Oleh: Ichsan Wibowo (mahasiswa Jurusan Ilmu Tafsir dan Al-Qur’an UIN Walisongo Semarang)
Dalam setiap perkembangan zaman pasti ada salah satu peninggalan yang menjadi ciri khas budaya atau kebiasaan masyarakat. Begitu pula akan ada juga beberapa aturan-aturan yang terdapat pada zaman tersebut yang sedikit berbeda dengan zaman sekarang ini. Cara kita mengetahui akan adanya peradaban disuatu bangsa adalah dengan meneliti bukti sejarah yang berupa peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah tersebut bisa berupa kebiasaan, bangunan peribadatan, dan berupa catatan-catatan kisah atau hukum pada masa itu.
Hal yang paling mudah dan populer dalam menilik bagaimana sejarah itu berkembang adalah dengan mengkaji manuskrip-manuskrip yang ditulis pada masa itu. Sebuah karya tulis tidak akan cepat hilang dikarenakan akan banyak seseorang yang peduli dengan karya tersebut sebagai pedoman kehidupan. Semakin lama manuskrip itu ditemukan akan semakin berharga dan sangat dijaga keutuhannya demi perkembangan keilmuan pada masa mendatang.
Manuskrip kitab iman dan fikih ini merupakan salah satu dari berbagai manuskrip yang ada di Nusantara. Manuskrip ini berasal dari Bantilan, Batu Putih. Naskah ini merupakan naskah yang dimilki Marwan dari Abdul Ghani. Naskah ini berbahasa Arab, akan tetapi ada terjemahan dibawahnya dengan bahasa jawa pegon. Naskah ini berbentuk prosa yang berisi 24 halaman. Tiap halamannya berisi 7 baris. Kertasnya sendiri berukuran 25.5×19 cm. Bahan dari kertas ini berasal dari kertas daluwang. Kondisi naskah ini sudah banyak kerusakan dibagian samping-samping kertas, tetapi untuk hurufnya masih nampak jelas dibaca.
Dalam naskah ini berisikan dua pokok pembahasan. Pertama, teks ini menjelaskan tentang bab iman. Kedua, teks ini menjelaskan tentang bab peribadatan. Untuk penulisan bab iman terdiri dari 4 halaman pertama. Untuk bagian yang kedua memiliki beberapa keterangan tentang peribadatan dimulai dari berwudhu sampai menjalankan puasa dan juga ada sedikit tambahan penjelasan tentang haji.Sejauh yang saya mengerti, teks ini kurang diterangkan siapa yang menulis. Keunikan dari naskah ini adalah ada catatan kecil diatas teks dan dibawahnya seperti catatan kaki untuk tambahan penjelasan atas teks yang dibahas. Akan tetapi untuk teks yang memuat peribadatan tidak ada catatan tersebut. Penulisan terjemahan sangat rapi, mudah untuk dibaca , dan dipahami.
Untuk bab iman tidak begitu banyak dielaskan dalam naskah ini. Sebagian besar naskah menjelaskan peribadatan manusia terhadap Allah. Penjelasan dimulai dari bab bersuci, yaitu berwudhu. Pada awal pembahasa bab peribadatan terdapat penjelasan bahwa kitab tersebut berdasarkan pada madzhab Imam Syafi’i. Dijelaskan juga hadits tentang keutamaan menuntut ilmu bagi kaum muslimin. Dalam wudhu dijelaskan bahwa apabila tidak ada air yang mencukupi maka bertayamumlah dengan debu yang suci. Terdapat beberapa penjelasan tentang syarat wajibnya shalat. Yang pertama yaitu islam, Kedua baligh, ketiga berakal, keempatnya suci. Terdapat juga bacaan doa ketika akan masuk wc.untuk bagian akhir bab ini ditutup dengan pembahasan tetang haji. Akan tetapi pembahasannya tidak begitu banyak tentang hal tersebut.
Bagi yang paham tentang aksara arab pegon akan banyak mendapat pengetahuan dari membaca manuskrip ini. Dengan membaca manuskrip ini akan menambah keilmuan kita tentang keimanan dan mecoba supaya lebih meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. Yang kedua, kita akan mendapat banyak hal dalam bidang fikih terutama dalam beribadah kepada Allah. Ada banyak tuntunan yang dijelaskan dalam manuskrip ini. Meski telah beberapa tahun mansukrip ini dibuat, tetapi sampai saat ini masih bisa dibaca dan dipahami maknanya. Maka dengan demikian kita sebagai pewaris harus bisa menjaga manuskrip ini yang merupakan salah satu peninggalan bersejarah dan berpengaruh dalam perkembangan agama islam di Nusantara.

No responses yet