Menurut Ibn ‘Ashur, sang maestro maqasid, metode dakwah Nabi ada tiga tipe yg semua itu relevan dg objek di era Rasullah.

Kelompok pertama, thullabul haq wa rughghab rasyad, kelompok ini adalah kelompok yg memiliki ghirah untuk mencari kebenaran dan antusias dalam mencari petunjuk. Menurut Ibn Ashur, kelompok ini relevan dg corak hikmah dan mauidzah hasanah. Oleh karena itu, pendekatan yg dilakukan dalam dakwah menggunakan metode mauidzah dan hikmah tersebut. 

Mauidzah ini dilakukan dg cara targhib (menarik minat) sekaligus tarhib (mewanti-wanti). Tujuannya tidak lain melunakkan hati agar nasehat terserap dalam diri dan terimplementasi dalam perilaku. Kata mauidzah sendiri bergandengan dg hasanah (relevan). Artinya, nasehat harus relevan dg karakter objek dan pencapaian manfaatnya. Misalnya, nasehat yg dibingkai dalam ketegangan, keseriusan atau candaan yg terus menerus justru tidak akan terserap dan diterima baik oleh pendengar.

Kelompok kedua, munazi marju, kelompok yg menentang tetapi memiliki harapan untuk bisa menerima nasehat atau arahan. Open minded dan terbuka untuk berdiskusi. Startegi dalam menghadapi kelompok ini adalah dg mujadalah, berdiskusi dan berdebat dg cara yg ahsan. “Jangan  kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (al-Ankabut: 46). Ini sekaligus menekankan bahwa perdebatan itu harus dilakukan, bahkan lbh membutuhkan sikap ahsan, paling baik, daripada mauidzah/nasehat.

Rasulullah pernah berdebat dg pemuka suku Quraisy saat berada di Makkah. Beliau memberi pamungkas demikian: “aku tidak seperti apa yg kau katakan, aku tidak menginginkan harta dan kekuasaan atas kalian. Tetapi Allah mengutusku pada kalian sebagai Rasul, Ia menurunkan padaku kitab suci, memerintahkanku untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Aku hanya menyampaikan risalah Tuhanku kepada kalian, bila kalian menerimanya berarti itu menjadi bagian kalian di dunia dan akhirat. Namun bila tidak, aku bersabar sampai Allah menetapkan antara aku dan kalian”.

Kelompok ketiga adalah jahil mukabir, orang-orang yg bodoh dan sombong. Dalam menghadapinya kita diperintahkan untuk berpaling setelah kita melaksanakan tugas: tabligh, menyampaikan. Allah berfirman: “Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)” [Syura: 48] “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi” [al-Qasas: 56]

Bagi kalian yg minat al-Sirah al-Nabawiyyah: Qissah al-Maulid, karya Ibn Ashur silahkan klik

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *