Isolasi atau terisolasi

(Cerita selama di RS selama 13 hari hingga istri saya positif COVID-19)

Setelah tiba di RSUD Tugurejo Semarang, saya merasa tenang, karena saya merasa bahwa semuanya akan dipantau dan diperiksa oleh dokter. Setidaknya ada 3 dokter dengan keahlian yang berbeda. Pertama, dokter spesialis paru-paru. Kedua, dokter spesialis penyakit dalam. Ketiga, dokter umum.

Dinyatakan Positif COVID-19

Baru pada hari ke-5 di RS, saya dan istri saya Nurul Bahrul Ulum dinyatakan terkonfirmasi positif COVID-19. Malam 18 November 2020 itu, kami dikunjungi oleh dokter P Iman Nugroho, Sp.P, M.Kes, pimpinan RSUD Tugurejo, lalu memberitahukan hasil swab saya dan istri bahwa kami positif COVID-19. 

Untuk saya, hasil swab positif COVID-19 tidak terlalu mengagetkan, Karena sejumlah gejala klinis sebelumnya telah mengarah ke sana. Namun, sungguh mengagetkan untuk istri saya. Karena, istriku sejak dari rumah tidak mengalami gejala dan keluhan apapun, sehat-sehat saja. 

Mengapa Istriku Positif? 

Banyak yang bertanya kenapa istriku positif? Iya, ini memang sangat mengagetkan. Dia selama 13 hari menemani saya di RS, sehat-sehat saja. Hanya beberapa hari terakhir muncul batuk-batuk kecil dan sesak napas. Pengecekan suhu, tensi, dan oxygen selalu normal dan baik. 

Niat awal istriku ke Semarang memang mengantarkan dan menemani saya. Saat pendaftaran di IGD, dia bertanya ke bagian admin, “Bolehkah saya menemani suami saya selama di RS?” Pertanyaan ini muncul karena melihat kondisi saya yang –menurutnya—harus ditemani. Dia sangat kuatir dengan kondisi saya. 

Jawaban admin, “Pada prinsipnya, di ruang isolasi tidak boleh ditemani. Tapi kalau kondisi pasien parah dan harus ditemani, maka Mbak harus tercatat sebagai pasien.” Mendengar jawaban ini, istriku langsung menyetujui bahwa dia tidak keberatan tercatat sebagai pasien agar bisa menemani saya.

Sebagai pasien, istriku diperiksa juga suhu, tensi, oxygen, dan di swab test selama 4 kali. Pada swab pertama dan kedua itulah, dia dinyatakan terkonfirmasi positif COVID-19.

Muncul spekulasi, dari mana istriku tertular. Kemungkinan paling besar adalah dari saya. Karena, istriku lah orang yang paling intim dan intens berhubungan dengan saya. Kontak ini terjadi sejak di rumah hingga ke rumah sakit. 

Akhirnya, kami berdua sekamar sebagai pasien positif COVID-19. 

Pelayanan Prima

Selama 13 hari di RS Tugurejo Semarang, kami merasa memperoleh pelayanan yang sangat baik. Sembari diinfus dan mengenakan oxygen, setiap hari pada pagi, siang dan sore kami selalu dicek suhu badan, tensi, dan kadar oxygen dalam tubuh. Kami juga selalu ditanya keluhan-keluhan klinis.

Satu per satu keluhan klinis diobati dan terus dipantau oleh dokter spesialis pada bidangnya. 

Rutinitas di RS

Sebagai orang yang sedang diisolasi, tentu kami ditempatkan di ruangan khusus. Tidak boleh keluar kamar, kecuali untuk berjemur sekitar 15-30 menit pada hari Sabtu, Minggu, dan Selasa saja. Hari-hari yang lain dilarang berjemur, karena ada aktivitas yang mengganggu pasien berjemur.  

Sehari-hari hanya di kamar ber-AC, makan, minum, tidur, sholat, ngaji Qur’an, dan berdoa. Untuk melawan kejenuhan, kami kadang lihat Drakor, youtube tentang Gus Dur (sampai habis), berita TV melalui youtube, stand up commedy, sholawatan, dan barzanji. 

Saya sangat beruntung ditemani dan dilayani oleh istri saya selama diisolasi. Ada teman ngobrol, diskusi, dan Curhat. Fisik saya diobati oleh dokter, psikis dan mental saya terobati oleh istri saya. Ini sangat penting, terutama di hari-hari awal saya diisolasi. 

Saat saya diinfus, menggunakan oxygen, badan lemas, suhu naik turun, adanya istri yang mendampingi sungguh sangat berarti. Terutama ketika mau ke kamar mandi dengan segala keperluannya, makan, minum obat, dll. 

Saya tidak membayangkan jika tidak ada istri yang mendampingi. Mungkin bukannya isolasi, malah saya teriisolasi (dikucilkan). Bukannya akan mempercepat kesembuhan secara fisik, tetapi bisa jadi psikisnya juga terluka. 

Apalagi saya mendengar beberapa ruang isolasi bukan di RSUD ini ditempatkan secara tidak memadai. Misalnya, dekat kamar mayat, tidak ada perawat yang rutin mengawasi, peralatan yang tidak memadai, konsumsi yang tidak rutin, tempat yang tidak nyaman, dan sejenisnya. Ini alih-alih akan mempercepat kesembuhan pasien COVID-19, kondisi ini justru merusak psikis dan ketenangan pasien. [] @marzukiwahid

TETAP JAGA DIRI, JAGA JARAK, DAN SALING JAGA

Pake masker

Cuci Tangan pake sabun

Jaga jarak

Sumber: FB Marzuki Wahid

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *