehatanku pulih.

Mereka mengembalikanku pada pamanku. Begitu aku bertemu, beliau mengatakan, “Oh anakku, apakah kamu menikmati kunjunganmu?” Aku tidak menjawab “Ya” ataupun “Tidak” karena aku tidak tahu yang mana yang dimaksud pamanku, kunjungan kemiliteran atau kunjungan bersama Nabi SAW. Kembali beliau bertanya, “Oh anakku, apakah kamu menikmati kunjunganmu bersama Nabi SAW?“ Aku pun sadar bahwa beliau mengetahui segala hal yang telah terjadi padaku. Aku pun langsung menghampirinya dan mencium tangan beliau sambil berkata, “Oh Syekhku, aku harus mengakui bahwa aku tidak ingin kembali. Namun Nabi SAW mengatakan bahwa itulah tugasku.”

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *