Sebuah Perjumpaan dengan John Bennett

Di antara banyak pengunjung dan pencari di pintu Grandsyekh ada seorang warga Inggris bernama John G. Bennett. Dalam berbagai bukunya, ia menceritakan tentang pertemuannya dengan Grandsyekh `Abdullah QS. Di bawah ini adalah bagian dari perkataannya yang dikumpulkan dari buku Concerning Subud dan Witness.

Bennet menulis dalam buku itu, ”Syekh `Abdullah QS adalah seorang awliya sejati di mana seseorang bisa segera merasakan kepercayaan penuh bersamanya.“ Selanjutnya dalam Witness dia mengatakan:

Syekh menungguku di atas atap rumah beliau. Rumah itu terletak di atas kota dengan panorama yang luar biasa indah… Aku merasa tenang dari awal, kemudian dalam waktu singkat sebuah kebahagiaan mengisi tempat itu. Aku sadar bahwa aku sedang berada dalam hadirat seorang pria yang sangat baik.

Setelah mengucapkan salam seperti biasa dan pujian terhadap bahasa Turkiku, beliau dengan heran bertanya, “Mengapa engkau tidak membawa saudara perempuan yang bersamamu? Aku punya sebuah pesan untukmu dan juga untuknya.” Kelihatannya tidak seorang pun yang pernah mengatakan tentang saudariku, Elizabeth pada beliau. Kami langsung menuju rumah beliau, dan Dadji pemanduku telah pergi meninggalkanku di pintu tanpa berbicara pada siapa pun. Aku pun menjawabnya, karena mengira beliau adalah seorang muslim maka tidak berkenan bertemu dengan seorang wanita. Beliau berkata dengan sederhana, “Mengapa tidak? Aturan dan adat adalah untuk perlindungan bagi orang-orang tolol; aku tidak berkaitan dengannya. Lain kali, kalau Anda lewat Damaskus bisakah Anda membawanya ke sini?” Aku berjanji bila ada kesempatan.

Kami duduk terdiam untuk beberapa saat, mengamati kota kuno di bawahnya. Ketika beliau mulai berbicara, aku merasa susah untuk terbangun dari lamunanku. Beliau mengatakan, “Aku sedang menanti seseorang datang hari ini, namun aku tidak tahu kalau itu Anda. Beberapa malam yang lalu satu malaikat datang ke kamarku, memberitahukan kalau Anda akan datang berkunjung dan menitipkan 3 pesan. Anda telah memohon petunjuk Tuhan berkaitan dengan istri Anda. Istri Anda dalam penjagaan Tuhan. Anda telah mencoba menolongnya, namun itu hal yang salah. Anda mengganggu pekerjaan yang sedang Tuhan lakukan dalam rohnya. Tidak ada gunanya khawatir akan dia, dan tidak ada gunanya untuk mencoba mengerti. Pesan kedua adalah tentang rumah Anda. Anda memohon pada Tuhan untuk mengikuti kata hati atau mengikuti orang lain. Anda harus percaya pada diri sendiri. Anda akan dianiaya oleh orang Armenia, tetapi janganlah takut. Anda telah menarik banyak orang untuk mengikuti Anda, Anda jangan ragu-ragu bila yang lain marah.”

Beliau kembali diam. Aku kagum dengan 2 pertanyaan, yang memang benar aku telah berdoa agar diberikan petunjuk hanya atas dua pertanyaan itu. Pesan yang terpenting adalah yang terakhir. “Anda harus tahu bahwa ada kejahatan besar dalam dunia ini. Manusia akan menyerahkan diri pada pemujaan materi. Mereka telah kehilangan kemauan dan kekuatan untuk memuja Tuhan. Tuhan telah mengirimkan utusan-utusan untuk menunjukkan jalan keluar dari situasi semacam itu, dan kembali Dia telah melakukannya lagi pada zaman sekarang. Seorang utusan telah ada di bumi, identitasnya telah banyak diketahui. Sebelumnya dia akan datang menuju barat. Para pria telah dipilih untuk mempersiapkan jalan beliau… dan telah ditunjukkan padaku bahwa Anda adalah salah satunya… Utusan itu akan datang ke negaramu dan bahkan ke rumahmu…”

“Jangan pernah Anda berhenti beribadah pada Tuhan, tetapi jangan perlihatkan. Di luar bersikaplah seperti yang lain. Tuhan telah menunjuk 2 malaikat untuk menjagamu. Yang satu akan membimbing dan mengarahkanmu sehingga Anda tidak membuat kesalahan seperti dulu lagi. Dan satunya lagi akan melakukan kewajiban ibadah yang tidak dapat Anda lakukan. Aku sarankan agar sering-sering mengucapkan La ilaha ill-Allah, yang artinya tunduk hanya pada Allah SWT semata.”

Ketika aku mengatakan bahwa ini adalah pengakuan keimanan bagi muslim, beliau menjawab bahwa Kristen dan Islam sama, dasar dari semua agama adalah bahwa manusia tidak seharusnya mengikuti kehendak diri sendiri, namun Kehendak Tuhan.

Ketika Beliau Meninggalkan Kehidupan ini

Kami mengamati berbagai peristiwa luar biasa dengan Grandsyekh kami. Kehidupan beliau penuh dengan kegiatan yang bermanfaat. Beliau selalu tersenyum dan tak pernah marah. Beliau tidak mempunyai penghasilan, namun makanan berlimpah di dalam rumahnya. Bagaimana beliau menunjang hidupnya, pertanyaan itulah yang ada di setiap pikiran orang. Masyarakat yang berdatangan tanpa diundang mencapai 200 orang, namun selalu saja mereka mendapatkan makanan telah tersedia bagi mereka. Kami selalu heran, “Darimana asal nasi, roti dan daging ini?”

Aku jarang melihat Syekh `Abdullah QS tidur di malam hari. Sepanjang siang, beliau selalu menerima tamu-tamu dan malamnya duduk di ruang pribadinya membaca Quran, Dalail al-Khayrat, mengamalkan zikir pribadinya dan berselawat Nabi SAW. Beliau beribadah setelah tengah malam sampai pagi hari. Beliau membantu kaum yang membutuhkan semampu beliau dan memberi perlindungan bagi mereka yang tidak punya rumah dalam masjidnya. Beliau penuh rasa kemanusiaan. Lidah ini rasanya tidak mampu menjelaskan perbuatan-perbuatan dan sifat-sifat baik beliau.

Suatu hari pada tahun 1973 beliau mengatakan, “Nabi SAW memanggilku. Aku harus pergi dan menjumpai beliau. Beliau mengatakan, ‘Engkau akan datang padaku setelah menjalani operasi mata,’” dan memang mata kiri beliau tidak begitu baik. Beliau sudah memberi tanda pada kami bahwa beliau akan meninggalkan kami, namun kami tidak mampu menangkapnya. Beliau hidup di dalam kami dan hidup dalam setiap orang yang pernah mengenalnya, bahkan kucing-kucing yang selalu berada di sekitar beliau.

Setelah beliau pergi untuk operasi mata, beliau tidak mau makan. Kami memohon beliau untuk makan, namun beliau menolaknya dengan mengatakan, “Aku sedang berada dalam khalwat penuh, karena Nabi SAW sedang memanggilku.” Beliau hanya berkenan menerima roti kering yang dilembutkan dalam air, sekali sehari. Beliau berkata, “Aku tak mau hidup lebih lama lagi. Aku ingin bergabung dengan Nabiku SAW dan bersama beliau. Beliau sedang memanggilku, Tuhan sedang memanggilku.” Hal ini seperti hantaman kilat bagi kami, namun kami tidak mempercayainya. Beliau kemudian menulis sebuah wasiat yang menyatakan, “Hari Minggu yang akan datang aku akan wafat.“ Berarti tanggal 30 September 1973 atau tanggal 4 Ramadan 1393 H. Semua orang terpukul dan takut menghadapi hari itu apakah ramalan beliau akan terjadi.

Saat itu pukul sepuluh, hari Minggu, tepat di saat yang beliau ramalkan, kami semua duduk di kamar beliau. Syekh `Abdullah QS berkata padaku, ”Rasakan detak jantungku.” Aku pun memeriksanya dan hasilnya lebih dari 150. Lalu beliau mengatakan, “Oh anakku, ini adalah detik-detik terakhir hidupku. Aku ingin sendirian. Semua harus pergi ke ruang rapat.” Hanya tersisa 10 orang dalam kamarnya. Dua orang dokter datang, satu adalah kakakku dan satunya teman kami. Mereka berdua adalah ahli bedah. Grandsyekh tidak ingin yang lain kecuali saudara beliau yang ada dalam kamarnya.

Kami mendengar putri Grandsyekh menjerit, “Ayahku telah wafat, ayahku telah wafat.” Kami berlarian menuju kamar beliau dan melihat Grandsyekh sudah tidak bergerak lagi. Dengan cepat kakakku memeriksa detak jantung dan tekanan darahnya, namun tidak lagi terdeteksi. Dia berlari dengan histeris menuju mobil untuk mengambil sebuah alat penyemprot dan obat, lalu kembali lagi. Dia masuk lagi dengan sikap yang sama, ingin menyuntik Syekh di dadanya dan kembali memompanya. Dokter yang lain mengatakan, “Apa yang kamu lakukan? Syekh sudah meninggal 7 menit yang lalu. Hentikan ketololanmu.” Namun kakakku tetap bersikeras melakukannya.

Dan kemudian Grandsyekh membuka mata beliau, mengangkat tangan dan berkata dalam bahasa Turki, “Burak!” yang berati “Hentikan!”

Setiap orang terkejut. Tidak pernah sebelumnya mereka mendengar mayat bisa berbicara. Aku tidak akan melupakan hal ini sepanjang hidupku. Semua yang hadir, para profesor dan dokter pun tak pernah melupakannya. Setelah itu baru kakakku meletakkan peralatannya kembali. Kami hanya berdiri dalam keadaan takjub. Beliau sudah meninggal atau belum? Apakah beliau hanya menyembunyikan diri sementara untuk kemudian kembali lagi? Itulah rahasia yang Tuhan anugerahkan pada kekasih-kekasihnya dan para awliya yang bepergian dalam Kerajaan-Nya, dalam Cinta-Nya, di dalam Rahasia-Rahasia-Nya. Suatu hari yang tak terlupakan.

Berita duka cita itu tersebar laksana tornado yang dahsyat, berputar melalui Damaskus, Aleppo, Jordan, Beirut. Pelayat datang dari berbagai penjuru untuk melihat beliau terakhir kalinya. Kami memandikannya, dan dari jasad sucinya tercium wangi. Kami menyiapkan beliau dalam salat janazah dan pemakaman keesokan harinya. Seluruh ulama Damaskus hadir dalam pemakaman itu. 400 ribu orang turut dalam salat jenazah untuk beliau. Penduduk berbaris di sepanjang rumah sampai masjid Ibnu Arabi, di mana beliau dibaringkan.

Ketika kami kembali ke rumah beliau setelah salat jenazah, kami melihat peti mati meluncur di antara kepala-kepala para pelayat tanpa ada bantuan siapa pun, bergerak dari masjid beliau menuju pemakaman. Butuh waktu 3 jam untuk kembali dari masjid Muhyiddin Ibnu Arabi QS menuju masjid Grandsyekh, padahal biasanya hanya ditempuh dalam waktu 20 menit disebabkan besarnya kerumunan para pelayat di jalanan.

Semua orang menangis, mereka tidak menginginkan Grandsyekh dikubur. Tidak seorang pun yang mempercayainya dan mau menerimanya. Hal itu cukup membuat kami mengingat keadaan para Sahabat ketika ditinggalkan oleh Nabi SAW. Kami memahami mengapa Umar RA, Utsman RA, dan `Ali KW tidak mampu menerima ketika Nabi SAW telah meninggal dunia. Kami mengalami keadaan itu, dan kami membayangkan bagaimana bisa Abu Bakar RA menanggung perasaan itu.

Semua pejabat pemerintahan dan para ulama datang ke masjid menunggu pemakaman beliau. Tiba-tiba tidak tahu asalnya sebuah pesan disampaikan pada imam yang mengatakan bahwa, “Jangan mengubur Grandsyekh sampai Syekh Nazim QS tiba.” Tak seorang pun percaya akan pesan itu, karena tidak ada cara untuk mengontak Syekh Nazim QS yang sedang berada di Siprus. Tidak ada telepon, mesin faks, ataupun telegram yang memakan waktu 2 hari. Tidak ada yang percaya bahwa pesan itu adalah nyata. Namun karena cinta kami pada Syekh, kami bahagia untuk menunda pemakaman itu dan menunggu sampai Syekh Nazim QS datang.

Saat itu adalah Ramadan, semua orang berpuasa. Para ulama dan kerumunan tidaklah surut. Ada yang ingin pulang, kami mengatakan bahwa mereka bebas untuk kembali, namun kami tetap akan menunggu. Setelah beberapa waktu menunggu, dan hanya pengikut beliau yang paling setia yang masih tersisa. Sebelum matahari terbenam, Syekh Nazim QS menaiki tangga. Bagaimana beliau tiba dengan tiba-tiba tidak seorang pun tahu. Masih menjadi misteri sampai saat ini.

Syekh Nazim QS membawa jasad Grandsyekh ke masjid dan kembali melakukan salat untuk beliau. Syekh Nazim QS menguburkan jasad Syekh `Abdullah QS dengan tangan beliau sendiri. Ketika beliau mengusap debu di wajahnya, kami mencium wangi cendana, amber, musk yang tidak biasa kami cium sebelumnya. Syekh Nazim QS meminta kami semua untuk naik dan berbuka puasa. Hanya aku dan kakakku yang tetap tinggal, melihat dari jendela untuk melihat apa yang terjadi.

Syekh Nazim QS berdiri di pusara makam, seperti sedang salat. Dan hanya dengan kedipan mata, Syekh Nazim QS menghilang. Peristiwa ini semakin memberi kami kejutan setelah berbagai kejutan yang terjadi. Tak ada kata yang mampu kami ucapkan. Lima belas menit lewat dan tiba-tiba kami melihat Syekh Nazim QS muncul kembali di tempat beliau menghilang. Kami berlari ke pintu begitu Syekh Nazim QS keluar. Beliau berkata, “Apa! Kalian masih di sini? Belum berbuka puasa? Baiklah, lebih baik temani aku!” Kami pun turun dan berbuka puasa bersama beliau. Syekh Nazim QS kembali ke Beirut malam itu juga, dan naik pesawat menuju Siprus.

Ramalan Syekh `Abdullah QS

Grandsyekh `Abdullah ad-Daghestani QS, naqib al-ummah, semoga Tuhan memberkahi rohnya, meramalkan berbagai peristiwa, yang mana ada yang telah terjadi dan beberapa masih kita tunggu.

Pada tahun 1966, beliau mengatakan, ”Tahun depan ada suatu perang antara Israel dan Arab. Arab akan kalah.“ Dan beliau berkata bahwa akan ada perang lagi antara keduanya. Sebelum beliau meninggal beliau mengatakan, “Akan ada sebuah perang besar dalam satu bulan ini antara Arab dan Israel.” Pada tanggal 3 Oktober, 3 hari sepeninggal beliau, Arab dan Israel memasuki peperangan lagi.

Suatu saat Madiha, putri Grandsyekh berpikir untuk membeli rumah dengan suaminya di Beirut dan Grandsyekh mengatakan, ”Jangan!” Dia memaksa dan ayahnya tetap mengatakan, ”Jangan!” Madiha tetap menginginkannya dan ayahnya tetap bersikukuh sambil mengatakan, “Beirut akan penuh pertumpahan darah. Setiap rumah akan terkena imbas pertumpahan darah itu dan tidak akan ada yang bisa melarikan diri.“ Beliau mengatakan hal ini pada tahun 1972 dan peristiwa itu terjadi pada 1975. Sebelum wafat, beliau mengatakan pada kami, ”Aku melihat kalian di Tripoli, di utara Lebanon.” Inilah cara untuk menyarankan kami agar pindah dari Beirut.

Beliau mengatakan, “Aku melihat Inggris memasuki Islam.” Beliau meramalkan bahwa keluarga kerajaan di Eropa akan mendukung Islam, karena mereka masih mempunyai darah keturunan Arab.“ Hal ini akan menarik mereka menuju spiritualitas dan menimbulkan berbagai jenis aliran spiritual, dan menarik mereka menuju Hadirat Tuhan.”

Grandsyekh `Abdullah ad-Daghestani QS dalam usia lebih dari 85 tahun.

Pada masalah yang berhubungan dengan hal itu, beliau mengatakan, “Ketika John Benett mengunjungiku dan bersaksi bahwa Tuhan adalah satu dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya, dia menanyakan apa yang harus dia lakukan. Aku katakan padanya untuk merahasiakan kesaksian itu. Karena itu dia mampu membawa banyak orang dari tanah asalnya, Inggris untuk membawa kesaksian itu dan membuat mereka tertarik akan spiritualitas.“

Cina di bawah wewenang seorang awliya besar, yang akan menjadi salah satu awliya-awliya di zaman Imam Mahdi AS dan Yesus AS. Nama beliau adalah Abdur Rauf al-Yamani QS. Melalui pengaruh beliau, Cina akan menandatangani kesepakatan dengan Barat untuk tidak menggunakan senjata nuklirnya. Cina akan terpecah menjadi berbagai negara kecil. Akan ada berbagai masalah di Timur Jauh, di Kepulauan Korea, dan sebuah kekuatan besar akan campur tangan untuk meredakannya.

Sebuah negara non Arab di Timur Tengah akan menyerang wilayah teluk Persi, di mana hal itu akan menyebabkan seluruh dunia dalam ketakutan dan sumber minyak akan di tutup.

Beliau katakan, ”Kairo akan tenggelam di bawah laut.” Beberapa waktu kemudian Rusia membangun bendungan Aswan, yang berisi air yang berjumlah besar dan baru-baru ini ditemukan tiang fondasinya yang longsor. Beliau menerangkan,

Siprus akan tenggelam di bawah air, dan gunung Olympus dekat Bursa akan meletus. Di bawahnya ada dua elemen, gas dan api yang sampai sekarang masih terpisah, dan para awliya selalu berdoa agar kedua elemen ini tidak tercampur. Dari letusannya, ratusan dari ribuan orang yang ada akan terluka dan menjadi tuna wisma.

Akan ada perang di wilayah Teluk, di mana sebuah kebakaran/ledakan besar akan muncul dan mengikutsertakan seluruh dunia.

Jerman dan Inggris akan memimpin seluruh Eropa. Di Jerman ada seorang awliya, ditunjuk oleh Mahdi AS dan Yesus AS, yang tugasnya mengangkat dan melatih masyarakat dalam spiritualitas. Awliya ini tersembunyi namun dia ada di antara mereka.

Akan ada sebuah perubahan besar dalam pendekatan Arab di bidang politik, dan satu rezim yang kuat akan merubah Arab menjadi pemerintahan yang lebih baik.

Sebelum beliau meninggal, dalam sebuah pertemuan dengan murid-murid terdekat beliau, Syekh `Abdullah QS mengatakan,

Akan ada perdamaian, dan Amerika akan menjadi pemimpin pembicaraan mengenai perdamaian, hal itu akan menghentikan peperangan antara Arab dan Israel. Tandanya adalah runtuhnya Komunis dan perpecahan kerajaan Rusia menjadi berbagai bagian. Tidak ada kekuatan di dunia, kecuali Amerika. Sebagian besar pemerintahan Arab akan berpihak ke Amerika. Konflik akan terhenti dan Arab-Israel akan hidup damai. Lambat laun seluruh konflik di bumi akan berakhir dan kedamaian di mana-mana. Semua orang bahagia dan tidak pernah mengharap perang akan terjadi lagi.

Tiba-tiba, di tengah-tengah kedamaian, sebuah serangan terjadi di Turki oleh negara tetangganya dan sebuah perang akan mulai lagi, diikuti oleh sebuah invasi ke Turki oleh negara tetangganya itu. Ini membuat ancaman bagi Amerika yang berbasis di Turki dan mengakibatkan sebuah perang besar terjadi. Berakibat adanya kerusakan besar di muka bumi dan sebuah perang mengerikan. Selama perang itu, Mahdi AS akan maju dan Yesus AS akan kembali. Tujuan beliau adalah membawa spiritualitas, kedamaian dan keadilan untuk melawan tirani, ketakutan dan ancaman. Cinta dan kebahagiaan serta perdamaian akan mengisi bumi ini, dengan kekuatan Mahdi AS dan Yesus AS atas Kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

Rahasia Rantai Emas telah diberikan pada matahari dari berbagai matahari, pemimpin yang membawanya mendekat, penemu rahasia-rahasia, yaitu Syekh Muhammad Nazim Adil al-Qubrusi ar-Rabbani an-Naqsybandi al-Haqqani QS.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *