Sepeninggal Kiai Wahid Hasyim, Nyai Solichah hidup bersama putra-putrinya di Jakarta. Amanah mendidik putra-putrinya sesuai yang direncanakan dan diamanahkan KH. Abdul Wahid Hasyim dipegang erat-erat seumur hidupnya. Sehingga putra-putrinya menjadi sosok yang mampu membangun kebesaran dirinya sesuai dengan potensi yang ada di dalam dirinya.
Mimpi kiai Wahid yang kepingin memiliki putra-putri yang berhasil menjadi Kiai, Insyinyur, dokter, dan lainnya berhasil di wujudkan. Bahkan, jadi presiden dari kalangan santri. Dari anggota keluarga mereka benar-benar mampu memainkan perannya masing-masing sesuai kapasitasnya. Bahkan, dari anggota keluarga Bani Wahid Hasyim mampu mengedukasi kelompoknya baik melalui gerakan sosial, membesarkan lembaga, mengelola perbedaan pendapat, mengkader generasi muda NU, dan lain sebagainya.
Mendidik anak bukan suatu pekerjaaan mudah. Padahal kita tahu bahwa pasca Kiai Wahid Hasyim meninggal dunia baik dari keluarga besar Tebuireng misalnya, siap ikut membantu mengasuh putra-putri nyai Solichah. Misalnya dari perwakilan keluarga Tebuireng, Kiai Cholik Hasyim mengasuh Gus Dur, Kiai Karim Hasyim mengasuh Gus Sholah dan Gus Umar. Serta Nyai Aisyah dan Nyai Lily bersama Ibundanya di Jakarta.
Dalam hal ini, Nyai Solichah yang ditemani orangtuanya selama massa iddah curhat kepada orangtuanya, Kiai Bisri Syansuri dan Nyai Bisri. Nyai Solichah matur, “Mbah, meniko anak-anak bade dipundhut adik-adik. Dalem matur, Mbah. senoso Dalem sade gado-gado. Dalem Lampahi, tapi anak-anak kulo sampun dipun pisah-pisah saking kulo.” (Mbah, anak-anakku akan dibawa oleh adik-adik. Saya menyampaikan, Mbah. Kalaupun saya harus berjualan gado-gado, akan saya jalani, tapi saya tidak mau anak-anak dipisahkan dari saya).
Nyai Solichah kukuh dengan pikiran dan keyakinannya untuk mengasuh putra-putrinya seorang diri. Jiwa kemandirian benar-benar sudah tertanam kuat dalam diri Nyai Solichah. Suaminya yang semasa hidupnya super sibuk keluar rumah untuk berjuang membela agama dan bangsa membuatnya terbiasa dan terlatih mengasuh anak. Meskipun demikian, Kiai Wahid Hasyim selalu tidak alpa dengan tugasnya dirumah.
Pengalaman Nyai Solichah mendidik putra pertama, kedua dan seterusnya menjadi modal penting meski tak seberapa. Selain itu memungkinkan dari pengalaman cara mendidik anak yang dilihat dan dialami dari orangtua-mertuanya atau orang lain. Ilmu mendidik anak memang terus berkembang. Mendidik anak harus punya cara jitu. Berbekal inilah yang menjadi bekal berharga, kemudian dukungan orangtua dan keluarga besarnya yang menjadi alasan kuat bagi Nyai Solichah untuk mengasuh sendiri putra-putrinya.
Berkat Nyai Solichah, Gus Dur, Nyai Aisyah, Gus Sholah, Gus Umar, dan lainnya mendapatkan tempaan langsung secara intensif dari Nyai Solichah. Tidak kebayang bagaimana hidup bersama beberapa putra-putrinya tanpa sang suami di ibukota pula. Dan, itu berhasil dilewati dengan baik. Panduan praktis mendidik anak dari KH. Abd. Wahid Hasyim mungkin sudah diberikan kepada Nyai Solichah dan tidak beredar luas.
Kiprah perjuangan hidupnya dalam mendidik putra-putrinya dan bergerak di sosial, menyalakan kembali literasi di lingkungan keluarganya pasca ditinggal, suaminya KH. Abd. Wahid Hasyim terbukti, Nyai Solichah berhasil. Dalam hal ini, nasihat beliau penting kita baca, “Seberapa banyak kekayaan seseorang pasti akan habis. Tapi, sedikit ilmu saja orang akan bisa berkembang apalagi anak itu diberikan ilmu banyak.”
Dengan demikian, dibalik kebesaran dan kesuksesan seorang laki-laki didalam rumah tanggga, ada jasa perempuan hebat dibelakangnya. Apalagi bagi kesuksesan seorang anak di masa depannya. Sedikit banyak pasti ada jasa orangtua. Buat Nyai Solichah, Al Fatihah.
*Dalam buku, Ibuku Inspirasiku yang menampilkan tulisan kedua putra terbaiknya ini, tentang sosok ibunda Nyai Solichah Wahid Hasyim. Pegangan bagi mereka yang sudah berkeluarga. Tapi, siapapun boleh membaca dan pasti berefek positif. Bukunya tipis, murah. Cuman, 25.000(belum ongkir).*

No responses yet