Oleh : Sofyan Tsauri Ayyash
Nama aslinya Amar bin Usman, alias Hamzah alias Joko Pitono alias Yahya Ibrahim, saya memanggil nya Ustad Hamzah, pria keturunan Arab Pekalongan pada tahun 1970 ini kepalanya di hargai 10 juta $ atau setara dengan 93 milyar rupiah, termasuk peringkat 15 orang yang paling di cari oleh pemerintah Amerika, dan bagi siapa saja yang mendapatkan hidup atau mati, di keluarkan daftar red notice oleh FBI dan CIA karena aktifitas Terorisnya, walau masih di bawa Syaikh Usamah yang di hargai 25juta $ dan Syaikh Ayman 20 juta $, tetapi harganya masih di atas Noordin M Top dan DR. Azhari.
Alumni Afghanistan program Takhasus alias program kursus singkat bukan akademi militer, khusus mempelajari Field Engineering atau Mutafajirat(bom), kursus ini sama dengan apa yang di pelajari oleh DR Azhari juga, hanya berbeda angkatan, makanya tidak heran jika mereka sangat mahir dengan yang namanya aneka bom dengan kecanggihan nya.
Ali Imron salah satu perakit bom Bali bercerita kepada saya, bahwa dirinya dan Dulmatinlah yang merakit bom Bali 1 di Bali, bahkan Kedubes Philipina yang di bom pada tahun 2000an adalah hasil sentuhan tangan Dulmatin, kata sebagai balas dendam jatuhnya Camp Militer Hudaibiyyah milik Jamaah Islamiyyah oleh militer Philipina.
Sebelum berangkat kabur ke Philipina pada tahun 2003 karena DPO Bom Bali 1, Dulmatin tinggal di Depok, kadang pindah ke belakang Margo City, RTM, Cilebut Bogor, bahkan sempat di buatkan KTP oleh pak RT dengan datang sendiri kerumah Dulmatin saat itu, kumpul dengan para Ikhwah2 sebelum ke Poso dan Ambon untuk Jihad di wilayah Konflik.
Ardi alias Arham dkk berhasil membawa Dulmatin, Umar Patek, Khidir, Uceng keluar Indonesia melalu Sandakan, Tawi-tawi lalu ke Jolo, lalu ke Mindanao bergabung MILF, sejak ada Dulmatin di Philipina, MILF terlihat repot dan keberatan wilayahnya di jadikan pelarian, karena tentara Amerika dan Philipina semakin intensif melakukan operasi perburuan para DPO Bom Bali tersebut.
Dulmatin sempat di beritakan tewas di Philipina pada tahun 2005 dan 2007, tetapi sejak 2007 Dulmatin sudah masuk ke Indonesia lagi melalui Nunukan, lalu ke Samarinda, Balikpapan lalu ke Surabaya, lalu tinggal di Jakarta.
Pada akhir 2008 saya ke Banda Aceh bersama seorang ustad, dan menemui beberapa Ikhwah untuk melanjutkan pelatihan dan daurah syar’iyyah, Ikhwah asal Magetan yang bersama saya dari Jakarta memberitahukan bahwa ada rekannya yang mau ikut nyusul ke Aceh, lalu berkata ” apakah Antum bersedia membelikan tiketnya? lalu saya bertanya balik, apakah bisa di percaya ustad? Insya Alloh bisa di percaya katanya serius.
Singkat cerita setelah saya kirimkan uang 600rb tiket promo Jakarta-Banda Aceh, saya dan beberapa rekan-rekan dari Aceh menjemputnya di Bandara Iskandar muda Aceh Besar, kami bertemu dan memperkenalkan dirinya bernama Hamzah, wajahnya tampan, putih, dia memang keturunan Arab, dengan badan tegap kekar, seperti pegulat, orang nya ramah, hangat dan familiar kepada kami yang baru di kenalnya.
Setelah bincang-bincang kami segera menuju ke daerah Ketapang ke sebuah Ruko yang telah kami jadikan sebagai tempat basecamp kami sementara, setelah daurah satu Minggu itu kami menunjuk Akh Yudi untuk menjadi Mas’ul daerah Aceh yang merupakan cikal bakal ALQA3DA serambi Makkah, kami juga bersilaturahmi ke beberapa Dayah (pondok pesantren) untuk meminta dukungan Dakwah dan Jihad, perjalanan dakwah ini sangat berkesan bagi Ustad Hamzah alias Dulmatin ini, kelak dia akan mempromosikan ke Jawa hasil perjalanannya di Aceh ini, guna di jadikan sebagai Qoidah Aminah atau basis Aman bagi star awal mula Jihad bersenjata.
Pada suatu hari saya katakan kepada ustad rekan saya yang berasal dari Magetan ini, ” Stad, Afwan, “antum sudah kasih tahu sama Ustad Hamzah belum, kalau saya mantan dan disertir polisi ? ” Ana tidak mau dia g nyaman nanti dengan saya yang mantan Polisi, dari sekarang saja antum katakan, sebelum kita melangkah lebih jauh, kata saya serius, biar ana saja yang katakan, kata ustad asal Magetan ini, karena kelamaan Akhir nya saya katakan sendiri dan mengaku bahwa saya seorang polisi yang sedang DISERTIR, ogah dinas di kepolisian karena ingin fokus dakwah dan jihad, saat itu Dulmatin mnggut-manggut saja, kaget tetapi dengan tetap santai.
Dia bercerita bagaimana dirinya keluar dari Philipina, lalu saya tanya, wah kita bermimpi bisa ke Philipina dan syahid disana, eh antum malah keluar dari sana kata saya tertawa,, ” na’am di Philipina banyak pengkhianat, lalu dia diam, dan saya yang tambah bingung, “loh kok Bnyak pengkhianat kata saya, dia pun tidak melanjutkan pembicaraan ini, jujur waktu itu saya tidak tahu jika saya sedang bersama Dulmatin, ternyata terakhir saya baru tahu, bahwa justru ketika dia di Philipina, dia menjadi target dari orang-orang MNLF dan MILF yang tergiur menjual DPO kasus Terorisme di Indonesia ini untuk di serahkan kepada militer Amerika serikat.
Setelah program Aceh selesai dan kami kembali ke Jakarta, Dulmatin kerumah saya pada Maret 2009 bersama Khidir alias Hasan yang merupakan alumni Afghanistan ke 5, mereka berdua melaporkan kunjungan ke Aceh kepada saya, untuk melaksanakan program daurah berikutnya.
Bersambung

No responses yet