Kalo pas puasa, kita sering bingung, Kyai, ustad dan guru diniyah, yang relatif aman imannya, termasuk Sabilillah atau nggak? Dikasih zakat atau nggak? Tapi kita luput mbahas muallaf yang masih lemah hatinya. Padahal salah satu mustahiq yang jelas disyariatkan oleh Gusti Allah langsung adalah muallaf quluubuhum. Sementara Kyai, ustad dan guru ngaji sebagai mustahiq itu masih ranah perdebatan.
Tapi memang ada alasan mengapa mualaf sering luput dari sorotan. Karena muallaf dapat zakat bila imam (pemerintah) memang memberikan jatah zakat untuknya. Untuk jangka waktu hingga kapan muallaf itu masih layak diberi zakat, adalah keputusan pemerintah atau kebijakan amil. Jika dipertimbangkan bahwa muallaf tersebut sudah tidak perlu diberi zakat, maka harus diterima.
Jadi, nasib mustahiq bernama muallaf ini, walau tiap jaman ada, tapi sifatnya transaksional. Kalo negara membutuhkan mereka, ya dikasih. Kalo gak, ya gak. Walau mereka jelas-jelas disyariatkan dalam Al Qur’an.
Ini pernah terjadi dalam sejarah. Jaman Kanjeng Nabi Muhammad SAW, muallaf diberi zakat karena populasi Islam masih sedikit dan masih belum kuat secara politik. Di zaman Sayyidina Umar bin Khottob RA, beliau mengeluarkan keputusan untuk tidak membagi zakat bagi muallaf. Beliau beralasan
اني لا أجد من االف قلبه
“Sesungguhnya saya tidak lagi menemukan orang yang perlu saya manjakan/taklukkan hatinya”
Menurut Sayyidina Umar, muallaf qulubuhum diberi bagian zakat karena dalam rangka memperkuat kedudukan agama (izzud diin). Terutama pengaruhnya dalam politik. Mereka diikat dengan zakat agar setia pada komunitas Islam.
Ketika dalam satu negara, Islam sudah kuat, Sayyidina Umar berpandangan bahwa tujuan memberikan zakat kepada mereka sudah tidak relevan. Islam secara umum, ketika dalam posisi politik yang kuat, tidak membutuhkan peran dan kontribusi muallaf, karena tidak ada alasan yang digunakan.
Persetan, mau masuk Islam atau gak, semua terserah panggilan akal sehatnya. Mau nyerang komunitas Islam pun sudah tidak mungkin, lha wong secara politik, komunitas Islam sudah kuat.

No responses yet