Surat Wasiat Syekh Syarafuddin QS

Pada hari-hari akhir beliau, Syekh Syarafuddin QS menulis surat wasiatnya dan memberikannya pada Syekh `Abdullah QS. Saat itu beliau meramalkan, “Sepeninggalku, sebuah kesempatan akan datang padamu untuk meninggalkan Turki. Ambillah kesempatan itu, karena tugasmu bukan di sini, tetapi di luar Turki.”

Syekh `Abdullah QS mempunyai dua orang putri dari istrinya yang bernama Halima. Yang tertua bernama Rabia dan adiknya bernama Madiha. Sembilan anak beliau yang lain tidak mampu bertahan hidup. Begitu Syekh Syarafuddin QS wafat, sebuah utusan Raja Faruq dari Mesir mendatangi beliau untuk berbela sungkawa karena Syekh Syarafuddin QS mempunyai banyak pengikut dari Mesir. Salah satu pangeran yang ikut dalam delegasi itu tertarik pada putri Syekh `Abdullah QS, Madiha, dan ingin mempersuntingnya.

Syekh `Abdullah QS sadar akan kesempatan untuk meninggalkan Turki yang pernah dikatakan Syekhnya. Beliau langsung menerima lamaran itu, dan tanpa ada keluhan dari putrinya, pernikahan pun terjadi dengan cepat. Tidak beberapa lama ketika Syekh `Abdullah QS menerima undangan menantunya untuk datang ke Mesir, beliau mengatakan,

Aku pergi ke Mesir dan tinggal bersama putriku. Hubungan antara putriku dengan suaminya tidak begitu baik. Tak beberapa lama pernikahan itu pun berakhir pada perceraian. Aku melaksanakan nasihat Syekhku untuk mengambil kesempatan itu. Aku naik kapal bersama putri-putriku dan istriku di Alexandria dan berlayar menuju Latakia. Aku pergi ke Aleppo, di mana kami mendarat hanya dengan uang 10 piastres (10 sen) dalam saku dan tidak ada perbekalan sama sekali. Kami menuju masjid untuk Salat Maghrib. Di sana ada seorang laki-laki mendekati kami dan mengatakan padaku, “Oh Syekhku, jadilah tamuku.” Dia membawa kami ke rumahnya. Aku menganggap bahwa ini adalah salah satu karamah Syekhku, di mana Tuhan membukakan sebuah pintu bagi kami, dari Turki menuju Mesir sampai ke Aleppo.

Syekh `Abdullah QS tinggal sementara waktu di Aleppo, di mana masyarakatnya sangat menghormatinya. Para ulama berdatangan dan mendengarkan beliau, mereka kagum akan ceramah dan pengetahuan beliau. Mereka menyebutnya sebagai penyegar agama. Beliau kemudian pindah ke Homs untuk waktu yang amat singkat, di mana beliau mengunjungi masjid dan makam sahabat Nabi SAW, Khalid bin Walid RA. Kemudian pindah lagi ke Damaskus, di daerah Maidan, dekat dengan makam Saad ad-Din Jibawi QS, seorang awliya dari keluarga Nabi SAW. Kemudian beliau mendirikan Zawiya pertamanya, sebagai cabang dari Tarekat Naqsybandi yang telah hilang dari Damaskus di bawah Syekh Khalid QS menuju Daghestan dengan Syekh Ismail QS sebagai khalifahnya, sekarang dikembalikan lagi ke Damaskus. Dua putri Syekh `Abdullah QS telah menikah. Rabi’a mempunyai empat anak, tiga perempuan dan satu laki-laki. Madiha menikah dengan Syekh Tawfiq al-Hibri, salah satu ulama besar di Lebanon.

Dalam waktu singkat banyak orang memenuhi Zawiya Syekh `Abdullah QS. Mereka datang dari berbagai kota: para sufi, orang-orang pemerintahan, pedagang dan masyarakat umum. Murid-murid berdatangan setiap hari untuk duduk di depan pintu khaniqah. Setiap hari, makanan disediakan bagi ratusan, bahkan banyak yang menginap di sana.

Kemudian datang perintah spiritual untuk pindah ke Jabal Qasiyun. Tempat tertinggi di Damaskus, di mana dari atas seluruh kota dapat terlihat. Dengan bantuan dua khalifah senior beliau yaitu Syekh Muhammad Nazim Adil QS dan Syekh Husein `Ali QS beliau membangun sebuah rumah. Rumah dan masjid itu masih berdiri di sana, dan masjid itu adalah juga tempat makam beliau. Beliau melihat sebuah penglihatan, di mana ketika membangun masjid itu, Nabi SAW berserta Abu Bakar ash-Shiddiq RA, `Ali RA, Syah Naqsyband QS dan Ahmad al-Faruqi QS datang dan meletakkan tanda akan bentuk dan lokasi dinding-dinding masjid. Begitu penglihatan itu berakhir, tanda-tanda itu terlihat dan banyak yang hadir bisa melihatnya. Bertahun-tahun kemudian, ratusan dari ribuan pengunjung diterima untuk pengobatan, salat, praktik-praktik ibadah dan untuk belajar segala macam pengetahuan syariat dan rohaniah.

Sering kali Syekh `Abdullah QS diperintahkan Nabi SAW untuk melaksanakan khalwat-khalwat. Waktunya bervariasi antara 40 hari sampai setahun. Dua puluh khalwat telah dilaksanakan sepanjang hidup beliau. Beberapa khalwat dilaksanakan di Damaskus, Jordan, Baghdad di makam Syekh `Abdul Qadir Jailani QS, dan sisanya di Madinah. Di setiap khalwat, kekuatan spiritual dan maqam beliau pun meningkat.

Suatu hari Syekh `Abdullah QS mengirim pesan lewat Syekh Nazim QS untuk Syarif `Abdullah, raja Yordania waktu itu. Raja itu adalah salah satu murid Syekh. Pesan beliau, “Jangan salat berjamaah khususnya pada hari Jumat, karena aku mendapat penglihatan, bahwa kamu akan terbunuh.” Namun Raja itu tidak menggubris peringatan itu, dan seminggu kemudian beliau tewas ketika berangkat menuju Salat Jumat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang sepupu kami mendapat kecelakaan karena tembakan di Beirut. Dia dibawa untuk dioperasi. Kami pergi pada Grandsyekh `Abdullah QS karena khawatir akan keadaannya. Baru saja kami sampai untuk memberitahu, ternyata beliau sudah berteriak, “Kembalilah! Sudah tertulis bahwa dia akan meninggal, namun dengan doa-doaku dia akan hidup. Operasi yang dilakukan akan berhasil.” Ketika kami kembali, sepupu kami sudah dalam keadaan koma dan mereka membawanya menuju ruang operasi. Kami memberi tahu ibunya tentang apa yang Syekh `Abdullah QS katakan untuk memberi beliau harapan. Esoknya, sepupu kami telah siuman. Dia mengatakan, “Aku melihat Grandsyekh datang dan mengoperasiku. Itulah yang menyelamatkan aku.”

Syekh `Abdullah QS sering berbicara tentang kejadian yang akan datang. Beliau mengatakan,

Telah diketahui bahwa ada dua macam takdir. Yang pertama adalah takdir yang termasuk “tergantung” atau takdir yang bisa berubah. Hal itu sudah tertulis di Loh Mahfuz. Hal ini akan tergantung akan kemauan dan perbuatan, sebab dan akibat. Semua awliya bisa mengubah takdir semacam ini bagi murid-muridnya untuk melatih mereka dan mempengaruhi takdirnya dengan mengubah kelakuan dan kebiasaan mereka. Wewenang untuk mengubah takdir yang bisa berubah ini diberikan pada Syekh bagi murid-murid beliau karena ada hubungan keduanya dalam Kehendak Ilahi.

Takdir yang kedua telah tertulis dalam Kitab Induk, sebagaimana ayat: Allah SWT hapuskan apa yang Dia kehendaki dan di Sisi-Nya Ummul Kitab [13:39], dan ini disebut Takdir yang tetap. Para awliya tidak pernah mencampuri takdir yang tetap itu, di mana ada dalam Tangan Tuhan.

Tuhan memberi wewenang untuk mengubah takdir mutlak ini kepada 9 awliya yang mempunyai posisi tertinggi dalam Hadirat Ilahi, dengan izin Nabi SAW di mana beliau yang pertama mendapatkan kekuatan itu dari Tuhan. Mereka mengontrol 9 titik kesadaran manusia yang berhubungan dengan maqam-maqam berbeda dalam pendakian seseorang dalam perjalanannya menuju Hadirat Ilahi. Tuhan menganugerahkan hal ini pada kesembilan awliya yang tidak pernah berubah dari zaman Nabi SAW sampai sekarang, kekuatan untuk menggunakan sultan adz-dzikir.

Setiap orang tahu bahwa zikir utama adalah pengulangan dari La ilaha ill-Allah SWT dan dipraktikkan oleh semua tarekat, termasuk Naqsybandi. Namun sultan adz-dzikir adalah sebuah zikir yang sangat berbeda.

Tuhan mengatakan, sesungguhnya Kami yang menurunkan zikir dan sesungguhnya Kami memeliharanya [15:9]. Zikir yang dimaksud di sini adalah kitab suci al-Quran. Zikir kesembilan wali ini di samping La ilaha ill-Allah SWT, adalah juga membaca rahasia dari al-Quran. Mereka membaca al-Quran, bukan seperti kita membacanya dari awal sampai akhir, namun mereka membacanya beserta seluruh rahasia-rahasia dan kebenaran di dalamnya karena Tuhan berfirman, tidak ada yang basah dan kering kecuali sudah tertulis dalam sebuah catatan yang jelas [6:59]. Tidak ada satu pun ciptaan Tuhan di jagad-jagad ini yang tidak tercantum dengan segala rahasia mereka dalam Kitab Yang Jelas, Quran.

Awliya membaca Quran dalam sultan adz-dzikir sambil membaca rahasia-rahasia setiap ciptaan, dari awal sampai akhir. Tuhan memberikan setiap huruf Quran, menurut sembilan wali tertinggi Tarekat Naqsybandi (inilah pertama kalinya Syekh membuka rahasia ini), dengan dua belas ribu pengetahuan. Quran berisi sekitar 600.000 huruf, jadi setiap huruf para awliya ini mampu mengambil 12.000 pengetahuan!

Setiap awliya berbeda menurut tingkatan masing-masing. Kita bisa melihat salah satunya, sebagai contah ada yang mampu membaca Quran dengan kekuatan sultan adz-dzikir yang menyerap 12.000 makna dalam setiap huruf, sekali dalam hidupnya. Yang lain mampu melakukannya tiga kali sepanjang hidupnya. Yang ketiga mampu melaksanakan sembilan kali seumur hidupnya. Dan yang lain mampu melakukannya 99 kali dalam hidupnya.

Rahasia ini berbeda dari satu awliya dengan awliya lain. Syah Naqsyband QS mampu melakukannya 999 kali sepanjang hidup beliau. Ahmad al-Faruqi mampu membacanya 9.999 kali. Dan Syekh Syarafuddin QS mampu membacanya dalam 19.999 kali sepanjang hidup beliau.

Di sini Syekh `Abdullah QS berhenti. Namun Syekh Nazim QS mengatakan, ”Dalam setiap napas, Grandsyekh `Abdullah Daghestani QS mengeluarkan napas dengan sultan adz-dzikir dan mengambil napas dengan sultan adz-dzikir. Beliau sering menamatkan Quran dua kali dalam setiap napas.“

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *