Wisata Religi sekarang tidak sekadar wisata salah satu kelompok agama yang mempunyai tradisi ajaran ziarah seperti NU, tapi sudah menjadi fenomena universal atau sudah mendunia, bahkan di Benua Eropa dan Amerika telah menjadi cabang ilmu pengetahuan baru yang banyak peminatnya.
Ada sedikitnya dua keuntungan dalam lokus Wisata Religi yang bisa kita peroleh. Pertama, keuntungan ekonomi yakni akan datangnya para pelancong dari berbagai belahan dunia untuk menikmati suasana religi tentu dengan membayar biaya masuk dan tempat peristirahatan. Apalagi kalau mereka suka belanja, sudah dapat dipastikan negara akan memperoleh devisa, termasuk juga daerah yang menjadi tempat wisata bahkan lokasi tempatan akan dipastikan berkembang ekonomi masyarakat sekitarnya. Kedua, keuntungan ruhaniyah, banyak orang yang beragama berkunjung untuk rekreasi ruhaniyah, meningkatkan dan mengembangkan kualitas spiritualnya karena menemukan lingkungan ruhaniyah yang selama ini dicari-carinya. Kita yang menyediakan tempatnya untuk orang-orang berakrab-akrab dengan Sang Pencipta akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. Apalagi kita menawarkan rumah Allah (masjid) dan kediaman Kekasih Allah (makam wali dan ulama), akan lebih bertambah lagi pahalanya, asal kita niati lillahi ta’ala untuk ibadah.
Kota Banjarmasin sebagai kota yang masyarakatnya terkenal religius banyak mempunyai tempat wisata religi yang sepatutnya untuk dipromosikan dan dikembangkan sebagai jenis wisata andalan. Setidaknya ada 10 destinasi wisata religi yang selama ini banyak diziarahi orang dari berbagai pelosok kawasan Kalimantan Selatan, bahkan Kalimantan, Indonesia dan Asia Tenggara.
Pertama, Makbarah Makam Keramat Sultan Suriansyah (1526-1545M), pendiri Kesultanan Islam Banjar, bersama Sultan Rahmatullah (Sultan II, 1545-1570M), Sultan Hidayatullah (Sultan III, 1570-1595M), Chatib Dayyan, Datu Angin, Abdul Malik dan lain-lain berada di Kampung Kuin, dekat Pasar Terapung.
Kedua, Masjid Sultan Suriansyah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan, dibangun dari tahun 1526-1550M, masih dalam model arsitektur Banjar lawas tapi bahan baru, kecuali pintu masuk tempat Imam dan mihrab yang peninggalan asal. Ini juga berada di Kampung Kuin, tidak jauh dari wilayah makam Sultan Suriansyah.
Ketiga, Masjid Haur Kuning di Kelayan B, yang merupakan masjid tertua kedua di Banjarmasin sesudah Masjid Sultan Suriansyah. Konon, masjid ini tempat Pangeran Samudera menyatakan keislamannya, mengucap kalimat Syahadat disaksikan orang banyak dan kemudian berganti nama menjadi Sultan Suriansyah.
Keempat, makam keramat Mufti Jamaluddin atau terkenal sebagai Surgi Mukti, beliau masih zuriyat Datu Kalampayan (Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari), berada di Sungai Jingah atau tepatnya di Jalan Surgi Mufti, tidak terlalu jauh dari Masjid Jami’ Sungai Jingah.
Kelima, makam keramat Datu Anggah Amin, di Banua Anyar, yang merupakan ulama besar dan bisa dikatakan hampir sezaman dengan Mufti Jamaluddin, beliau masih punya hubungan keluarga dengan Datu Kalampayan.
Keenam, makam keramat Basirih, di Kampung Basirih, bertetangga dengan Kampung Banyiur dan Teluk Tiram atau berdekatan dengan Kampung Sungai Pandan yang mempunyai jembatan Pulau Bromo. Di sini, banyak habib dan Syarifah yang bermakam di antaranya makam Habib Abdul Hamid Bahasyim, Habib Salim Al-Habsyi, Habib Ahmad Al-Habsyi, Habib Abubakar Al-Habsyi, Syarifah Sya’anah dan lain-lain.
Ketujuh, Masjid Jami’ Sungai Jingah, dekat Pasar Lama, merupakan masjid tertua ketiga di Banjarmasin yang sangat megah dengan desain dan arsitektur antik dari bahan kayu Ulin. Perluasan dan perbaikan yang dilakukan dikemudian hari, tidak merubah desain dan arsitektur lawasnya, tapi tambahan baru beradaptasi dengan yang lama, sehingga di masjid ini terasa sekali membawa kita pada suasana masa lampau yang penuh pernik-pernik nilai sejarah.
Kedelapan, Masjid Kanas alias Masjid Tuhfatur Raghibin di Alalak yang merupakan masjid tertua keempat di Banjarmasin, masjid yang sangat khas, ornamennya dipenuhi oleh simbol-simbol buah nenas.
Kesembilan, Masjid Raya Sabilal Muhtadin, masjid kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan yang begitu megah dan indah, di hiasi hutan kota yang sejuk dan rindang penuh pohon-pohon tua yang rimbun.
Kesepuluh, makam keramat Guru Zuhdi atau Tuan Guru H. Zuhdiannoor, yang sangat baru, tapi sudah dikunjungi para pelancong dan peziarah dari berbagai daerah seputar Kalimantan. Kawasan makam ulama muda da’i sejuta umat ini dibangun sangat megah di belakang Masjid Jami’ Sungai Jingah. Bangunan makam yang sangat elok dan bangunan peristirahatan para peziarah yang luas dan lapang.
Sebenarnya masih ada lagi yang lain, seperti makam keramat Habib Batilantang, di Mantuil, makam keramat tiga ulama besar (Mu’allim Syukur, Kai Thalib dan Guru Sami), di belakang Masjid Jami’ Teluk Tiram, makam keramat Syarifah Ning di Teluk Tiram, Turbah Makam di Sungai Jingah, makam keramat Datu Kayyan di Alalak, Masjid Nur di kampung Penatu dan lain-lain. Namun kesemua yang barusan disebutkan masih kalah pamor dari 10 tempat yang sudah diuraikan terdahulu.
Sungguh sayang, kata Zulfaisal Putera kita baru bisa mengadakan, belum ditata kelola dengan baik dan profesional. Misalnya, tidak ada penggunaan jasa Guide yang sangat penting untuk memberikan wawasan pengetahuan atas sejarah bangunan dan tokoh-tokoh yang diziarahi.
Kemudian, tak ada buah tangan yang dibikin masyarakat sekitar dari kelompok ekonomi kreatif seperti gantungan kunci, kaos, tas, topi, baju dan lain-lain. Membuat lingkungan wisata religi aman, nyaman dan memuaskan dengan menyediakan fasilitas konsumsi, akomodasi, dokumentasi (jalan, parkir, kamar mandi, toilet dan lain-lain). Humaidy menambahkan agar diadakan semacam buku petunjuk perjalanan wisata religi bermula dan berakhir dari titik mana. Perlu juga dilengkapi semacam buku lux berisi Biografi atau Manaqib tokoh-tokoh yang diziarahi termasuk riwayat atau sejarah masjid-masjid yang dikunjungi. Saya kira, dinas pariwisata Banjarmasin perlu memperhatikan dan bekerja keras untuk mengembangkan wisata religi ini dengan baik dan berkesinambungan lewat kerjasama dengan berbagai pihak dan bermacam stakeholder biar Banjarmasin terkenal juga sebagai daerah destinasi wisata religi yang menjanjikan tidak hanya terdengar saja, tapi tak ada bunyinya. Ujar Gt. Ardiansyah, kesempatan ini jangan dibiarkan berlalu, inventarisasi tempat-tempat wisata religi di Banjarmasin terus dilakukan.

No responses yet