Wajah kita adalah etalase diri kita. Bagaimana penilaian orang terhadap kita sungguh ditentukan oleh wajah kita. Wajah yang saya maksud bukanlah bentuk, warna kulit dan jumlah tahi lalat yang ada di area wajah, melainkan tatanan dan penataan wajah kita. Bagaimana senyum ceria wajah kita dan bagaimana kita mengatur kata kalimat sungguh menentukan siapa dan bagaimana kita menurut orang lain.
Sebagai etalase, senyum kita dan cara kita berbicara sungguh mewakili hati kita, kesejatian diri kita. Bagi orang yang ahli, sangat mudah membedakan antara senyum sejati dan senyum palsu, antara senyum yang berasal dari hati yang tulus dan senyum yang berasal dari keculasan nafsu. Yang tak ahli pun lama-lama akan tahu dan bisa membedakan antara keduanya setelah lama tertipu menganggap semua senyuman adalah sama.
Sebagai bagian dari etalase, pilihan kata kalimat dan cara menyampaikan kata kalimat itu juga mewakili hati kita. Bukan masalah suara yang lembut dan kasar, kata yang terucap sesungguhnya membawa bau harum atau bau busuk hati sang pengucap. Ada orang yang sepertinya kalimatnya halus namun nyelekit menusuk hati, menyakiti hati, karena hatinya yang busuk penuh ketidaktulusan. Ada orang yang yang sepertinya kalimatnya kasar dan langsung mrmukul pada sasaran namun ternyata mengobati hati dan diterima pendengarnya sebagai sebuah ketulusan. Sungguh penentunya adalah hati pemilik etalase. Marahnya guru kita yang tulus lama-lama akan kita sadari sebagai perwujudan cinta yang sesungguhnya, kalimat halus sang penipu lama-lama akan kita sadari sebagai wujud kepalsuan hati.
Nah senyum manakah yang kita pilih? Kalimat yang seperti apa yang kita senangi? Kalau kita lihat hanya sepintas dan sekilas kita sangat mudah tertipu oleh senyuman palsu dan kalimat halus namun tak tulus. Semakin lama kita mengamati, semakin terbuka peluang untuk tahu yang hakiki sebenarnya yang mana. Sekali lagi, hidup bukan karena kecerdasan akal dan tingginya tingkat pendidikan, melainkan karena ketulusan dan kebersihan hati.
Miliki hati yang tulus dan bersih. Jika kita berhadapan dengan pribadi tak tulus dan tak bersih maka bersabarlah karena itu merupakan ujian kehidupan kita. Tetaplah belajar menata etalase kita, mentuluskan senyuman kita dan membersihkan kata-kata kita. Perhatikan dan renungkan, tangis dan senyum Rasulullah, marah, diam dan ungkapan halus Rasulullah, semuanya adalah rahmat karena semuanya berdasar ketulusan dan kebersihan jiwa. Salam, AIM

No responses yet