Diskusi Buku “Berebut Kuasa Malaka” : Kesamaan Visi Aceh-Johor dalam Mengusir Portugis

53
299

Tangerang Selatan, Jaringansantri.com ‐ Sejarawan muda Johan Wahyudi, dalam diskusi bukunya yang berjudul “Berebut Kuasa Malaka: Relasi Diplomatik Kesultanan Aceh dan Johor Abad XVI-XVII”, menyampaikan bahwa kajian ini menitikberatkan pada relasi diplomatik
antara Aceh Darussalam dan Johor. Islam Nusantara Center (INC), Sabtu (5/11).

Di antara kerajaan-kerajaan lainya, hubungan Aceh dengan Johor, meskipun hubungannya digagas berdasarkan kesamaan visi mengusir Portugis Malaka, namun kerapkali diselubungi oleh pelbagai kecurigaan.

Johan mengatakan bahwa Ketika mengetahui Johor ikut serta membantu Portugis, petinggi Aceh telah mafhum, Johor telah terperdaya pengaruh Portugis. Di sisi lain, Johor pun tidak serta merta mendukung secara penuh ajakan menyerang
Portugis, karena kerajaan ini beranggapan Aceh menyimpan motif tertentu.

“yakni dengan membungkus rapat kemungkinan menjadi penguasa tunggal di kawasan perairan Malaka dan sekitarnya atas dalih mengalahkan Portugis,” ujarnya.

Buku “Berebut Kuasa Malaka” karya Johan Wahyudi MA.

Jika dikontekstualisasikan, nama Malaka sudah sangat kerdil sekali pada masa sekarang ini. “Memang kalau kita lihat relevansinya dengan masa sekarang, ini nama Malaka tentu saja sudah sangat kerdil sekali ya. Sudah sangat kerdil dalam artian apa? mungkin hanya menjadi tempat wisata, begitu,” terangnya.

Padahal, menurutnya, jika ditinjau dari sejarah Malaka di masa silam, kurang lebih di abad ke-16, Malaka merupakan salah satu pasar yang ramai di dunia.

“Kalau kita kembali ke masa silam kurang lebih di abad 16 itu Malaka menjadi, saya kira, salah satu pasar yang ramai di dunia. Belum ada New York, belum ada London, belum ada Paris, Malaka lah yang disebut-sebut oleh orang-orang dari Eropa, dari China atau dari dunia Arab,” Tambahnya.

Meminjam istilah dari Denys Lombard, Ia juga mengungkapkan pentingnya Malaka pada masa itu sebagai entrepot, “kalau dari istilah Denys Lombard itu kita mengenal istilah entrepot. Entrepot itu suatu pelabuhan yang menjadi titik temu para pedagang-pedagang dari luar negeri yang datang ke satu titik.”

Di titik itulah para pedagang melakukan perkulakan, melakukan hubungan dagang dengan pedagang-pedagang lokal serta penguasa-penguasa setempat. Dan itu salah satunya bisa dilihat dalam Malaka.

Dalam buku tersebut Johan sangat menonjolkan keunikan Malaka yang ia ungkapkan lewat judul “Berebut Kusasa di Malaka”. Ia menyampaikan bahwa dalam sejarahnya, Malaka merupakan tempat yang dianggap sangat penting bagi orang-orang melayu.

Di masa lalu belum ada semacam border nation, yang ada hanya tempat-tempat suci yang perlu diperhatikan. Selain Malaka, keberadaan bukit Siguntang di Palembang, yang dalam manuskrip Nurudin Ar Raniri disinggung sebagai tempat lahirnya para pendahulu-pendahulu Malaka sebelum mereka berkuasa di Malaka, juga tidak bisa diabaikan jika mengkaji tentang Malaka.

“Jadi palembang itu mengklaim diri kadang-kadang, ini kamilah Melayu yang sesungguhnya. Salah satunya dengan apa? dengan adanya tempat suci bukit Siguntang, begitu,” tandasnya.

Dalam pemaparannya ia mengatakan bahwa Malaka mampu menjadi mercusuar peradaban di abad ke-16 karena sebelumnyapun pendiri Malaka, yatitu para Meswara, merupakan pelarian politik dari Palembang.

“Jadi masa Sriwijaya terjadi kraman, beberapa pergolakan-pergolakan lokal. Salah satu dari, katakanlah, kelompok ningratnya, para Meswara lari ke Malaka. Jadi memang silang sengkarut kerajaan-kearajaan Nusantara ini tidak bisa kita abaikan dalam mengkaji Malaka itu sendiri,” Jelas dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Dr. Fakhriyati sebagai pembanding

Sementara itu, hadir sebagai pembanding, Dr. Fakhriyati (peneliti Kemanag RI) memberi apresiasi bahwa buku ini mengupas dengan renyah
sejarah Aceh dan Johor. Kendati tema tersebut termasuk klasik, Johan Wahyudi mampu
menampilkannya secara atraktif.

“Saya melihat ia berani menyisir tema melankoli dan tragedi secara lebih baik. Di samping arsip, Manuskrip sebagai sumber primer lokal tidak
lupa ia singgung, seperti Sullatuasalatin dan Tajussalatin. Keseimbangan sumber primer
ini membuat buku ini bisa tampil secara netral dan tidak berpihak. Ini menunjukkan keluasan wawasan dan pengetahuan penulis tentang tema ini,” pungkasnya. (Umrotun Nida/Wafa).

Penulis bersama peserta diskusi buku. Islam Nusantara Center (INC). Sabtu 5 Oktober 2019.

53 KOMENTAR

  1. Currently, tadalafil is the only medication that patients can take on a daily basis and is approved for the treatment of both ED and BPH (benign enlargement of the prostate).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here