Versi BTJ-Olthof

Dalam versi BTJ-Olthof, Brawijaya V diceritakan bermimpi mempersunting putri  dari negeri Champa. Setelah bangun tidur, sang raja memerintahkan patihnya, Gajah Mada pergi ke Champa membawa surat dan melamar putrinya untuk sang raja. Raja Champa disebut: “Sang prabu berputra tiga, pertama dan kedua putri, sedang kedua laki-laki.” Lamarannya itu diterima, dan sang putri dibawa Patih Gajah Mada ke Jawa bersama Gong Kyai Sekar Delima dan tandu bernama Kyai Jebat Badri. Sementara Raja Champa kedatangan tamu bernama Makhdum Ibrahim Asmoro, yang kemudian dinikahkan dengan anak putrinya yang satu. Setelah sang Prabu Champa meninggal, Champa digantikan anaknya yang laki-laki, tetapi tidak disebut namanya.

BTJ-Olthof, juga menyebutkan ada perempuan anak Denawa atau Raksasi bernama Endang Sasmita Pura, yang kemudian dijadikan selir Brawijaya. Agus Sunyoto, menafsirkan raksasi ini, dalam buku Walisongo sebagai manusia “Penganut ajaran Syiwa-Budha aliran Bhairawa-Tantra yang dalam upacara mistis Pancamakara menggunakan korban manusia.” (Walisong, 2011: 65). Dari Endang Sasmita Pura ini melahirkan anak bernama Arya Dhamar, yang kemudian diberi kedudukan sebagai Adipati di Palembang.

Setelah itu, Brawijaya beristri lagi dan memperoleh putri dari China. Istri tua dari Champa kecewa, tidak rela dimadu dengan putri China. Putri Champa minta dipulangkan kepada orang tuanya, kalau istri muda Sang Raja (dari China) masih di Kraton. Putri China ini akhirnya diberikan kepada Arya Dhamar di Palembang, setelah mengandung 7 bulan. Dari putri China ini, Brawijaya V punya anak bernama Raden Patah; dan Arya Dhamar sendiri dengan putri China itu, punya anak bernama Raden Kusen.

BTJ-Olthof, juga menceritakan istri Brawijaya dengan seorang dari Wandhan, yang kemudian melahirkan anak bernama Bondan Kejawan. Anak ini kemudian dititipkan kepada Ki Buyut Masahar, karena ramalan ahli nujum, kelak anak ini akan menjadi raja, dan merusak diri Sang Raja. Bondan Kejawan kemudian oleh Kyai Buyut Masahar dibawa kepada Ki Ageng Tarub dan dipersaudarakan dengan anaknya, bernama Retno Nawangsih. Nama Bondan Kejawan diubah oleh Ki Ageng Tarub, dengan nama Lembu Peteng. Akhirnya Lembu Peteng dinikahkan dengan Retno Nawangsih, dan ketika Ki Ageng Tarub meninggal, Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya bergelar Ki Ageng Tarub juga. Pasangan ini memiliki dua anak, bernama Ki Getas Pendawa dan putri yang dipersunting oleh Ki Ageng Ngerang. Dari Ki Ageng Getas Pendawa, menurunkan 7 anak, yang pertama laki-laki bernama Ki Ageng Sela.

BTJ-Olthof, juga menceritakan bahwa penguasa Pengging bernama Handayaningrat mendapat hadiah putri Brawijaya, tetapi tidak disebut dari istri yang mana. Kalau menurut BJT, putri ini adalah anak dari Putri Champa, bernama Ratu Pambayun. Perkawinan mereka melahirkan dua anak: Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga. Versi BJT menyebut, Kebo Kanigara ini menganut Budha dan bertapa di gunung-gunung, sementara Kebo Kenanga, beragama Islam dan berguru kepada Syaikh Siti Jenar. Cerita versi BJT ini, dibenarkan juga oleh BTJ-Olthof yang menyebutkan begini: “Raden Kebo Kanigara memilih bermukim di Gunung Merapi, hidup sebagai seorang ajar, istri sebagai endang dan putra-putranya sebagai manguyu dan jejanggan.”

Dari keturunan Kebo Kenanga (yang bergelar Ki Ageng Pengging itu), istrinya melahirkan anak bernama Jaka Tingkir, atau Mas Krebet. Setelah besar, Jaka Tingkir kemudian berguru kepada Ki Ageng Sela (anak Ki Ageng Getas Pendawa), dan kemudian mengabdi kepada Sultan Demak. Setelah Jaka Tingkir diterima di Kraton Demak, datang seorang yang bernama Dadung Awuk yang sombong mau mendaftar menjadi prajurit, tetapi kemudian bertemu Jaka Tingkir. Keduanya adu kemampuan, dan Dadung Awuk meninggal. Setelah tahu bahwa Jaka Tingkir membunuh orang yang akan daftar menjadi tantama, Jaka Tingkir diusir berkelana sampai di Gunung Kendeng, dan bertemulah dalam pengelanaannya dengan Ki Ageng Butuh. Oleh Ki Ageng Butuh, Jaka Tingkir dibawa ke Butuh dan disambut pula oleh Ki Ageng Ngerang. 

Setealah belajar di Butuh, Jaka Tingkir kembali ke Demak, tetapi belum bisa diterima Sultan Demak, lalu dia mengembara lagi ke makam ayahnya, dan mendapat suara agar pergi kepada Ki Buyut Banyu Biru. Setelah bertemu Ki Buyut Banyu Biru, Jaka Tingkir diangkat menjadi anaknya. Ki Buyut Banyu Biru, kemudian menggembleng Jaka Tingkir, dan dipersaudarakan dengan Mas Manca (anak dari Jaka Leka, yang disebut juga oleh BTJ-Olthof berasal dari trah Majapahit), dan Ki Wuragil (saudara laki-laki Ki Buyut Banyu Biru), dan Ki Wila (anak Ki Buyut Banyu Biru). 

Ketiganya, dan berempat dengan Jaka Tingkir, kemudian pergi ke Kraton Demak. Pada suatu saat di Demak ada kerbau mengamuk, dan Jaka Tingkir dipanggil oleh Sultan, bila bisa mengatasi kerbau itu, kesalahannya akan diamaafkan. Setelah berhasil mengalahkan kerbau itu, Jaka Tingkir akhirnya dinikahkan dengan putri Sultan Demak yang keempat, lalu diangkat sebagai Bupati Pajang. Dalam versi sumber-sumber lain, Sultan Demak ini adalah Sultan Trenggana, bukan masa Raden Patah.

Versi BTJ-Jayengrat

Versi BTJ-Jayengrat hanya menyebutkan tentang 3 istri Brawijaya,  yaitu putri Champa, putri China dan putri Wandhan. Tentang  Putri Champa hanya disebut begini: “Brawijaya sangat cintanya, diangkat sang putri China, sebagai istrinya yang muda, diangkat dimulyakan. Permaisuri Dwarawati, istrinya yang tua, cintanya menajdi berkurang,. Permasuri segera menangis minta cerai dipulangkan kepad orang tuanya: “Saya putri dari Champa.” Putri China ini akhirnya diberikan kepada Arya Dhamar dengan memerintah Patih Gajah Mada untuk mengantarkan putri China itu.

Tentang putri Champa dengan Brawijaya, tidak disebutkan siapa anaknya. Sedangkan tentang putri China, disebutkan anaknya adalah Raden Patah. Anak ini lahir dari Raja Majapahit, Brawijaya, yang kelahirannya ketika anak ini sudah dititipkan kepada Arya Dhamar. Sementara Arya Dhamar punya anak dari Putri China itu, bernama Raden Kusen.

Versi BTJ-Jayengrat, juga menyebut anak Brawijaya dari Endang Sasmita Pura, sebagai istri selir, yang disebut dengan Ni Raksesi. Ketika sudah mengandung, Endang Sasmita Pura, perutnya mual-mual dan minta daging mentah, dan ketika diberi, lalu dimakan, menjadikan rupanya Ni Raksesi kembali ke asal. Endang Sasmita Pura akhirnya membuat geger, disebut begini: “…Geger dalam istana, marah Sang Raja, perutnya dipukul segera dan akan dibunuh.” Ni Endang Sasmita Pura kemudian berlari dan kembali ke asalnya, di hutan, yang kemudian melahirkan Ki Dilah. Ketika menginjak besar, dari hutan Ki Dilah pergi ke Majapahit dan diterima sebagai abdi Majapahit, lalu diperintahkan untuk menjadi Adipati di Palembang.

Istri yang satunya lagi disebut sebagai istri dari Wandan (Pupuh 12, No. 35 dan seterusnya). Istri ini dijadikan selir setelah Brawijaya sakit raja singa, dan mendapatkan suara ketika tidur: “He sang prabu, engkau akan sembuh penyakitmu raja singa, tidurlah dengan Wandhan.” Cerita penyakit raja singa dari Raja Brawijaya ini juga disebut dalam BJT. Oleh BTJ-Jayengrat, nama dari putri Wandhan ini disebut dengan Dhriyasakara, digambarkan keriting tetapi cantik. Putri Wandhan adalah abdi Putri Champa. Putri Wandhan diboyong ketika negaranya kalah dengan Kerajaan Champa, dan bersama ikut Putri Champa. Dari Putri Wandan ini, lahir Bondan Kejawan, yang kemudian dititipkan kepada Ki Juru Sawah (versi BTJ-Olthof disebtu sebagai Ki Buyut Masahar). Atas perintah Brawijaya kepada Ki Juru Sawah, setelah Bondan Kejawan besar, anak itu agar dititipkan kepada Ki Ageng Tarub. Bondan Kejawan diubah namanyanya oleh Ki Ageng Tarub menjadi Lembu Peteng.

BTJ-Jayengrat juga menyebutkan bahwa Bondan Kejawan kemudian disaudarakan, lalu dinikahkan dengan anaknya Ki Ageng Tarub, bernama Dewi Nawang Sih, lahirlah Ki Ageng Getas Panjawi (bukan disebut dengan nama Ki Getas Pendawa). Sedang anak perempuannya dinikahkan dengan Ki Ageng Erang. Ki Ageng Getas Panjawi ini memeliki 7 anak, dan yang laki-laki bernama Ki Ageng Sela, dan yang lain semua perempuan. Ki Ageng Sela, berputra 6 orang dan hanya 1 orang yang laki-laki, yaitu bungsu, yang namanya adalah Ki Ageng Enis, dan putra Ki Ageng Enis adalah Ki Ageng Pemanahan.

Sementara adik dari Ki Ageng Sela, yang perempuan itu menikah dengan Ki Ageng Erang (menjadi Nyi Ageng Erang), dan memiliki anak namanya Ki Ageng Pathi; Ki Ageng Pathi kemudian berputra Ki Penjawi. Sedangkan adik Ki Ageng Sela yang bernama Nyai Ageng Saba, memiliki dua orang putra, yang laki-laki namanya Ki Juru. Dari mereka inilah (Ki Ageng Pemanahan, Ki Penjawi, dan Ki Juru) lahir Trah Mataram. BTJ-Jayengrat ini tidak menyebut istri lain Brawijaya, dan pembahasan banyak membicarakan asal mulanya Mataram dan dinamika kerajaan Mataram.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *