Mawarung dalam Bahasa Indonesia berarti makan, minum dan ngobrol di warung. Bagi masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, Mawarung bukan hanya sebagai gaya hidup, tapi sudah menjadi tradisi yang berakar kuat di ranah kebudayaan Banjar. Mawarung merupakan budaya turun temurun masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang diwariskan dari masa ke masa dari generasi ke generasi.

Pada mulanya Mawarung ini muncul, menurut Humaidy mungkin kebanyakan di daerah Banjar Hulu terutama di Kandangan, Rantau, Barabai dan Amuntai, kemudian berkembang ke wilayah Banjar Kuala seperti Martapura, Banjarmasin dan Banjarbaru, juga ke Banjar Batangbanyu seperti Nagara, Margasari dan Marabahan. Mawarung adanya karena sebelum petani Banjar berangkat ke sawah ladang, pagi-pagi sekali mereka tidak sempat sarapan di rumah, maka mereka singgah di warung terlebih dahulu untuk sarapan sebelum sampai ke Pahumaan (sawah-ladang). Sarapannya bisa hanya kopi atau teh saja, bisa juga tambah satu dua kue dan bahkan ada dengan makan besar baik berupa nasi kuning, lontong maupun ketupat.

Warung pada mulanya kata Gusti Ardiansyah adalah berupa bangunan sederhana terdiri dari beberapa kayu, meja panjang dan kursi panjang dari kayu yang bisa berada di ruang muka sebuah rumah atau berdiri tersendiri di halaman rumah menggunakan enam tiang kayu, yang pada bagian atasnya ditutup terpal. Biasanya, di atas meja panjang itu diletakkan berbagai kue dan bermacam makanan. Di samping kiri atau sebelah belakang, dapur perapian tempat memasak air, nasi dan gangan serta menggoreng dan membakar ikan atau kue. Dalam perkembangan berikutnya warung berdiri di banyak tempat, bisa kapan saja dan di mana saja. Kebanyakan kegiatan mawarung di warung warung permanen di tepi tepi jalan, di mulut mulut gang, di kampung dan di kota. Asalnya hanya sebagai tempat makan, minum dan sedikit ngobrol, tapi lama kelamaan kata Zulfaisal Putera menjadi kegiatan majelis meja makan itu berlangsung tak sekadar makan dan minum, tapi juga ada isu isu aktual yang bisa menjadi santapan lezat. Atau dengan kata lain ia telah menjelma sebagai pusat informasi yang ramai dan memuaskan, termasuk dapat mempererat sambung rasa, menyegarkan tali silaturrahmi dan pengunjung bisa saling bertukar informasi yang membuat urang Banjar betah di sana. Di samping, bisa saja acil penjaga warungnya menarik secara visual.

Mawarung, biasanya hanya dilakukan oleh kaum lelaki yang sudah dewasa untuk mengisi waktu luang. Terlebih saat musim panen berlangsung, aktivitas mawarung semakin sering dan ramai di lakukan, baik pagi, siang, petang maupun malam hari. Karakteristik urang Banjar yang senang bakisah (bercerita) atau merotet (ngobrol) telah memberikan alasan untuk menyebut mawarung sebagai suatu kebudayaan yang bernilai posotif.

Uniknya, mawarung bukan hanya budaya nongkrong sambil mengisi waktu luang saja, tapi di balik itu semua, mawarung memiliki arti kebudayaan yang nilainya dapat menumbuhkan nilai gotong-royong, kebersamaan, mengasah pikiran, menghargai perbedaan, tolong-menolong, solidaritas, keguyuban dan lain-lain.

Kebiasaan masyarakat Kalimantan Selatan satu ini juga sangat berkaitan dengan aktivitas perekonomian masyarakat kelas menengah ke bawah untuk terus hidup dan bergulir dalam mempertahankan kekuatan daya beli dan daya jualnya. Dahulu, warung hanya menawarkan hanya beberapa makanan, minuman dan cemilan atau bahkan hanya kopi, teh, lontong dan nasi kuning, kini menyediakan bermacam-macam aneka makanan minuman. Selain yang sudah disebutkan tadi, ada pula warung yang menyediakan soto, sop, mi seduh, mi ayam, bakso, jahe anget, es jeruk, soda gembira dan makanan rumahan lainnya.

Asal mawarung sekali lagi adalah bukan dari mereka yang setiap pagi ke warung membeli nasi kuning atau lontong dibungkus kemudian dibawa pulang, tapi bubuhan lakian dewasa yang sengaja berlama-lama di warung dengan bapandiran (saling bicara) bertukar informasi, bakisah kejadian sehari-hari, bahapakan, idabul, merotet, balalucuan, baadu kisah, curhat dan termasuk menggosip. Itulah sebagian ciri khas yang menjadi suatu gambaran umum tradisi Mawarung masyarakat Banjar sebagai salah cermin hasil ekspresi kebudayaannya yang sesungguhnya sudah berjalan sangat lama.

Ditinjau dari segi kesehatan, masyarakat Kalimantan Selatan tentunya sangat menyadari bahwa kegiatan terutama sarapan di warung sebelum berangkat ke ladang atau ke kantor adalah keharusan, karena dari asupan makanan ini dapat menghasilkan energi untuk memulai pekerjaan dan membantu untuk tetap berkonsentrasi dengan baik saat bekerja.

Demikianlah gambaran umum tradisi Mawarung dari masyarakat Banjar dari dulu sampai sekarang. Mudahan, tulisan ini bermanfaat sebagai bahan kajian bagi berbagai bidang aspek keilmuan.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *