Suatu waktu di kantor PIM, Guru kami Mbah Yai Mu’adz Thohir (hafidlohulloh) bercerita saat beliau bertanya kepada Mbah Sahal Mahfudh (Allahu Yarham) mengapa tidak berpolitik praktis: 

“Mbah, mengapa panjenengan enggan berpolitik -praktis- sedangkan panjenengan sangat pantas untuk menjadi pemimpin”? 

(Kualitas keilmuan dan kecakapan beliau dalam menyampaikan gagasan sangat luar biasa) tambah Mbah Mu’adz. 

“Aku tidak mau melakukan lima hal yang -kebanyakan- melekat dalam diri politisi, yaitu:  Fattan, iftiro’,  kaddzab, riya’ dan ujub)” Jawab Mbah Sahal. 

—

  1. Fattan: banyak membuat fitnah (rela memfitnah orang lain demi tercapainya kepentingan pribadi atau partainya). 
  1. Iftiro’: membuat kebohongan (merekayasa semua hal dibungkus dengan kebohongan untuk mendapatkan dukungan dari rakyat). 
  1. Kaddzab: banyak berbohong (harus berani berbohong demi mendapatkan kepercayaan masyarakat). 
  1. Riya’: pamer (sering menunjukkan hasil kerjanya bahkan mengakui bahwa keberhasilan pemerintahan karena jerih payahnya. Selalu memamerkan keberhasilan -yang terkadang hanya pengakuan saja- kepada masyarakat untuk meraup suara rakyat). 
  1. Ujub: membanggakan diri sendiri. (Selalu merasa bahwa dirinya yang paling berhak untuk dipilih. Bahwa pimpinannya yang paling berhak untuk dipilih karena memiliki kecakapan dari pada paslon yang lain). 

—

“Setiap orang berpotensi memiliki lima sifat buruk tersebut. Tapi apakah ia mau mengamalkannya ataukah tidak?” Tambah Mbah Mu’adz Thohir.

Sumber :FB Taufiq zubaidi

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *