Syeikh Nawawi Al-Bantani dalam Nashaih al-‘Ibad , mengutip sebuah hadis Nabi Saw yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. yang menyatakan bahwa ada tiga hal yang merusak (Tsalaatsun Muhlikaatun). Ketiga hal tersebut adalah: Pertama, pelit yang teramat sangat ( syuhhun syadid ). Dalam riwayat lain disebut dengan pelit yang ditaati ( syuhhun mutha’ ); Kedua, keinginan yang dituruti ( hawa muttaba’ ); Ketiga, takjub dengan diri sendiri ( i’jab al-mar’i bi nafsihi ).
Mari kita simak keterangan lebih lanjut dari ketiga hal yang merusak tersebut menurut Syeikh Nawawi Al-Bantani.
Pertama, pelit yang teramat sangat, yaitu bakhil yang keterlaluan, yang dilakukan seseorang, karena tidak mau memenuhi hak Allah dan juga hak sesama manusia.
Perintah zakat, misalnya, yang begitu jelas dan tegas disebutkan di dalam al-Qur’an diabaikan dan tidak dipedulikan oleh orang yang memiliki sifat bakhil yang amat sangat ini. Sifat pelit atau bakhil yang tidak ditaati ( ghairu mutha’), menurut Syeikh Nawawi Al-Bantani masih bisa dianggap wajar dan tidak merusak, karena hal itu merupakan sifat yang lazim ada pada setiap manusia. Misalnya, seseorang sebetulnya merasa berat untuk mengeluarkan zakat, tetapi akhirnya mengeluarkan juga meski berat. Hal ini, bukan termasuk ke dalam pelit yang merusak.
Kedua, keinginan yang dituruti, yaitu seseorang yang selalu menuruti keinginan dalam dirinya. Dia tidak mampu untuk menolak setiap keinginan yang muncul dari dalam dirinya.
Dalam bahasa Indonesia, kata hawa seringkali digabung dengan kata nafsu, sehingga menjadi istilah hawa nafsu. Padahal di dalam bahasa Arab, dua kata tersebut memiliki arti yang berbeda. Hawa adalah keinginan, nafs adalah jiwa atau diri. Tetapi dalam konteks ini, mungkin makna dari kata hawa nafsu dalam bahasa Indonesia bisa dimasukkan dalam bagian kedua dari tiga hal yang merusak. Maksudnya, setiap orang yang selalu menuruti hawa nafsunya, maka dia sedang menuju kerusakan dan kehancuran dirinya.
Ketiga, takjub atau terpesona dengan dirinya sendiri, yaitu seseorang yang melihat dirinya penuh kesempurnaan serta melupakan nikmat Allah, dan merasa aman dari kemungkinan hilangnya nikmat tersebut.
Ya, betapa banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari— bisa jadi diri kita sendiri termasuk di dalamnya, na’udzu billahi min dzalika— orang-orang yang merasa bangga dengan apa yang dilakukannya, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Mereka merasa sebagai orang-orang yang kualitas ibadahnya, ilmunya, kedudukannya lebih baik dari orang lain, sehingga memandang remeh kepada yang lain.
Ketiga hal yang penulis sebut di atas, yang bersumber dari Hadis riwayat Abu Hurairah r.a., dan penulis kutip dari karya seorang Ulama besar di Nusantara ini adalah peringatan (warning) untuk kita semua agar lebih hati-hati dalam menjalani hidup ini.
Kita berjuang keras untuk mengikis sifat bakhil dalam diri kita, diganti dengan sifat dermawan ( sakhawah). Kita kendalikan sedemikian rupa keinginan dalam diri ini, sehingga tidak membuat kita terjatuh sebagai budak-budak nafsu. Kita sadari bahwa apa yang kita lakukan, baik berupa ibadah maupun muamalah, juga apa yang kita miliki, berupa harta, ilmu, status sosial dan segala label yang melekat dalam diri ini adalah nikmat serta karunia dari Allah yang harus kita syukuri, bukan untuk dibangga-banggakan, apalagi disombongkan.
Semoga kita semua mampu menjaga diri dari tiga hal yang merusak tersebut. Wal ‘Iyadz billahi .. Wallahu al-Musta’an..
* Ruang Inspirasi, Ahad, 13 Desember 2020

No responses yet