HUWA

ALLAH 

AHAD

*******

Foto ini diambil Selasa malam yang lalu, ketika halaqah khusus bersama Abuya Dr. Arrazy Hasyim, Lc., MA. al-Khalidi al-Syadzili (kiri) di Surau Suluk Nur Mutma’innah Koto nan Ampek Payakumbuh. Foto ini dikirimkan oleh Buya Alfi Wahyudi (kanan) Tilatang Kamang, sehari setelah acara. 

Foto ini diambil beberapa saat sebelum saya menerima talqin Thariqat Syadziliyah dari Abuya tersebut. 

Mengapa mengambil talqin? Ini sebenarnya adalah wasiat guru, guru-guru saya dalam Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Thariqat Sammaniyah Khalwatiyah, yang memberikan amar menambah ilmu sebanyak-banyaknya.

Thariqat Syadziliyah adalah thariqah yang pernah populer dan menjadi pakaian ulama-ulama Minangkabau di Pedalaman. Kita kenal nama Syaikhul Masyaikh Maulana Syaikh Isma’il al-Khalidi Simabur al-Minangkabawi al-Makki, merupakan seorang syaikh Syadziliyyah. Menurut pengamatan saya, beliau lah yang mengembangkan thariqat ini, bersamaan dengan Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Minangkabau. Untuk selanjutnya, Syaikh Abdul Wahid Assalihi Tobekgodang, juga merupakan Syadzili, selain sebagai mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Namun, sejak masa itu, tidak terdengar lagi tentang Thariqat Syadziliyah. Hizib-hizibnya tetap diamalkan, namun tidak begitu populer, sebab sebahagiannya dirahasiakan.

Saya menerima Hizib Bahar secara khas dari alm. Tuangku Mudo Baliau Rasyid Zaini (1916-2008), tahun 2003. Dan menjadi amalan saya sejak itu sampai sekarang. Namun, untuk talqin Syadziliyah, belum juga.

Alhamdulillah, pada malam itu, saya dan beberapa ikhwan menerima talqin Syadziliyah. Berikut amal Hizib Barr sekali seminggu. 

Semoga dengan demikian, terbangkit juga batang terendam; dimana Syadziliyah yang pernah populer, kemudian mengendap, lalu diangkat kembali ke permukaan. Inilah makna “membangkit batang terendam”, yang oleh sebagian kawan ditertawakan kalimat ini. Maklum, kita yang alim tanggung ini, sering juga jadi bahan olokan. Tapi di belakang, sambil berbisik. Di depan tetap menjunjung kita sebagai tuanku. Walau tidak ada yang terhalang oleh mata zhahir ini.

Catatan ini, setidaknya mengingatkan bahwa kampung kita, adalah pengamal thariqat. Meski alim zhahir tidak kepalang, berthariqat ialah ruhnya. Dan thariqat itu sejatinya tidak pada lisan, bukan pada tulisan, tapi ia bernisbah dengan hati.

Ramadhan sangat hampir, lisan-lisan Zikir Ismuz zat bergema, sangat jelas. Sampai-sampai daun-daun, angin, percik air, terdengar nyata. Mari picingkan mata! Mendengar kalimat yang berhuruf tak bersuara, berlafal Jalalah.

Mungka, 4 April 2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *