Anak-Anak Brawijaya V dan Istri Muslim
Beberapa versi Babad menyebutkan perbedaan dalam menyebutkan jumlah istri dan anak-anak dari Brawijaya V, atau istri Raja Brawijaya ini. Perbedaan dalam versi yang dikemukakan berbagai Babad, tidaklah mengurangi arti penting jaringan yang terbentuk dari keluarga atau anak-anak Brawijaya V, yang kemudian menyebarkan Islam. Versi-versi itu saya narasikan di bawah ini, berdasarkan babad-babad yang dijadikan sumber di sini:
Versi BJT
Dalam versi BJT, Brawijaya V ini memiliki banyak istri, dan yang sering disebut dalam cerita adalah dari China, Champa, dan Wandan-Kuning. Versi BJT, menyebutkan istri dari Champa ini ada dua orang putri: yang tertua bernama Jara; dan yang kedua bernama Ratu Dwarawati. Dari Jara, tidak dijelaskan; sedangkan dari Dwarawati, Brawijaya memiliki anak-anak yang hidup dan menikah: yang sulung bernama Ratu Pambayun (putri), yang kemudian dinikahkan dengan Pangeran Handayaningrat, Penguasa Pengging.
Pernikahan Handayaningrat dengan Pembayun itu terjadi, setelah Handayaningrat memenangkan sayembara, dapat mengalahkan pasukan Bali, dan itu adalah bagian dari hadiah yang diberikan Raja. Anak dari Handayaningrat-Pembayun ini ada dua: Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga, yang kemudian dari Kebo Kenanga, melahirkan keturunan Pengging bernama Jaka Tingkir, menurunkan lagi Hadiwijaya, lalu Pangeran Benawa.
Anak berikutnya, BJT menyebut Lembu Peteng, yang disebut juga sebagai berasal dari istri Champa, dan dia berkedudukan di Mandura, atau menjadi Adipati Mandura. Adiknya lagi, dari istri Champa itu, bernama Putri Masrarah, yang tidak mau menikah, dan hidup mengabdi di Pengging bersama kakaknya. Ketika meninggal, dia dimakamkan di Pengging dengan nama “Makam Rara Kendhat”. Hanya, BJT menegaskan Lembu Peteng itu ada dua, dan Lembu Peteng di Mandura, adalah anak yang dari Champa; dan yang satu dari Tarub adalah anak dari Wandan.
Anak yang lain berasal dari istri lain, melahirkan Raden Jaka Dhamar atau Arya Dhamar, kemudian diberi tempat dan berkedudukan di Palembang, tetapi tidak disebutkan nama istrinya. Putranya yang lain bernama Bathara Kathong berkedudukan di Panaraga, tetapi tidak disebutkan nama istrinya. Ada juga anak-anak dari selir, dua orang putri dan kakak-beradik: yang kakaknya dikawinkan dengan Adipati Lowanu; dan adiknya dikawinkan dengan Adipati Gawong.
Anak yang dari selir, berasal dari Wandan-Kuning, yang dulunya mengabdi kepada Ratu Dwarawati, karena Negeri Wandan dikalahkan oleh negeri Champa, dan salah satu anak Raja Wandan, kemudian menjadi abdi Ratu Dwarawati dan ikut ke Majapahit. Anak dari putri Wandan-Kuning ini, bernama Bondan Kejawan, yang kemudian anak ini dipelihara di Tarub, oleh Ki Ageng Tarub, dan namanya diubah oleh Ki Ageng Tarub menjadi Lembu Peteng.
BJT, memperingatkan bahwa Bondan Kejawan ini juga bergelar Lembu Peteng, dan berbeda dengan Lembu Peteng yang menjadi Adipati di Mandura. Lembu Peteng yang dari Mandura, lahir dari istri padmi (permaisuri); dan yang Bondan Kejawan lahir dari istri ampil, selir.
Ada juga anak Brawijaya dari istri putri China, yang kemudian diberikan kepada putranya di Palembang, karena Ratu Dwarawati tidak suka dengan putri China. Ketika ia diberikan kepada Arya Dhamar, putranya di Palembang, putri China ini sedang mengandung selama 7 bulan, dan tidak boleh digauli sebelum anak itu lahir. Dari putri China ini, lahirlah Raden Patah, yang setelah besar berkedudukan di Bintara Demak.
Ada juga putra Brawijaya V, yang tidak disebutkan namanya, ditempatkan di Sumenep. Selain itu, ada juga putra Brawijaya V dari istri selir, dua lelaki dan 1 orang perempuan: yang paling besar bernama Raden Gugur dan yang paling kecil namanya Jaka Teki; dan yang perempuan bernama Ratu Turnus. Raden Gugur, menjadi senapati Majapahit; Jaka Teki juga di Majapahit. Ketika majapahit dibedah, atau dikenal dibedah lawan, Raden Gugur dan Jaka Teki disarankan agar keduanya (dan saudaranya) tunduk kepada Raden Patah, yang juga masih saudaranya. Akan tetapi Raden Gugur lebih memilih pergi ke Gunung Lawu, dan di sana dia membangun Dukuh Gugur dan membuat perkampungan. Adiknya yang perempuan bertempat di Tempuran, tak jauh dari Gugur.
Ada lagi, anak Brawijaya V dari istri ampil, selir, bernama Jaka Prabangkara, tetapi oleh Brawijaya tidak diakui sebagai anaknya. Istri selir ini digauli setelah Brawijaya istirahat dalam sebuah kampung dan menyamar menjadi rakyat jelata, dan ketika istirahat di sebuah rumah Mantri Jagal, dia memiliki anak perempuan janda yang cantik. Perempuan ini menarik hatinya, dan kelak melahirkan Raden Jaka Prabangkara. Pada awalnya, anak ini disenangi Brawijaya V karena ahli melukis, tetapi ketika dia menggambar lukisan, tintanya yang berwarna hitam ada yang jatuh tepat di bagian alat vital gambar Putri Dwarawati. Ini menjadi kecurigaan Raja, dikiranya, Jaka Prabangkara tahu ada bercak hitamnya di dalam alat vitalnya Dwarawati. Setelah kasus itu, Jaka Prabangkara mau dihukum, tetapi atas saran Patih Gajah Mada, akhirnya cukup dikeluarkan dari kraton dengan diterbangkan melalui layang-layang besar, dan jatuh di negeri China. Pengelanaannya di China sampai bertemu dengan Ratu Ong Tie.
Ada lagi anak bungsu Brawijaya V, dari istri selir, bernama Jaka Karewet, cucu dari Kyai Kartamaya, seorang Mantra Jagal (disebut sebagai anak dari Abdi Jagal Panatus). Jaka Kerewet memiliki keahlian ditaati hewan-hewan di hutan. Kebiasaannya berjalan-jalan, dan memiliki kemampuan bisa tidak dilihat orang. Ketika masuk ke rumah pembesar-pembesar Majapahit, Jaka Karewet tidak terlihat oleh mata karena ilmunya, tetapi dia makan bersama mereka, dan makanan-makanan yang tersaji jadi hilang, sehingga menimbulkan kegegeran di Majapahit. Ihwal ini menjadikan dia dianggap sebagai maling sakti dan dijebak untuk ditangkap.
Versi BMPW
Versi BMPW menyebutkan bahwa anak dari Brawijaya melalui istri Dwarawati ada satu, yaitu Bondan Surati. Sementara dari istri Wandhan, bernama Bondan Kejawan. Bondan Surati hidup selamat dan diharapkan menjadi pengganti Raja Majapahit. Sementara Bondhan Kejawan diberikan kepada seorang petani. Sementara anak Brawijaya, yang dititipkan kepada Arya Dhamar (yang juga anaknya) melahirkan anak bernama Raden Patah. Arya Dhamar sendiri juga berputra bernama Raden Kusen. Dari Palembang, Raden Patah dan Raden Kusen kemudian dikirim ke Majapahit. Raden Patah kemudian menjadi murid Sunan Ampel, dan dinikahkan dengan anaknya, lalu tinggal di Glagah Wangi Bintara, atas petunjuk Sunan Ampel.
Disebutkan BMPW, bahwa suatu ketika Majapahit diserang wabah penyakit, sampai-sampai istri Dwarawati sakit parah. Saat itu, Ki Supa datang ke Majapahit, ingin menemui ayahnya. Ki Supa adalah ahli keris yang berangkat dari Tuban, seorang sahabat Sunan Kalijaga, dan ketika masuk Majapahit itu, dia membawa Keris Sengkalet, yang nantinya diberikan kepada Sunan Kalijaga, dan menjadi pusaka Raja-raja Mataram. Sementara di Kraton Majapahit ada Pusaka Keris Condongcampur. Rupanya, Keris Pusaka Condongcampur di kerajaan Majapahit, marah karena Ki Supa membawa Sengkalet. Dua keris itu saling berlaga dan dimenangkan Sengkalet. Setelah kekalahan Condongcampur, Putri Dwarawati akhirnya mulai sehat, dan orang-orang yang sakit menjadi mulai sembuh.
Dari anak Bondhan Kejawan itu, lahirlah anak laki-laki bernama Ki Getas Pendhawa, yang kemudian menurunkan Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela, beristri perempuan Sumedang (disebut masih cucu dari Dyah Dwarawti). Ki Ageng Sela datang ke Majapahit dan menyarankan agar Raja memeluk Islam, tetapi Raja belum mau. Ki Ageng Sela juga datang kepada Sunan Ampel, dan ketika diberi informasi raja Majapahit belum bersedia masuk Islam, Sang Sunan memberi tahu bahwa jatuhnya Majapahit masih menunggu waktu. Diceritakan pula kemudian Raden Patah dan Ki Ageng Sela, menghadap ke Majapahit dan mengharapkan membangun masjid dan masuk Islam, tetapi sang Raja belum mau. Ketika dikonsultasikan kepada Sunan Ampel, Sang Sunan tidak member izin untuk mengganti Majapahit.

No responses yet