Saya tak ambil pusing apakah Wahabi atau Wahbiyin —-Saya juga tak peduli siapa itu Muhammad bin Abdul Wahab dan Muhammad Abdul Wahabb bin Rustum.

*^^^**

Yugoslavia 1970 punya lanskap indah: menara gereja gopthic yang exotic, masjid Islam kelasik abad tengah, dan kubah bangunan Kristen Byzantium yang romantis . Seperempat abad kemudian luluh lantak tinggal puing karena semangat saling membenci—

Saya hanya ingin ingatkan bahwa distorsi atas agama hanya akan bikin keruh suasana. Pemeluk agama akan berubah menjadi beringas tidak mengenal kompromi — merasa paling dan saling membenci meski se-iman.

Konflik keras bakal tak terhindarkan. Dengan materi konflik di sudut ruang iman yang menyempit. Kering, hampa tapi beringas. Dan lantang mengatas namakan kebenaran Tuhan yang ditafsir sepihak ner-tabayyun.

*^^^^**

Para peneliti mencari tahu kenapa pluralitas dan multikultural yang pernah ada di Balkan tiba-tiba lenyap dan berganti dengan etno-religius yang seram. Tiga agama yang semula rukun tiba-tiba saling membenci dan saling merusak. Gereja dibakar. Masjid dirubuhkan. Menara dibongkar. Tinggal puing yang runtuh dan sisa amuk yang terus berkobar.

Balkan dikenal sebagai kawasan dengan akar Islam dari masa lalu yang jauh, yang pengaruhnya hingga kini dalam kebudayaan begitu kokoh dengan watak pluralitasnya (Poulton & Farouqi 1997). Tapi sayang, Balkan yang dikenal sebagai simbol pluralitas yang kokoh dan kuat itu luluh lantak.

Tapi mengapa perang dengan sentimen anti-Islam terjadi sejak pertengahan 1990-an? Tak ada satu buku pun pernah merujuk agama sebagai eksplanasi tunggal, mengapa terjadi perang di kawasan Eropa Tenggara yang sebelumnya dikenal rukun dan toleran.

*^^^*

Yang terjadi, menurut Vjekoslav Perica (2002), dalam Buku yang sangat fenomenal ‘Balkan Idol, Religion and Nationalism in Yugoslave States’, bukanlah “clash of civilizations” berbasis identitas esensial yang dikonstruksi oleh agama, tetapi politisasi etno-religius oleh para penguber kekuasaan di kalangan kelompok etnis Serbia yang merasa superior atas dua kelompok etnis tetangganya: Kroasia dan Bosniaks-Muslim. Ketika ikatan nasionalis sebagai bangsa Yugoslavia melenyap, sentimen superioritas etnis untuk mendominasi begitu menguat tanpa disertai infrastruktur demokratik dalam kompetisi politik.

Pasca perang, terjadi pembalikan yang menambah runyam, terutama ketika dana-tunai Arab mengucur di Bosnia-Herzegovina. Sejak itu khotbah-khotbah fundamentalis meluas bersamaan dengan dibangunnya banyak masjid baru dan munculnya kelompok-kelompok Salafi radikal yang mulai merasuk dan memercikkan perpecahan etnis dan keagamaan intra-Islam. Meluasnya konflik di Timur Tengah dan meningkatnya ancaman terorisme dari wilayah itu telah membuat Balkan berpotensi menjadi ajang perang baru di Eropa, melalui Balkan.

Komunitas-komunitas Islam tradisional di Balkan jelas adalah sektor yang paling terpengaruh oleh menyusupnya Wahabisme Arab itu. Sementara itu adminsitrasi internasional di Bosnia dan Kosovo juga makin terbebani dengan menguatnya kelompok-kelompok mafia lokal yang — sungguh edan — menjadi rekanan bisnis kelompok-kelompok teroris agama.

*^^^^*

‘The Coming Balkan Caliphate’ buku menarik ditulis oleh Christopher Deliso (2007) menggambarkan titik-titik api ledakan dari Balkan akibat radikalisasi yang sedang digerakan para fundamentalis Wahabi-Arab itu. Deliso bahkan meramalkan bahwa dalam dua dekade yang akan datang, kawasan ini akan menjadi basis global bagi gerakan jihadis radikal. Dan implikasinya sudah terasa kuat benar ——meski jujur saya katakan bahwa pemahaman Islam macam begini tak bakalan bisa tumbuh di nusantara.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *