Kyai dalam Bahasa Jawa adalah sebutan untuk sesuatu atau sosok yang dihormati dan dimuliakan, sehingga sebilah keris ada yang dinamai Kyai Nogo Sosro dan demikian juga bahkan untuk seekor kerbau di Keraton Yogyakarta yang terkenal dinamai Kyai Slamet.

Namun dalam tulisan ini yang saya maksud dengan sebutan “kyai” tiada lain sebutan untuk sosok orang berilmu agama mendalam dan sekaligus dimuliakan, yang dalam bahasa Agama Islam dinamakan ulama, bentuk jamak dari ‘Alim (orang berilmu). Kyai yang sesungguhnya dalam perspektif ajaran Islam adalah sosok tokoh yang dihormati dan dimuliakan karena ia membawa warisan dari Rasulullah, ia adalah pewaris ilmu dan perilaku mulia para Nabi terdahulu. Berkaitan dengan hal tersebut Rasulullah pernah bersabda,

إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا علما ومن أخذ أخذ بحد وافر

“Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, para Nabi itu hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil (ilmu) maka ia mengambil dalam batas yang sempurna.”

Dalam hadits selanjutnya dikatakan,

إن العلماء ورثة الأنبياء

“Sesungguhnya Ulama adalah pewaris (ilmu dari) dari para Nabi.”

Walhasil, ulama adalah mereka yang menjadi pewaris para Nabi, yakni mewarisi ilmu mereka.

Ada dua pokok ilmu yang diwariskan oleh para Nabi terdahulu, yaitu pertama, ilmu yang tertulis di atas lembaran-lembaran kertas (al-‘ilmu fi al-auraq) yang kemudian dinamakan ilmu syariat, yang cara memperolehnya adalah dengan cara belajar (thariquhu al-ta’allum wa al-dirasah) dan yang kedua adalah ilmu yang berada dalam rasa (al-‘ ilmu fi al-adzwaq), yang cara memperolehnya adalah dengan cara menempuh jalan petunjuk dan membersamai para ulama (thariquhu al-suluk wa al-suhbah). Cara pertama melahirkan ulama, sedangkan cara yang kedua melahirkan auliya’ (para wali).

Kedua cara untuk memperoleh dua pokok ilmu di atas hanya ada dan telah dipraktekkan di berbagai Pondok Pesantren, terutama yang berafiliasi kepada organisasi Nahdlatul Ulama. Kedua pokok ilmu yang diperoleh dengan dua cara yang berbeda itu menggambarkan dengan sesungguhnya bahwa ilmu dan amal harus berjalan secara bersamaan. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Oleh sebab itu, seorang ulama besar sufi bernama al-Hasan al-Basri pernah menyatakan,

اطلبوا العلم طلبا لا يضر بالعبادة واعبدوا الله عبادة لا يضر بالعلم

“Carilah ilmu dengan pencarian yang tidak merugikan ibadah, dan sembahlah Allah dengan suatu ibadah yang tidak merugikan ilmu.”

Pengalaman saat menjadi santri yang belajar kepada para kyai di berbagai Pondok Pesantren, ada di antara para santri yang amat rajin belajar dengan cara menelaah ilmu-ilmu agama yang tertuang pada lembaran-lembaran kertas kitab kuning hingga larut malam, bahkan karena asyiknya ada yang membaca dan menghapal hingga menjelang subuh, lalu ia tertidur, sehingga shalat Subuh ia lakukan setelah matahari terbit. Namun sungguh mengherankan, setelah bertahun-tahun berpisah, terdengar kabar bahwa sang santri yang dulu saat menjadi santri belajarnya itu hingga merugikan ibadahnya, ternyata telah menjadi seorang kyai yang banyak memberikan keteladanan dan manfaat yang banyak kepada umat. Barangkali kekurangan sebagian para santri itu ditambal dan tertutupi oleh berkah (barakah), tambahan doa kebaikan dari para kyai untuk para santrinya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *