Pasal Tawadhu’ Kanjeng Nabi Muhammad SAW, hadits riwayat Sayyidina Hasan RA (3-Habis)

Lanjutan..

قال : فسألته عن مجلسه ؟ قال : كان رسول الله ﷺ لا يقوم ولا يجلس إلا على ذكر وإذا انتهى إلى قوم جلس حيث ينتهى به المجلس، ويأمر بذالك، يعطى كل جلسائه بنصيبه، لا يحسب جليسهأن أحدا أكرم عليه منه. من جالسه أو فاوضه في حاجة صابره حتى يكون هو المنصرف عنه، ومن سأله حاجةلم يرده إلابها أو بميسور من القول، قد وسع الناس بسطه وخلقه فصار لهم أبا وصاروا عنده فى الحق سواء. مجلسه مجلس علم وحلم وحياء وأمانة وصبر. لا ترفع فيه الأصوات ولا تؤبن فيه الحرم ولا تنثى فلتاته متعادلين، بل كانوا يتفاضلون فيه بالتقوى متواضعين. يوقرون غيه الكبير ويرحمون فيه الصغير. ويؤثرون ذا الحاجة ويحفظون الغريب.

“Sayyidina Husein bertanya lagi : Selanjutnya aku bertanya pula tentang sifat majelis Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Ayahku (Sayyidina Ali) menjawab: Kanjeng Nabi Muhammad SAW tidak berdiri dan tidak duduk kecuali dengan dzikir kepada Gusti Allah (1). Bila datang kepada suatu kaum, maka beliau akan duduk pada mana saja tempat yang kebetulan lowong dan beliau memerintahkan hal itu (2).

Kanjeng Nabi berikan setiap teman semajelisnya bagian masing-masing. Sehingga orang yang semajelis dengan beliau tidak ada yang menganggap temannya lebih mulia dari dirinya (3). Siapa saja yang ingin duduk bersama Kanjeng Nabi atau ingin mengadukan suatu hajat, Kanjeng Nabi akan melayaninya dengan sabar hingga orang itu sendiri yang beranjak karena telah merasa puas dilayani Kanjeng Nabi (4).

Siapa saja yang minta sesuatu kepada Kanjeng Nabi, Kanjeng Nabi tidak akan menolaknya. Diberinya apa yang diminta, apabila tidak ada, oleh Kanjeng Nabi diucapkannya kata-kata yang lembut yang membesarkan hati (5).

Kemurahan dan kebaikan budi pekerti Kanjeng Nabi meratai semua orang. Kanjeng Nabi seakan berlaku sebagai ayah bagi umatnya (6). Umatnya di sisi beliau, sama dalam kebenaran (7). 

Majelis Kanjeng Nabi adalah majelis ilmu, kebijaksanaan, kepekaan, amanah dan kesabaran (8). Tidak ada suara keras di majelis beliau (9). Kehormatan Gusti Allah tidak dicela di majelis itu dan aib seseorang tidak disebar luaskan (10). 

Kanjeng Nabi dan para sahabat hidup dalam kesederhanaan (11). Di sana mereka saling berlomba dalam ketakwaan (12). Mereka semua tawadhu’ (13). Mereka menghormati yang tua dan menyayangi yang muda (14). Mereka mengutamakan orang yang berhajat serta menyantuni orang asing (15)”

Penjelasan :

1. Menjelaskan perilaku Kanjeng Nabi, entah itu duduk atau berdiri, menutup atau membuka majelis, beliau selalu menyebut (dzikir) kepada Gusti Allah. Firman Gusti Allah.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

“Yaitu orang-orang yang mengingat Gusti Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring”

Maka jadilah dzikir itu ibadah yang sangat agung, pahalanya paling tidak ada tiga. Mengingat Gusti Allah, melaksanakan perintah Gusti Allah, meniru Kanjeng Nabi SAW.

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

“Dan sesungguhnya mengingat Gusti Allah itu sangat besar keutamaannya”

2. Saat Kanjeng Nabi baru datang, sedangkan telah berkumpul banyak orang, beliau langsung duduk di mana saja ada tempat kosong, walau itu ada di deretan paling belakang. Kanjeng Nabi tidak suka para hadirin menyediakan tempat khusus terdepan bagi beliau atau menyibak kerumunan di tengah majelis. Beliau akan duduk di tempat kosong terdekat yang pertama dilihat, lalu duduk di situ hingga acara majelisnya usai. Dengan begitu, orang lain tidak akan timbul hasud atau thomak. Ini menunjukkan ketawadhu’an Kanjeng Nabi yang tidak suka dihormati berlebihan.

Diriwayatkan oleh Imam Bayhaqi

إذا إنتهى أحدكم إلى المجلس فإن وسع له فليجلس، وإلا فلينظر إلى أوسع مكان يراه فليجس فيه

“Saat kalian sampai di satu majelis, jika masih luas maka pilih sesuka hati di mana mau duduk lalu duduklah, jika sudah penuh, cari tempat kosong terdekat yang bisa dijangkau lalu duduklah”

Ini adalah contoh adab bagi kita, misal kita udah jadi orang terhormat, bagaimana berperilaku di satu majelis.

3. Saat berbicara dalam forum, Kanjeng Nabi selalu menyapu pandangan ke seluruh penjuru hadirin, lalu mengulanginya bila ada satu saja hadirin yang belum paham dawuh beliau. Dengan begitu, tidak ada seorang pun hadirin  yang merasa dianaktirikan oleh Kanjeng Nabi. Bahkan tiap sahabat itu merasa diistimewakan dan menduga punya kedekatan khusus dengan Kanjeng Nabi. Makanya, para sahabat yang macem-macem itu, satu persatu punya kenangan kedekatan tersendiri dengan Kanjeng Nabi.

Ini adalah adab yang perlu dilakukan oleh orator yang sedang berdiri berbicara di hadapan majelis.

4. Kanjeng Nabi selalu sabar menghadapi pengaduan umat. Beliau menghadapkan wajah dan bahu pada yang bicara, menyimak dengan seksama, duduk dengan tenang, membiarkan orang selesai bicara dan tidak memotong pembicaraan.

Saat waktunya Kanjeng Nabi bicara, beliau berkata dengan lembut, secara jelas perkata dan kalau perlu diulanginya hingga pendengarnya paham. Segala isi pembicaraan beliau runut argumennya dengan menyesuaikan tingkat pemahaman pendengarnya.

Dengan begitu, semua orang puas dengan pertemuan mereka dengan Kanjeng Nabi.

5. Siapa saja yang datang dan meminta sesuatu apa saja, Kanjeng Nabi tidak menolak kedatangan mereka. Kalau ada hajat yang sulit dipenuhi, Kanjeng Nabi berkata apa adanya secara lembut, mengusahakannya, meminta bantuan sahabat atau menghibur, mendoakan dan membesarkan hati orang yang berhajat tersebut. Kanjeng Nabi tidak pernah berkata yang kasar atau misuh-misuh pada umat, bahkan jika hajat itu tidak masuk akal.

Ini adalah pengamalan dawuh Gusti Allah

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلًا مَيْسُورًا

“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”

6. Kebaikan dan kemurahan hati Kanjeng Nabi meratai semua sahabat, bahkan kepada orang munafik. Beliau beri apa yang beliau punya dan selalu mendoakan kebaikan bagi mereka semua dan mengakrabi mereka satu-persatu. Saking sayangnya pada umat, Kanjeng Nabi dianggap seperti ayah oleh para sahabat. Ini ungkapan saking dekatnya dan butuhnya para sahabat dengan sosok Kanjeng Nabi, lahir dan batin.

7. Dalam hal kebenaran yang diwujudkan dalam hukum, semua orang berkedudukan sama. Dan semua orang merasakan hal itu. Tidak ada para sahabat yang merasa terdiskriminasi oleh Kanjeng Nabi SAW.

8. Majelis Kanjeng Nabi bukanlah majelis rasan-rasan, gosip atau majelis cari muka. Karena dalam majelis Kanjeng Nabi selalu yang dibahas adalah ilmu, kebijaksanaan, adab, amal dan amaliyahnya. Sehingga sehari dalam majelis tersebut, banyak ilmu bermanfaat yang bisa diperoleh dari perkataan Kanjeng Nabi hingga perilaku beliau dalam majelis tersebut.

9. Dalam majelis Kanjeng Nabi, tidak ada orang yang berteriak-teriak, ngotot hingga mencaci maki pihak lain. Kecuali dalam situasi menghadapi peperangan, berdebat dan semisalnya.

Maka jadilah para sahabat itu punya ilmu yang mendalam dan adab yang lembut.

10. Majelis Kanjeng Nabi adalah majelis terhormat. Dalam majelis beliau, tidak disebut cacat dan dosa seseorang dan dijaga kehormatan seseorang. Semua bertujuan untuk menghormati Gusti Allah, dijaga dari lisan yang buruk.

11. Semua orang semajelis dengan Kanjeng Nabi adalah orang-orang yang zuhud dan hidup sederhana. Tidak ada yang saling sombong.

12. Semua orang semajelis dengan Kanjeng Nabi selalu termotivasi untuk selalu meningkatkan takwanya masing-masing, saling menyayangi, saling membantu dan saling menguatkan.

13. Semua orang semajelis dengan Kanjeng Nabi adalah paling tawadhu’nya hamba Gusti Allah. Pandai menempatkan diri dan tidak ada yang menyombongkan diri.

14. Semua orang semajelis dengan Kanjeng Nabi, sangat memegang erat dawuh Kanjeng Nabi

ليس منا من لم يرحم صغيرنا ولم يوقر كبيرنا

“Bukan termasuk golongan kita, orang yang tidak menyayangi junior dan tidak menghormati senior”

Maka, setiap sahabat sangat sayang generasi muda dan sangat hormat generasi lama.

15. Para sahabat sangat tahu diri, mereka mendahulukan saat ada orang yang punya hajat mendesak daripada dirinya sendiri. Sehingga tidak jarang para sahabat saling mendahulukan sahabat lain saat akan menghadap Kanjeng Nabi.

Dan para sahabat sukarela menghormati orang asing yang datang dari jauh yang ingin bertemu Kanjeng Nabi. Mereka sangat menjaga adab mereka dan kehormatan orang asing tersebut. Sehingga jadilah nama Kanjeng Nabi dan para sahabat itu harum di setiap orang dari penjuru wilayah jauh. Mereka terkenal dengan adabnya yang lembut dan tinggi.

Maka, adalah satu adab jika ada tamu yang dari jauh untuk diperlakukan dengan hormat dan penuh keramahan.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *