Penjelasan Slamet ini, dapat ditinjau dengan mengemukakan beberapa data:
Pertama, Slamet Muljana, dengan mengungkapkan itu, tampak ada keraguan ada hubungan Champa dan Majapahit, atau Raja Champa dengan Majapahit. Hubungan Majapahit dengan Champa, dicatat olehnya bermula hanya dari kedatangan Ma Hong Fu, pada tahun 1424 (2005: 107). Ma Hong Fu, diangkat duta besar oleh Bong Tak Keng yang ditempatkan di Champa pada tahun 1419. Ma Hong Fu kemudian meninggalkan Majapahit tahun 1449, sendirian melalui Semarang. Slamet dalam hal ini, merujuk pada Kronik Melayu Parlindungan, yang hanya menyebut itu sebagai “supposition” atau dugaan.
Alasan itu kurang begitu kuat, sebab menafikan kemungkinan pernikahan Raja Mapajaphit dengan putri Champa, itu membawa implikasi menafikan hubungan Champa dengan Majapahit, atau seakan Majapahit itu tidak ada kemungkinan hubungan dengan Champa. Dalam hal ini, menurut data yang dikemukakan Tan Ta Sen dalam buku Cheng Ho (2010: 206), hubungan pernikahan antara Champa dan Jawa itu bahkan sudah pernah terjadi, jauh sebelumnya, yaitu: “Di sisi lain, catatan-catatan Champa memaparkan bahwa Raja Jhaya Shimavarman dari Champa menikah dengan seorang putri Jawa pada permulaan abad ke-14, dan seorang Raja Champa mengungsi ke Jawa setelah orang-orang Vietnam menyerbut kota kerajaannya pada tahun 1318.”
Penjelasan Tan Ta Sen ini, menunjukkan hubungan dengan Champa sudah ada sejak permulaan abad ke-14, dan dengan demikian, bukan suatu yang aneh kalau berbagai Babad menyebutkan adanya pernikahan putri Champa dengan Raja Majapahit, selain ada pernikahan dengan putri China. Dengan demikian, pernikahan dengan putri Champa, menjadi lebih mungkin. Apalagi, kerajaan Majapahit saat itu masih menjadi kekuatan besar di Jawa dan sekitarnya, dan tradisi pernikahan anak raja dengan raja atau bangsawan yang kerajaannya menjalin hubungan baik, sangatlah mungkin terjadi, apalagi berbagai penjelasan Babad mengemukakan itu.
Kerajaan Champa sendiri dikabarkan banyak dihuni oleh komunitas Islam. Dalam hal ini, Tan Ta Sen menyebutkan ini berdasarkan penemuan dua batu nisan di Champa di wilayah Phanrang di Champa selatan. Dua batu nisan beraksara Arab itu, berhasil diterjemahkan oleh Paul Ravaisse tahun 1922. Menurut dia, batu nisan pertama, merupakan makam seorang bernama Abu Kamil “Sang pengawal jalanan”. Keberhasilan penerjemahan nisan itu, menurut Tan Ta Sen adalah bukti kuat kehadiran komunitas muslim di Champa pada abad ke-11” (Cheng Ho, 2010: 204).
Hal ini memberi penjelasan, bahwa Kerajaan Champa itu sudah dihuni oleh komunitas-komunitas muslim, yang hal ini diperkuat oleh berbagai cerita Babad; adanya pengungsian orang-orang Champa yang telah dikalahkan oleh Kerajaan Vietnam atau Koci ke Jawa, justru lebih memungkinkan untuk dibaca telah ada hubungan antara Jawa dan orang-orang Champa; dan sudah adanya hubungan Champa dengan Jawa dibuktikan adanya berita dari Champa soal pernikahan Raja Jhaya Shimavarman dengan putri Jawa, berdasarkan apa yang diteliti Tan Ta Sen itu.
Dalam Negarakretagama, sendiri di Pupuh XV pada (1), disebutkan hubungan seperti ini: “Inilah nama Negara asing yang mempunyai hubungan, Siam dengan Ayudiapura, demikian juga Darmanagri, Marutma, Rajapura, begitu juga Singanagari, Campa, Kamboja, dan Yawana ialah Negara sahabat.” Hal ini menunjukkan persahabatan dan hubungan telah terjalin, bahkan dengan Campa sebagai kerajaan sahabat, justru diberitakan oleh Negarakretagama sendiri, dan itu juga memberi arti bahwa pernikahan Brawijaya dan Putri Champa itu memang lebih mungkin dilihat terjadi, sebagaimana diceritakan berbagai Babad.
Dalam Pupuh, LXXXIII item (4) Negarakretagama juga disebutkan: “Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung, dari Jambudwipa, Kamboja, China, Yamana, Campa, dan Karnataka, Goda serta Siam, mengarungi lautan bersama pedagang, resi dan pendeta, semua dengan puas menetap dengan senang.” Paragraf ini juga memberi pengertian bahwa hubungan Majapahit sudah terjalin dengan orang luar, dan wataknya memang terlihat sangat kosmopolit, menerima para tamu dan para pedatang, termasuk dari Champa.
Maka juga tidak heran, kalau disebut ada Putri Champa yang menjadi istri Brawijaya, sebagaimana disebut berbagai Babad, adalah sesuatu yang lebih mungkin, mengingat Majapahit disebut juga pada Pupuh LXXXIII item (2) di dalam Kretagama, sebagai negara besar utama: “Bertambah mashur kepulauan Jawa, di seluruh jagad raya, hanya Jambudwipa dan Pulau Jawa yang disebut sebagai Negara Utama, banyak pujangga dan dan dyaksa serta para upapati, tujuh jumlahnya, Panji Jiwalekan dan Tengara yang menonjol bijak di dalam kerja.”
Kedua, Slamet Muljana hanya membatasi Putri Champa itu sebagai kemungkinan istri Ma Hong Fu saja, dan tidak dilihat juga kemungkinan istri Raja Majapahit, sebagaimana dikemukakan berbagai Babad. Sementara rujukan bahwa putri Champa itu sebagai istri Ma Hong Fu, hanya merujuk pada Kronik Melayu yang ditulis Parlindungan, dan di situ hanya disebutkan “Dugaan”.
Ini membawa kesimpulan lain, bahwa makam di Trowulan itu juga sebagai istri Ma Hong Fu. Padahal, bisa saja, seorang putri dari Negara Champa itu tidak hanya satu, dan karena Babad membicarakan Brawijaya dan informasi yang diperoleh para penulis Babad dari cerita-cerita, memang ada putri Champa, maka dia tidak membicarakan putri Champa lain yang menjadi istri Ma Hong Fu. Apalagi makam yang ada di Trowulan itu, menurut penelitian L Damais masih banyak nissan yang belum bisa diidentifikasi.
Hal ini dikuatkan dengan dua cerita tentang Putri Champa, yang disebut de Graaf yang: pertama, dihubungkan dengan Dampu Awang, dimana Putri Champa dengan nama Nyai Loro Bedhaya sebagai anaknya yang kemudian di bawa kembali ke Champa, berdasarkan Carita Caruban (China Muslim, 2004: 143); dan kedua, adanya ramalan yang dikemukakan dalam cerita di dalam Tantu Panggelaran, dimana Dewi Sri meramal: “Kalau nanti ada ratu yang berkuasa di Jawa, di Daha dengan nama Aji Nini itu aku. Sesudah itu dia naik tahta sebagai Ratu Champa…”
Cerita-cerita yang dikutip de Graaf ini, menggambarkan bahwa putri Champa sudah dikenal di Jawa, atau juga memberi pengertian bahwa seorang perempuan yang berasal dari etnis Champa bukan hanya diceritakan sebagai istri Brawijaya, sebagaimana diceritakan berbagai Babad. Oleh karena itu, berdasarkan cerita-cerita itu, lebih memungkinkan untuk diberi peluang melihat, putri Champa itu tidak hanya satu, merujuk pada putri dari etnis atau kerajaan Champa, telah dikenal di Jawa.
Sementara makam Dwarawati yang ada di Trowulan itu dugaan kuatnya memang istri Raja Majapahit. Hal ini diperkuat, oleh cerita Jawa yang dikemukakan oleh de Graaf: “Dalam cerita Jawa yang lain, pemindahan kerangka yang ada dalam Makam Trowulan ke tempat yang ada di Karang Kemuning, Bonang, juga dicatat (lihat Pigeaud, Literautur of Java, II: 363). Hal ini dilakukan Sunan Bonang, wali dari Tubab, anak Sunan Ampel, untuk menghormati nenek bibinya. Dengan demikian Tuban rupanya memiliki makam wanita yang dimuliakan setelahnya” (HJ de Graaf, China Muslim, 2004: 150). Ini memberi pengertian bahwa ada dugaan sangat kuat, yang dipindah adalah kerangka keluarga Sunan Bonang, yang ada di Majapahit, dan itu adalah putri Champa, yang menjadi istri Brawijaya V, sebagaimana diceritakan berbagai Babad, dan masih berkerabat dengan Sunan Ampel.

No responses yet