Ulama’ terdahulu sudah banyak yang menjelaskan bahwa tarekat merupakan bagian dari Tasawuf dan oleh karenanya, ajaran tarekat sah selama mempunyai sanad yang bersambung pada Rasulullah. Inti ajaran tarekat adalah berzikir dan mengingat Allah dengan beragam cara atau kaifiyah yang telah ditetapkan oleh para guru tarekat tersebut.

Dalam Tarekat Naqsyabandiyah, misalnya, dianjurkan membaca lafdzul jalalah yaitu Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

فإذا قضيتم الصلوة فاذكروا الله قياما و قعودا و على جنوبكم (النساء: ١٠٣)

“Apabila kamu telah selesai mengerjakan sembahyang maka ingatlah Tuhan di waktu berdiri, di waktu duduk dan ketika berbaring.” (an-Nisa’: 103)

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا (الأحزاب: ٤١)

“Hai orang yang beriman ! Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya.” (al-Ahzab: 41)

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سبق المفردون، قالوا: و ما المفردون يا رسول الله ؟ قال: الذاكرون الله كثيرا و الذاكرات. (رواه مسلم)

“Terdahulu (masuk surga) orang-orang mujarridun. Sahabat bertanya: Siapakah mujarridun itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: Orang-orang yang banyak dzikir pada Allah, laki-laki atau wanita.” (Riwayat Imam Muslim).

Beliau juga bersabda:

لا يقعد قوم يذكرون الله إلا حفتهم الملائكة و غشيتهم الرحمة و نزلت عليهم السكينة و ذكر الله تعالى فيمن عنده. (رواه مسلم)

“Tidaklah orang-orang yang duduk berkumpul berdzikir pada Allah kecuali Malaikat memeluk mereka, rahmat Allah menutupi mereka dan turunlah sakinah pada mereka serta Allah juga mengingat mereka. (Riwayat Imam Muslim).

Tentu saja, para guru tarekat mendasarkan amaliah tarekatnya pada dalil naqli tersebut, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh pimpinan para sufi, Imam Junaid al-Baghdadi bahwa:

علمنا هذا مقيد بالكتاب والسنة

“Ilmu (Tasawuf) kami ini berasaskan al-Qur’an dan as-Sunnah.”

Mereka, para guru tarekat, sebelum mengajarkan dan mengamalkan tarekat sudah mendalami ilmu syariat serta ditunjang oleh ilmu alat yang lengkap.

Dengan demikian, klaim barisan anti Tasawuf bahwa amaliah tarekat haram hanya subyektif belaka serta mengikuti hawa nafsunya saja tanpa mendasarinya dengan argumentasi yang kuat.

Ket. Foto: Makam Syaikh Abdul Hamid alias Kiai Krepek quddisa sirruh.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *