Oleh: Lina Restiana, dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Secara bahasa “sabar” bisa berarti tabah hati, manahan, menanggung, mencegah, sedangkan secara istilah sabar dapat berarti mencegah dalam kesempitan, memlihara diri dari kehendak akal dan bisa diartikan juga sabar adalah menahan diri(nafsu) dari keluh kesah. Kesabaran ini memang dapat dikategorikan sebagai kesabaran yang memiliki tingkat dan derajat yang tinggi di mana lingkungan kehidupan dan tempat ia hidup dan berkembang untuk kebaikan hidupnya menginginkan kesempurnaan dalam hidupnya baik di dunia ini maupun di masa yang akan datang hingga akhirat.
Sudah sangat jelas bahwa di dalam Al-Qur’an tedapat banyak ayat yang berisi tentang konsep kesabaran. Terkait sabar dalam al Qur’an, ditemukan beberpa konsep bahwa sabar dalam beberapa hal, antara lain yaitu:
- Sabar dalam Ketaatan
Setiap muslim dituntut untuk bersabar dalam menjalankan dan mencapai ketaatan kepada Allah SWT. Kesabaran seperti itu dapat dibangunkan dengan mengingat janji. Allah akan segera membalas orang-orang yang sabar. Orang-orang selalu bersabar karena mereka dapat mencapai kedekatan tertentu dengan Allah. Jika telah mencapai tempat atau kedudukan derajat dekat dengan Allah, orang tersebut akan merasakan puncak kenikmatan yang tiada tara. Dalam Firman Allah (Q.S Al Anbiya : 84)
“Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”
Ketika ada seseorang yang beriman kepada Allah, sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan dia sendirian tanpa diuji, tentu Allah akan mencoba/mengujinya sehingga Allah mengetahui jika apakah imannya nyata atau hanya dusta.
- Sabar dalam Menghadapi Musibah
Kesabaran dalam menghadapi bencana ini, yaitu jika seseorang menghadapi bencana oleh Allah SWT karena bencana alam , kematian, kehilangan harta benda, orang tersebut harus dapat mengendalikan emosinya secara benar dan dengan ikhlas ia mencoba berusaha keras bertahan mengendalikan emosi diri supaya tidak suudzon (berburuk sangka) kepada Allah dengan tidak suka menyalahkan orang lain.
Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar Ayat 10 menjelaskan bahwa sebagai berikut:
“Katakanlah (Muhammad) Wahai hamba-hambaku yang beriman bertaqwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
- Sabar dalam Mengingat Perbuatan Dosa
Dengan mengingat dosa-dosa yang dilakukan, Anda selalu dapat melakukan kebaikan dari diri Anda dengan lebih baik. Anda akan merasa jijik atau khawatir dosa itu terulang kembali. Kesabaran seperti ini akan memuliakan pelakunya dan enggan melakukan dosa yang telah dilakukan. Seperti dalam firman Allah surat Al Qhasash ayat 15 :
“dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber-kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan, Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).”
Nabi Musa sangat menyesali atas kematian orang itu karena pukulannya, sebab sebenarnya beliau tidak bermaksud untuk membunuhnya, tetapi hanya semata-mata membela kaumnya.Kemudian selanjutnya Nabi Musa bertaubat memohon ampun kepada Allah.Allah mengabulkan doanya dan beliau diampuni.
- Sabar dalam Menghadapi Kefakiran
Sabar dalam kemiskinan, yaitu tipe kesabaran tinggi yang benar-benar mulia,apakah seseorang sempurna dalam ketaatannya kepada Allah SWT atau sedang menjalankan semua perintah Allah dan juga mampu menjauhkan diri dari semua larangan-Nya dalam bentuk keji dan jahat berharap dengan tulus Kesenangannya dengan salah satu cinta dan kasih sayang dari Allah SWT. Kemiskinan dalam pengertian ini hanya termasuk dalam hal kebutuhan fisik harta benda, keuangan dan makanan dan minuman saja, tetapi tidak diklasifikasikan dalam esensi kemiskinan dalam iman dan takwa .
Referensi:
Ulum, K., & Roziqin, A. K. (2021). Sabar Dalam Al-Qur’an. Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur’an dan Hadist, 4(1), 120-142.
Miskahuddin, M. (2020). Konsep Sabar dalam Perspektif Al-Qur’an. Jurnal Ilmiah Al-Mu’ashirah: Media Kajian Al-Qur’an dan Al-Hadits Multi Perspektif, 17(2), 196-207.

No responses yet