Faham salafi modern, baik Thiyyar Jihadi dan Thiyyar Pemikiran itu bisa di katakan sepakat bahwa demokrasi itu Syirik, Kafir dan bukan Islam, perbedaan hanya pada tataran pelaksanaan nya saja, ada yang memutlakan keharamannya dan tidak ikut2an turunannya atau hanya memanfaatkan nya saja, seperti di Mesir contohnya.
Demokrasi haram hal tersebut karena demokrasi itu mengancam sistem monarki kerajaan Saudi, kedua, suksesi kepemimpinan dalam Islam itu seumur hidup bukan perperiode setiap pemilu, lihat saja fatwa2 ulama mereka yang mengharamkan demokrasi, tegas bukan kaleng2, dari sini, lihat saja di kalangan salafi kebanyakan, ketika musim pemilu, ketika umat Islam mainstream jibaku mencari pemimpin yang terbaik, justru mereka di rumah saja, baik Thiyyar Jihadi maupun di Thiyyar Pemikiran, mereka beralasan Barra’ (berlepas diri) dari sistem Kufr katanya.
Berbeda dengan negeri Mesir, Salafi di sana justru ikut pemilu, bahkan ikut menumbangkan pemerintahan Mursi bersama As-Sisi, mereka memang begitu sengit kepada Ikhwanul muslimin.
Salafi di Saudi juga memusuhi Ikhwan, mereka biasa menyebutnya sebagai Ikhwani, Salafi Ikhwani atau Hizbiy mereka biasa menyebutnya atau disebut sebagai salafi Sururi, salafi Sururi di juluki pembangkang karena tidak mendukung Saudi Arabia yang melibatkan tentara Amerika membebaskan Kuwait dari Iraq pada tahun 1991, sejak itu Ikhwanul Muslimin di musuhi dan para ulamanya mendekam di penjara, seperti Syaikh Safar Hawali, Syaikh Salman Al-Audah, Syaikh Nasr Al-Fadh, Syaikh Aidh al-Qarni dan Syaikh Hamid Al-Uqla dll.
Dulu di Saudi terbunuh nya Hasan Al-Bana dan Sayyid Qutub boleh dikatakan Syahid secara Ijma’ tetapi sejak 1991, Lebel tersebut telah pudar seiring black campaign pemerintah Saudi atas pengaruh ikhwan yang terus menggurita di tengah.
Sejatinya Ikhwan pernah berjasa bagi Saudi, ketika sistem monarki terancam Pan Arabisme ala Gamal Abdun Naser yang cenderung ke blok Soviet, seiring Ikhwan menjadi buruan rezim sosialis Arab, monarki Saudi Arabia banyak menampung Ikhwan, seiring di temukan emas hitam, banyak ulama2 Ikhwan berkontribusi berdirinya Jami’ah2 di Saudi dan sekitarnya.
kolaborasi Ikhwan dan Saudi membuat paham Wahabi lebih soft, syarah ulang terhadap kitab2 yang berpotensi muncul nya paham ghuluw di buat, beberapa yang lainnya di kubur dalam2, bahkan sejarah berdirinya Mamlakatul Su’udiyyah di buat absurd tidak jelas, anda akan kesulitan mencari data yang otentik, demikian jasa Ikhwan menetralisir faham ghuluw di dakwah Najd, hubungan mesra sangat terlihat di era raja shaleh yaitu Faesal bin Abdul Aziz bin Su’ud.
Walau sudah muncul kitab2 Syarah kitabut Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahhab seperti Fathul Majid dan Qaulul Mufid, lalu Syarah tentang bab Takfir Mu’ayan, tetap saja ada kelompok yang secara liar mengamalkan faham Najd Tampa Syarah dan Tahqiq ulang, jika antum kenal Syukri Mustafa tokoh Jamaah Takfir Wal Hijrah dan DR. Ahmad Al-Jazairi tokoh Takfiri dr Al-Jazair, itu selalu membuka tema Udzhur bil Jahil dan Takfir Mu’ayan di dalam halaqoh2 mereka.
Tema yang sempat trend dikalangan dakwah Najd generasi awal, tema tersebut menjadi pintu masuk untuk mengkafirkan Umat Islam di Hijaz dan Najd, jikalau bukan karena Ikhwan, entah dakwah Najd akan seperti ISIS hari ini.

No responses yet