Sepakat. Tidak ada bid’ah hasanah. Semua bid’ah adalah sesat dan yang sesat masuk neraka. Tapi ada sunah hasanah dan sunah sayy’iah, dua versi sunah original dari nabi saw. Kenapa jarang diungkap. Sehingga yang populair justru bid’ahnya saja dan menafikkan diksi dua versi sunah lainnya yang muktabar. Sebab tidak semua perkara baru atau hal baru dalam agama adalah bid’ah, bisa saja sunah hasanah.
*^^^^*
Jujur inilah bahasan paling rumit. Paling urgen. Paling krusial. Paling Sensi. Paling menguras urat leher. Dan tidak pernah slesai— bahkan konflik tentang bid’ah ini melahirkan beragam perbedaan dan melahirkan puluhan madzab, manhaj dan firqah yang saling menafikkan bahkan menyesatkan dan mengekaferkan satu sama lain meski satu iman.
Ironis memang jika satu kata ‘bid’ah’ tak juga mampu dirampungkan oleh para ahli nahwu dan sharaf yang sudah ratusan tahun berselisih termasuk perpecahan kita hari ini juga adalah kurban dari ketidakberesan itu.
Tak ada yang mampu merumuskan konsep atau definisi dengan rigid. Akibatnya devinisi bidah speeri al kotak pandhora liar tidak terkendali melahirkan fitnah dan syu’.
*^^^^*
Dari puluhan hadits tentang bidah dapat disimpulkan beberapa kata kunci yang menjadi sumber soal dan terus diperdebatkan yaitu tentang : ‘perkara baru, mengada-ada, tidak ada dalil, tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw, tidak ada dalam Kitabullah dan sunah sahihah, sesat, tertolak dan masuk neraka.
Kemudian para ulama berikhtilaf dengannya dan gagal merumuskan untuk mencapai permufakatan apa yang disebut dengan ‘perkara baru, mengada ada, tidak ada dalil, tidak dicontohkan nabi saw — dst.
Kegagalan permufakatan ini berakibat negatif karena masing-masing kelompok menjustifikasi definisinya yang benar dan mengambil posisi head to head— konflik pun tak bisa dihindari.
*^^^*
Dua kutup ekstrim ini membelah menjadi sebuah kesepahaman yang melembaga, mengekspresikannya dalam bentuk kreatifitas dan purifikasi, bahkan dalam beberapa kasus terlihat berlebihan:
Sebut saja yang meyakink adanya bid’ah hasanah sangat susah membedakan mana antara sunah hasanah dan sunah sayyiah : apakah thawaf berkeliling kuburan yang dianggap keramat, menambah bacaan Yasin menjadi tujuh kali, bertabarruk kepada tempat atau orang yang dianggap suci itu sunah hasanah atau sunah sayyiah ?
Apakah merayakan maulid nabi, menyusun mushaf Al-Quran, kodifikasi hadits dalam sebuah kitab, beroganisasi baik berMuhammadiyah atau ber NU, pengajian Selosoan atau kajian Ahad pagi itu sunah hasanah atau sunah sayyiah. Apakah memelihara burung, pakai celana atau sarung ketika shalat, pakai tasbih saat dzikir, baca al Quran pakai Gadget adalah bid’ah karena semua itu adalah perkara baru dalam agama yang tidak ada contoh atau dalilnya ? Dengan menyebut bid’ah haqiqiyah dan bid’ah idhafiyah dalam rumusan ambigu.
*^^^*
Realitasnja sebagain besar ikhtilaf disebabkan oleh pemahaman subyektifitas bukan pada hujjah atau haditsnya — Disinilah peliknya sebab kemudian kita justru kesulitan memvalidasi mana yang sunah hasanah dan mana yang sunah sayyiah salam satu paradigma yang obyektif dan terukur.
Paradigama Sunah Hasanah dan Bid’ah ( dalam perspektif setiap bid’ah adalah sesat) memiliki batasan yang sangat tipis bahkan keduanya berada dalam irisan yang sama—maka menentukan mana yang bid’ah dan yang sunah hasanah dalam kehidupan praktis sangatlah rumit.
Dalam situasi rumit macam begitu saya sangat setuju dengan sikap Majelis Tarjih yang menghindari kata-kata atau meminimalisir penggunaan diksi : bid’ah, tidak ada tuntunan atau tidak ada dalil apalagi sesat atau tertolak untuk mengurangi resistansi dan konflik berkepanjangan —Wallahu taala a’lam bis shawwab.

No responses yet