_Santri alim juga baik, sebab tidak memalukan kiainya. Santri bodoh juga baik berarti ia tidak tawadhu’ tidak ingin menyaingi kiainya._

Gus Baha

Seorang guru atau kiai pasti memiliki dedikasi yang tinggi dalam mendidik santri, dengan harapan agar semua murid atau santri menjadi pandai.  Setidaknya si santri menjadi lebih baik lebih pandai dari sebelumnya. Akan tetapi bagiamana pada titik realitas tidak setiap santri memiliki tingkat kepandaian yang sama. Ada santri yang pandai ada yang kurang padai atau bahkan bodoh.

Dengan dua tipologi santri–pandai dan bodoh–ini seringkali memunculkan perbedaan perlakuan terhadap keduanya. Santri yang pandai nampak didudukkan pada posisi istimewa. Sebaliknya santri yang bodoh dianggap sebagai aib, pemalas dan tidak memiliki sisi baik. Bahkan boleh dikatakan santri bodoh adalah biang kekecewaan kiai.

Anggapan yang demikian sangat wajar bagi guru atau kiai yang memiliki idealisme yang tinggi. Termasuk mengidealkan semua satri hendaknya memiliki kepandaian yang sama. Santri yang baik adalah santri yang pandai. Nah, disinilah perlunya suatu pemahaman agar santri yang pandai tidak menjadi sombong, sedang santri yang bodoh tidak terpinggirkan.

Pada titik ini, cara pandang Gus Baha dalam memandang dua tipe santri–pandai dan bodoh–ini menempati posisinya. Dalam pandangan beliau santri pandai dan bodoh sama baiknya. Beliau mengatakan, “Santri yang pandai baik sebab tidak membikin malu kiainya. Santri yang bodoh juga baik menandai ia tawadhu tidak ingin menyaingi gurunya.”

Penulis memahami cara pandang Gus Baha pada dua tipe santri ini, dapat menempatkan santri lada posisi yang proporsional. Santri yang pandai menandakan keberhasilan pendidikan yang diberikan kiai. Sedang santri yang bodoh adalah cerminan santri yang rendah hati, tidak ingin mengungguli keilmuan kiainya.

Di sisi lain, penulis menilai bahwa cara pandang Gus Baha ini adalah sebuah khazanah. Bukan saja menjadikan semua mendapatkan posisi dengan predikat baik, melainkan juga dapat menundukkan kesombongan dan mengangkat harkat dan martabat.

Demikian khazanah pemikiran Gus Baha. Semoga mengilhami pola pikir kita dalam memandang segala sesuatu. Segala sesuatu pada titik tertentu memiliki sisi baik, asalkan berbasis kesalehan.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Kediri, 10-06-2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *