Categories:

Oleh: Putri Rachmawati

Karya sastra mengembangkan masyarakat dalam berbagai bentuk mengikuti perkembangan umat manusia. Semakin berkembang budaya dan pengetahuan manusia, semakin berkembang pula karya sastra dan jenis yang dihasilkan menjadi beragam dan unik di setiap wilayah di dunia. Pada umumnya jenis karya sastra yang banyak diminati dan diminati oleh para sastrawan adalah prosa, drama dan puisi. Masing-masing memiliki kekuatan unik yang pada akhirnya menjadi ciri khas penulisnya. Sebuah karya sastra dituntut memiliki nilai kreativitas yang sangat tinggi untuk memenangkan hati masyarakat yang semakin pintar dalam menentukan pilihan. Masyarakat juga berperan dalam menentukan arah karya sastra.

Karya sastra terdiri dari berbagai bentuk, seperti cerita rakyat, drama, dan lakon dan lain-lain termasuk puisi. Puisi adalah karangan berupa kata-kata yang diperindah dengan makna di dalamnya. Menulis puisi harus mengikuti aspek penciptaannya. Ada ciri aransemennya yang terikat oleh pantun, ritme, baris, bait dan dikemas lebih padat dari karya sastra lainnya. Pemilihan bahasa juga penting karena dapat menjadi nilai tambah dalam proses pembuatan puisi. Penyair adalah istilah untuk seseorang yang mengarang atau menciptakan puisi. Di Indonesia, penyair didominasi oleh penulis laki-laki, tetapi pada periode 1919-1940 mulai ada penyair perempuan, terutama di Sumatera Utara.

Dahulu puisi-puisi yang ditulis perempuan hanya berkembang di media umum, kemudian pada media khusus surat kabar wanita didirikan dan hingga 106 karya diterbitkan. Pada masa itu, puisi-puisi yang ditulis oleh perempuan sering bertema tentang feminisme, yaitu bagaimana peran seorang perempuan dalam masyarakat sekitar, keluarga, dan dalam dunia pendidikan. Isu ketidaksetaraan gender sering menimpa perempuan dan hal ini juga dirasakan oleh perempuan Indonesia. Wanita Indonesia saat ini harus hidup dalam posisi dilematis, terutama wanita yang berkarir. Perempuan yang hanya diposisikan pada peran domestik dan reproduktif sangat menghambat kemajuan mereka di dunia publik dan produksi. Seperti menjadi rekayasa budaya dan tradisi yang menciptakan labeling atau stereotipe tertentu pada perempuan yang sudah mengakar kuat di masyarakat. Budaya dan tradisi memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk stereotip yang membuat ketergantungan perempuan pada laki-laki cukup besar. Untuk mengubah posisi peran perempuan dalam interaksi sosial, maka lahirlah konsep gender dalam rangka merekonstruksi hubungan antara laki-laki dan perempuan secara universal untuk membuka kesempatan yang sama dalam mengolah berbagai bidang kehidupan tanpa terpengaruh oleh perbedaan gender, laki-laki dan perempuan. perempuan

Nilai estetis dalam puisi tetap terjaga meskipun hadir dalam bentuk yang pendek, meskipun seorang penyair dibebaskan dalam memilih kata-kata yang indah dan unik namun tetap membawa pemikiran dan renungan yang mendalam tentang kehidupan manusia. Maka dari itu penulis ingin mengkeritik puisi feminis puisi “ULAT” karya Oka Rusmini.

ULAT

sebuah pintu kubuka dengan darah impian-impian pecah di genggam tangan berharap sepotong daging

menambal lubang yang rajin dicangkul seorang perempuan yang pernah memintaku jadi anaknya.

sebuah pintu kubuka dengan luka “jangan mendekat, bara ditanganku akan membakarmu”

tapi aku tak punya sungai tidak juga laut. sajak kau muntahkan untuk seorang perempuan.

sebuah pintu kututup.ata lelaki itu datang padaku.

Berpuluh-puluh tahun dia sembunyikan rahasia kami

“kau permainan miliki itu. jangan mendekat. perahu layar. Laut yang kuuntai.

Huruf-huruf yang kusebar dipejam matamu”

Sebuah jendela kubuka

(penuh belatung. Bangkai manusia. sepotong kepala anjing. lendir perempuan)

Puisi tersebut dibagi menjadi bait-bait yang menggambarkan peristiwa atau hal yang sama, dialami atau dilakukan oleh pria dan wanita, tetapi dirasakan secara berbeda.

Dari lirik yang Oka Rusmini tuangkan ke dalam bait puisinya, terdapat gambaran penderitaan seorang wanita yang menjalani hidupnya penuh perjuangan keras (sebuah pintu kubuka dengan darah, impian-impian pecah di genggam tangan, berharap sepotong daging , menambal lubang yang rajin dicangkul).

Kisah wanita yang menjalani kehidupan yang kelam (sebuah jendela kubuka. Penuh belatung, bangkai manusia, sepotong kepala anjing, lendir perempuan), sehingga tumbuh menjadi sosok yang kuat (sebuah pintu kututup) yang ingin menjalani hidupnya dengan baik (jangan mendekat. Perahu layar. Laut yang kuuntai. Huruf-huruf yang kusebar dipejam matamu). Dari puisi tersebut, kita dapat menangkap pesan citra seorang perempuan yang masih harus berhadapan dengan ketidaksetaraan gender. Budaya masyarakat hierarkis masih menempatkan perempuan pada posisi kedua sedangkan posisi teratas ditempati oleh laki-laki.

Hal ini menggambarkan bahwa perempuan masih terpinggirkan. Peran perempuan tidak hanya sebagai tokoh utama yang harus berada di bawah laki-laki tetapi memiliki hak yang sama tanpa melibatkan gender. Masih banyak masyarakat yang memegang erat budaya patriarki, sehingga mengakibatkan keputusan dan sikap yang bias gender yang mempengaruhi perjuangan perempuan untuk mencapai posisi yang setara. Pria masih merasa memiliki hak untuk hidup mandiri setelah apa yang telah mereka lakukan telah menyakiti kehidupan wanita. Melupakan kesalahan dan tanggung jawabnya dan membiarkan wanita yang dia sakiti berjuang sendirian melawan semua kesulitan.

Oka Rusmini menginspirasi semangat juang para perempuan yang tersakiti untuk bisa menghadapi kenyataan dan melanjutkan perjuangan hidup dengan membuka lembaran baru dengan harapan memiliki kehidupan yang lebih baik.

Karya sastra merupakan cerminan atau cerminan dari kehidupan masyarakat. Melalui karyanya, seorang sastrawan atau pengarang sastra mencoba mengungkapkan naik turunnya kehidupan masyarakat yang dirasakannya. Dalam sebuah karya sastra terdapat makna yang harus digali melalui penelitian yang mendalam pula. Selain itu, karya sastra juga merupakan salah satu jenis budidaya masyarakat yang diekspresikan dalam bahasa, baik lisan maupun tulisan, yang mengandung keindahan. Karya sastra diciptakan oleh pengarang untuk dinikmati, dipahami, dihayati, dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Karya sastra yang mengusung aliran feminisme memiliki perbedaan material dalam merangkai teks yang di dalamnya tercermin sebuah ideologi yang mempengaruhi gaya pengarang. Dalam puisi Emily Dickinson, sosok wanita tangguh disamakan dengan seekor burung kecil. Gaya metafora yang apik, dipengaruhi oleh latar belakang Emily, dia menghabiskan hidupnya tanpa menikah. Wanita adalah makhluk yang lembut, hangat dan menyenangkan sekaligus tangguh. Memiliki semangat juang yang kuat yang mampu memberikan semangat dan kehangatan kepada orang-orang di sekitar hidupnya. Sedangkan puisi Oka Rusmini menggambarkan penderitaan, kepahitan dan perjuangan hidup seorang perempuan yang diekspresikan dengan gaya sarkasme. Sosok wanita yang berani menutup masa lalu yang kelam dan siap menempuh kehidupan baru yang lebih baik. Puisi Oka Rusmini, melalui struktur yang sengaja dikontraskan melalui susunan baris dan bentuk penyajian dalam bahasa yang sederhana, menjadi sarana untuk memahami isu-isu gender yang ada dalam kehidupan kita.

Pemaparan realitas dan kesan-kesan yang diberikan dalam puisi ini, dengan teknik/model berpikir dekonstruktif dapat menggiring pembaca untuk melihat dan berpikir tentang bentuk ideal yang harus diterapkan dalam relasi gender. Dengan metode dekonstruktif, kita akan dapat menemukan bentuk hubungan yang lebih adil dengan membalikkan situasi yang tidak adil.

Feminis karya sastra secara otomatis akan bergerak menuju emansipasi. Aktivitas terakhir dari perjuangan feminis adalah kesetaraan, dimana perempuan tidak lagi menjadi objek. Dari hasil analisis terhadap kedua puisi tersebut menjadi penyair perempuan yang mengusung aliran feminisme, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara penggunaan gaya bahasa dalam karya sastra dengan latar belakang budaya pengarangnya.

Putri Rachmawati lahir Cilacap Desember Mahasiswi Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto. tinggal Tayem RT 02 RW 02 Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Dapat di hubungi melalui IG @putrirchmwti_ dan No Hp 085867648472.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *