Harta itu diciptakan seperti air. Air dari atas harus mengalir hingga lapisan bawah bumi agar air tidak keruh dan bumi stabil. Kalo air hanya menggenang atau mengalir di atas, maka akan terjadi ketidakseimbangan di bumi. Kekeringan, tanah turun dan tanah longsor. 

Begitu juga harta kalo hanya berputar di atas saja, tidak sampai ke orang miskin, maka akan terjadi ketidakseimbangan sosial. Itulah mengapa Gusti Allah mensyariatkan zakat dan sedekah

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (Al Hasyr 7)

Sayyidina Ibnu Abbas RadiyAllahu ‘Anhuma dawuh :

Ada tiga ayat turun yang menerangkan tiga hal bersanding dg tiga hal lain, di mana tidak akan diterima yang satu jika tidak mengerjakan yang lainnya

1. An Nisa 59

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

Barang siapa taat kepada Gusti Allah namun tidak taat kepada Rosul maka tidak akan diterima keta’atannya

2. Al Baqarah 43

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

Barang siapa sholat namun tidak berzakat maka tidak diterima sholatnya

3. Luqman 14

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ 

Barang siapa bersyukur kepada Gusti Allah namun tidak bersyukur kepada orang tuanya maka syukurnya tidak diterima.

Jadi, yang namanya zakat itu gandengannya sholat. Biarpun orang suka sholat sampai njengkang-njengking jidatnya gosong, tapi gak mau mbayar zakat, ya percuma.

Orang gampang saja berhubungan baik dengan Gusti Allah lewat sholat, karena Gusti Allah itu Maha Pemurah. Tapi kalo hubungannya dengan sosial buruk, enggan mbayar zakat, tidak akan ada artinya hubungan baik dengan Gusti Allah. Mukmin itu orang yang hubungan sosial dan dengan Gusti Allah baik semua.

Maka tidak heran, saat Sayyidina Abu Bakar RA dilantik jadi Kholifatur Rasulillah SAW, salah satu misi pertama beliau adalah menindak orang yang mangkir mbayar zakat. Tidak tanggung-tanggung, beliau mengirim Sayyidina Kholid bin Walid, Sang Pedang Allah, hanya demi menagih zakat. 

“Walaupun zakatnya hanya seekor kambing, kalo mangkir, perangi habis-habisan” begitu perintah Sayyidina Abu Bakar.

Rencana ini sempat ditentang Sayyidina Umar, karena memerangi orang yang enggan membayar zakat tidak pernah diperintahkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tapi alasan Sayyidina Abu Bakar logis. 

Beliau berpendapat bahwa kekuatan komunitas Islam ini bertumpu pada komunitas yang bersatu. Tanpa zakat, akan ada kesenjangan sosial antara satu kabilah dengan kabilah lain. Tidak akan ada rasa tanggung jawab untuk mengatasi masalah orang lain. Ini berbahaya untuk persatuan komunitas Islam yang baru tumbuh. Jadi, zakat itu masalah penting sekali.

Dan di saat ini, ketakutan Sayyidina Abu Bakar ini menjadi nyata. Orang Islam enggan bersatu karena salah satu dasar persatuan, yaitu ekonomi, tidak ada yang merasa bertanggung jawab. Orang kayanya pelit membayar zakat, orang miskinnya pun jadi frustasi dan menyumpahi yang kaya. Ini yang bikin umat Islam mudah terpecah belah hanya gara2 masalah sepele.

Kita harus memperhatikan peringatan Kanjeng Nabi

إياكم والبخل، فإنه أهلك من كان قبلكم

“Waspadalah terhadap sifat bakhil, karena banyak negeri sebelum generasi kalian yang hancur gara-gara sifat bakhil”

Mugi manfaat.

#AyoNyarkub #ArbainFiUshuliddin #ImamGhozali

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *