Paijo segera pulang setelah gurunya menyatakan bahwa dia sudah cukup beruzlah, dan berpesan bahwa dia harus segera kembali menemui jamaah warung Yuk Tin yang mulai saling menyalahkan dan mengkafirkan hanya gegara ritual peringatan Maulid Nabi Muhammad dan juga nabi Isa yang dalam agama nasrani dikenal sebagai malam natal. 

Sang guru berpesan kepada Paijo : “Nalar Islam dan Nalar Budaya secara prinsip tidaklah bertentangan. Karena keduanya bertujuan untuk memanusiakan manusia. Jikalau terjadi “pertentangan” levelnya hanya pada ekspresi yang berbeda. Jo, ingatlah tiga ajaran yang ada dalam Al-Qur’an. Pertama ajaran Tauhid yang tidak berubah sejak nabi Adam sampai nabi akhir zaman, junjungan kita Rasululloh Muhammad S.A.W. Kedua ajaran syari’ah (hukum-hukum/ketetapan Allah) yang berbeda antara nabi atau rasul yang satu dengan yang lain, meskipun juga ada beberapa yang sama dan diteruskan dengan cara dan intensitas yang berbeda. Serta yang ketiga adalah sejarah ummat terdahulu, yang menjadi cara Allah untuk mendidik kita agar menyelaraskan ekspresi budaya kita dengan dua ajaran sebelumnya.” 

Sejenak berhenti, sang guru meneruskan pesannya : “Jo sampaikan pada jamaahmu, jika perbedaan di antara kalian hanya pada level syari’ah dan sejarah, janganlah kalian terlalu membesar-besarkannya sehingga membuat kalian saling mengkafirkan. Sebab kalau itu terjadi kalian sudah terjebak pada bisikan setan yang bisa membuat rusak  ajaran yang pertama yakni “Ketahuidan” kalian. Nabi dalam sejarahnya (dengan Al Qur’an) mengajarkan kepada kita untuk menanamkan Ketauhidan lebih awal, kemudian mengajarkan syari’ah untuk menguatkannya dan kemudian sejarah untuk memantapkannya. Sebaliknya Iblis mencoba merusak apa yang diajarkan nabi melalui upaya pengkaburan sejarah, saling menyalahkan antar ummat karena perbedaan syariat, dan akhirnya mejatuhkan hakekat (Ketauhidan) dengan saling mengkafirkan. Jika telah mencapai puncaknya maka kalian akan saling membunuh dan merasa telah berjihad, meskipun membunuh saudara seagama kalian. Itulah bisikan iblis yang didakukan sebagai ajaran nabi kita. Mereka awalnya menggunakan Al-Qur’an dan Sunnah, tapi ujungnya mereka meninggalkan keduanya secepat anak panah yang terlepas dari busurnya. 

Paijo semakin tertunduk dan sementara sang guru meneruskan wasiatnya : “Jo, untuk menemukan mata air, kamu harus menelusuri aliran airnya dari bawah ke atas dengan sabar dan istiqomah. Demikian juga memahami ajaran Islam. Ikutilah  dengan penuh ketawadhu’an tanda-tanda/petunjuk  yang diajarkan guru2mu,  guru dari gurumu dan seterusnya sampai kau temukan sumber itu berakhir di Kekasih-Nya Muhammad S.A.W.

Jo jangan kau ikuti nafsumu tanpa ilmu, meskipun kamu berteriak-teriak kembali ke Al-Qur’an dan As- Sunnah. Sungguh itu adalah bisikan syetan yang akan menjebakmu pada kesombongan tak bertepi, yang akan membuatmu merasa paling benar, paling pintar, dan paling nyunnah. Kalau kamu terus mengikuti nafsumu, kamu akan berakhir dalam kebinasaan dan kehinaan di dunia dan di akherat. Jo sering-seringlah kamu bertobat dan bersholawat, agar cahaya hidayah yang diwariskan nabi kepada para ulama dan diajarkan kepadamu bisa kamu jaga sampai akhir hayatmu.”

 Paijo pun meneteskan  air matanya, ia mencium tangan gurunya berkali-kali dan memeluknya dengan lembut, karena tahu sang guru tidak lama akan pergi menemui Kekasihnya.  #SeriPaijo

12 Desember 2016

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *