Ki Bagus Hadikoesomo dan Buya Yunahar pernah tawarkan tasawuf Ihsan, Buya HAMKA kenalkan tasawuf modern tapi tak cukup diperhatikan —-
Nasib tasawuf dan filsafat dalam keberagamaan di Persyarikatan kurang lebih sama.
*^^^^*
Ikhtiar Buya HAMKA untuk mengenalkan tradisi sufistik di kalangan santri Muhammadiyah tampaknya kurang mendapat respon bahkan dalam beberapa kurun terakhir paham keberagamaan malah cenderung kian ke-kanan dengan pendekatan tekstual ala Salafy-Wahaby kian mengental—
Proses pembentukan watak dan karakter keberagamaan–manhaj– memang tak pernah final dan memang begitulah seharusnya. Pendekatan tarjih dalam hal ini: Bayani-Irfani–Burhani memang memenuhi syarat minimal–tapi belum mencukupi–sebab tradisi ke-beragama-an tak cukup hanya bersandar pada tiga trisula meski secara global di-ilustrasikan pada jargon kembali pada Al Quran dan As Sunah.
Sebuah jargon yang tidak saja diklaim hanya milik Persyarikatan–tapi Wahaby, Salafy gerakan tarbiyah lainnya juga punya jargon sama–ironisnya kesamaan jargon ini di tataran akar rumput kerap terjadi anomali ideologi bahkan penyamaran dalam berbagai aspek. Sehingga sulit membedakan mana gerakan Salafi Wahabi dan Muhammadiyah.
*^^^*
Yang kemudian dilihat adalah–Muhammadiyah dikenal tak ramah dengan tradisi sufistik–meski secara personal ada beberapa pengamal secara personal yang tak di ekspose–para pengamal dzikir pagi dan petang, puasa putih (Yawm Albid) adalah bukti kerinduan jamaah Persyarikatan terhadap tradisi sufistik–meski dalam tradisi SUFIISTIK cara demikian (berdizikir tanpa mursyid) justru dipersalahkan.
Pada sisi lain ulama-ulama Muhammadiyah di awal pergerakan justru lekat dengan tradisi sufi sebut saja: Kyai Dahlan, Kyai Fakhruddin, Kyai Bagus, Pak AR, Kyai Abdurahim Nur dan para ulama mutaakhir semisal Buya Syafi’i, Prof Amien Abdullah, Prof Malik Fadjar, Prof Imam Suprayogo dan beberapa ulama Muhammadiyah lainnya yang tak bisa disebut. Meski bagi sebagian jamaah, tradisi sufi ini masih asing dan sebagian malah takut dan menghindar dengan alasan bid’ah.
Generalisasi ta’rif takhayul, bid’ah dan khurafat telah menghilangkan makna generiknya dan kehilangan orisinalitas. Cenderung tekstual dan hanya melawan kemapanan tanpa tawaran model. Hal mana justru mengaburkan tradisi santri berbasis jam’iyah pada tataran yang substantif.
Lantas tradisi keberagamaan macam apa yang bakal dikembangkan ? Pertanyaan menarik ditengah ghirah melawan TBC. Sayangnya belum ada model baku yang di idealkan–sehingga karena belum adanya model yang rigid itu banyak warga Muhammadiyah kemudian bisa dengan mudah menerima paham Wahabi atau Salafi menjadi bagian pergerakan keberagamaan. Kenapa demikian ? Jawabnya pendek: Muhammadiyah belum punya model yang dibakukan meski kemudian bisa dialihkan secara rasional bahwa sebab tiadanya model itulah yang menguatkan tradisi kemodernan dan keterbukaan Muhammadiyah.
Apakah kemudian boleh dikatakan bahwa dalam Tauhid menganut paham Wahabi–Dalam Fiqh dan Mua’malah menganut paham Salafi .. ? Tak ada yang menolak meski tak semua menerima. Mungkin semacam tawaqquf untuk mencuatkan pikiran nyaman ditengah sengkarut manhaj.
*^^^*
Sampai tahapan ini saya belum pernah menemukan kajian atau riset dari para ulama Muhammadiyah yang representatif untuk membangun model manhaj Muhammadiyah sebagai ijma–kecuali potongan-potongan ide dan gagasan parsial–kerja Pergerakan memang tak hanya sekedar urunan atau sibuknya rapat pengurus tapi lupa pada yang esensi bahwa Muhammadiyah adalah gerakan tajdid … Wallahu taala a’lam

No responses yet