Tulisan Puisi di Batu Nissan : Sastra Menjadi Indikator Intelektual Islam

0
145
Nissan "Syair Minye Tujuh"

Jaringansantri.com – Artefak Nissan di Aceh – Nissan “Syair Minye Tujuh” dan Nissan makam Sultan Malikussaleh. w. 1326 M.

Nissan di Aceh memiliki¬† unsur Islam walaupun ditulis dengan melayu kuno. Seperti Nissan “Syair Minye Tujuh” dan Nissan makam Sultan Malikussaleh. w. 1326 M. Karena ada rimanya,tulisan nisan ini juga bisa dianggap sebagai puisii. Ini (Artefak Nisan) sudah ada sebelum berdirinya Kesultanan Othoman. Ada Tarikh sebagai bukti yang tidak bisa dibantah.

Nissan makam Sultan Malikussaleh. w. 1326 M.

Setelah disebarkan Rasulullah saw di Mekah, Islam masuk ke Eropa dan Persia dengan perang. Di Nusantara berbeda, lebih memiliki dampak yang besar, yaitu dengan sastra.

Islam masuk itu caranya ada dua. Pertama dengan otot. Setinggi-tingginya otot itu perang. Kedua, dengan otak, setinggi-tingginya otak itu intelektual. Dan Setinggi-tingginya intelektual itu berbentuk tulisan dalam bentuk puisi, dalam karya sastra. Inilah proses masuknya Islam di Nusantara.

Misalnya puisi yang terdapat dalam Nissan tersebut tidak mungkin jika orang melayu Nusantara tidak memiliki budaya yang kuat sastranya, tidak mungkin tiba-tiba ada nissan berisi tulisan puisi. Seberapa penting puisi itu sehingga harus ada di nissan.

Para penyebar Islam dalam berdakwah menyesuaikan dengan kondisi sosial budaya setempat. Ini yang disebut intelektual bertemu intelektual.

Kita punya leluhur yang berliteratur tinggi. Sebelum kita tahu puisi sekarang ini, kita sudah memiliki peribahasa, pantun, bidal, rampal santet, dll. Ini ada rima,dan sajak ab-ab nya.

Masyarakat kita yang sudah tinggi literaturnya, yang datang ke Nusantara pun menyesuaikan budaya setempat. Karena wilayah Nusantara sudah kental dengan sastra. Lagi-lagi sastra menjadi indikator intelektual.

Tentang intoleransi, hate speech yang terjadi sekarang ini sudah diingatkan leluhur kita dengan metafora pribahasa. Misalnya menyebut pengkhianat, dengan “pagar makan tanaman”, menyebut “air susu dibalas dengan air tuba”. Kita sudah diajarkan berbahasa yang baik dan halus.

Kita sudah tercerabut dari akar budaya kita. Sekarang politik menjadi segala – segalanya sehingga yang lain terpinggirkan.

* Disarikan dari materi kajian bertema “Peran Intelektual Persia dan Kaukakus dalam Islamisasi di Nusantara” oleh Bastian Zulyeno, MA., Ph. D (Pakar Sastra dan Budaya Persia Universitas Indonesia) – Islam Nusantara Center (INC) Sabtu,9 Maret 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here