Oleh: Ija syafah (Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan Jakarta)
Sebelum berjalan lebih jauh, ada baiknya kita mempelajari pengertian dari
menegur atau mengingatkan terlebih dahulu. Menurut KBBI, kata menegur seperti
yang sedang kita bahas ini, berarti “Mengajak bercakap-cakap, Mengkritik,
Memperingatkan, Menasihatkan”. Jadi bisa kita tarik kesimpulan bahwa menegur
adalah suatu cara yang bisa kita lakukan terhadap orang lain yang dirasa
melakukan kesalahan atau ke-khilafan. Caranya adalah dengan memberi nasihat
atau memperingatkan dengan mengajaknya bercakap-cakap. Tujuan utamanya
adalah agar orang tersebut bisa sadar akan kesalahannya dan tidak melakukannya
lagi.
Nah fenomena ini sudah sering sekali terjadi dan menimbulkan beberapa polemik.
Ada yang jadi bertengkar perkara hal ini, ada juga yang tidak terima karena di
komentari seperti itu. Namun ada juga orang yang beranggapan bahwa hal itu sahsah saja dilakukan apalagi sesama muslim memang diharuskan untuk saling
mengingatkan atau menegur. Tapi ada juga yang membantah kalau mengingatkan
juga harus memperhatikan etika dan perasaan. Berbagai perdebatan juga sudah
banyak terjadi perkara hal ini. Jadi mana yang benar? Apakah sah-sah saja
meningatkan dengan cara seperti itu? Atau ada etika nya? Mari kita simak
penjelasan dibawah ini.
Dalam islam sendiri, Menegur orang yang melakukan ke-khilafan atau kesalahan
merupakan tindakan yang sangat diperintahkan oleh islam. Memberikan nasihat
adalah akhlak yang sangat mulia apalagi di dalam islam. Bahkan prinsip utama
dalam menopang agama adalah dengan saling menasihati antar satu sama lain.
Bahkan hal tersebut ada dalam QS. Adz Dzariyat ayat 55 yang terjemahannya
berbunyi :”Dan tetaplah memberi peringatan, Karena sesungguhnya peringatan itu
bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”.
Lalu ada juga QS. An Nahl (16) : 125 yang terjemahannya berbunyi :
“Serulah (Manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
Hal ini juga ditegaskan dengan hadits :
“Agama adalah ketulusan (nashihah). Kami bertanya, kepada siapa? Beliau
bersabda, Kepada Allah, kitab-nya, Rasul-nya, para pemimpin Muslim dan
masyarakat umum.” (HR Muslim)
“Barang siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala
sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, barang siapa mengajak
kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orangorang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR
Muslim).
Demikian kurang lebihnya saya mohon maaf

No responses yet