Catatan Singkat Kajian Kitab “Qimah al-Zaman” Karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah (1927-1997) ke-XVI
Tafsir al-Thabari adalah salah satu kitab tafsir yang sudah masyhur. Dianggit oleh Imam al-Thabari (224-310 H), ulama kelahiran Persia. Sejak usia belia, berguru ke kota-kota pusat ilmu di eranya. Di antaranya adalah Baghdad, Syam, dan Mesir. Melihat rentang tahun hidup beliau, Imam al-Thabari semasa dengan ulama generasi emas kodifikasi hadis. Mulai dari Imam al-Bukhari (194-256 H), Imam Muslim (204-261 H), Imam Abu Dawud (202-275 H), Imam Ibnu Majah (207-275 H), Imam al-Tirmidzi (209-279 H), dan Imam al-Nasai (215-303 H). Tak aneh jika, tafsir al-Thabari kental nuansa tafsir bil ma’tsur. Lebih dari itu, penulisan hadis di kitab tafsirnya sangat utuh. Mencakup sanad dan matan hadis.
Karena itu, tidak berlebihan jika Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah menyebut Imam al-Thabari sebagai “maha gurunya” pakar hadis (syaikh al-muhaditsin). Selain juga maha gurunya ahli tafsir dan ahli sejarah. Lantas bagaimana dulu Imam al-Thabari menyediakan waktu untuk menulis kitab tafsir yang monumental itu? Insipirasi dan suri teladan apa yang dapat kita petik dari laku hidupnya?
Terkisahkan, suatu hari Imam al-Thabari menyampaikan keinginannya untuk menulis kitab tafsir kepada sejumlah sejawat. Imam al-Thabari bermaksud menulis kitab tafsir setebal 30 ribu halaman. Temannya menimpali bahwa keinginan itu akan membutuhkan waktu panjang. Setelah menimbangnya, Imam al-Thabari menurunkan keinginanya. Dari 30 ribu menjadi 3 ribu halaman. Dan keinginan inilah yang diwujudkannya. Kitab tafsir al-Thabari ditulis selama 7 tahun. Tepatnya adalah tahun 283-290 H. Dimana Imam al-Thabari sudah berusia 66 tahun.
Setelah menuntaskan karya dalam bidang tafsir ini, Imam al-Thabari tidak berpuas diri. Beliau mencurahkan waktu untuk menulis karya dalam bidang tarik (sejarah). Targetnya adalah dengan ketebalan yang sama dalam bidang tafsir. Kitab tarikh ini diselesaikan dengan waktu yang lebih lama, 13 tahun. Dari tahun 290-303 H. Di usia yang sudah sepuh, 79 tahun. Tepat 7 tahun sebelum beliau wafat. Laku hidup ini merupakan inspirasi yang berharga. Mengisi hidup dengan karya.
Dalam kitab Kunuz al-Ajdad, termaktub sebuah kisah yang mengharu biru. Di detik-detik terakhir jelang wafatnya Imam al-Thabari, beliau masih sempat meminta muridnya untuk mengambilkan kertas dan tinta. Para muridnya pun menangis tersendu. Jelang wafat, sang guru masih berkeinginan untuk menulis. “Seyogianya seseorang tidak berhenti mengkaji dan mengikat ilmu sampai ia mati.” Begitu perkataan yang terucap dari sang guru. Selang beberapa saat, Imam al-Thabari wafat. Meninggal dalam khitmah ilmu, tanpa batas. Tanpa syarat.
Jika dulu para ulama telah memberikan contoh nyata laku khitmah kepada ilmu dan Islam, lantas bagaimana dengan kita? Elokah jika waktu dihambur-hamburkan untuk saling caci dan maki, mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang lain? Untuk kemudian ramai mencibirnya.

No responses yet