Tawakal itu bukan pasrah bongko’an (pasrah yang membabi buta) pada Gusti Allah, trus manusia gak ngapa-ngapain blas. Ini malah jadinya jabariyah.

Kalo menurut Kamus Al Munjid dan Lisanul Arab, secara bahasa, tawakal itu adalah

قَبِلَ الوكالة وضمن القيام بها

“Mempercayai pihak lain atas satu urusan dan menyerahkan penyelesaian satu urusan itu padanya” 

Orang mau mempercayakan sesuatu pada pihak lain itu karena menyadari keterbatasannya setelah berusaha semampunya. Sesuatu di sini bisa rizki, keuntungan bahkan pahala amal. Misal seorang istri memilih tidak bekerja, hanya mengasuh anak dirumah. Konsekuensinya, dia harus pasrahkan kebutuhan sandang, pangan dan papannya kepada suaminya karena dia gak bisa memenuhinya secara bersamaan.

Jadi sebelum bertawakal, orang dituntut untuk melakukan sesuatu yg dia mampu (amal lahir dan batin) hingga batas kemampuannya. Hingga muncul kesadaran atas keterbatasannya. Baru kemudian menyerahkan urusan yang tidak bisa dijangkaunya itu pada pihak lain.

Nah, kalo tawakal dalam istilah syara’, pihak lain di sini adalah Gusti Allah. Bahwa oleh syariat, kita dituntut untuk melakukan berbagai kewajiban syariat semampunya kita. Hingga kita sadar tentang keterbatasan kita, maqom kita dan wewenang kita. Untuk kemudian menyerahkan yang tidak bisa dijangkau itu kepada Gusti Allah.

Jadi urutannya, beramal dulu. Lalu muncul kesadaran. Baru bertawakal.

Kenapa butuh kesadaran dalam bertawakal?

Semua orang itu ingin sempurna dalam apa saja dalam hidupnya. Makanya semua orang pingin kalo bisa diborong semua wewenang yang ada. Tapi namanya makhluk, pasti dibatasi ruang dan waktu. Batasan inilah yang tidak bisa kita tembus.

Saat sadar batasan inilah, orang diharapkan sadar akan kedudukannya sebagai makhluk dan hamba. Kalo merasa hamba, maka muncul rasa kepepet, terhimpit dan menyerah dalam diri. Untuk kemudian melepas dan menyerahkan himpitannya pada Gusti Allah alias tawakal.

Jadi, untuk meraih tawakal, perlu adanya bahan bakar kesadaran bahwa dirinya sebagai seorang hamba yg lemah dan kepepet. Kalo gak sadar, maka kesombongan yg akan terus mendominasi. Gak muncul tawakal.

Karena tawakal ini muncul dari kesadaran bahwa dirinya hamba yang lemah, sehingga mau merendahkan diri di hadapan Gusti Allah dan tidak menyombongkan diri, maka Gusti Allah pun cinta padanya.

Maka dari itu Gusti Allah dawuh

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Sesungguhnya Gusti Allah mencintai orang yang bertawakal kepada-Nya” (Ali Imron 159)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *