Saya pernah menulis di FB tentang wali santri dari Bali yang namanya Ustadz Erfan, baca di https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=616842615779833&id=100023623007183

Beliau dan istrinya adalah guru ngaji TPQ yang tanahnya milik orang Hindu dan dikontrakkan. Orang Hindu ini baik hati, tanahnya boleh dibangun TPQ untuk mengaji anak-anak muslim.

Selain menjadi guru ngaji, ustadz Erfan juga buka warung, jualan lele dan berdagang krupuk dengan digoreng sendiri  lalu dijual dan diedarkan sendiri ke warung-warung sekitar tempat tinggalnya. Karena berkah, hasil jualan kerupuk bisa untuk mencicil mobil Ertiga. Kurang dua kali cicilan lagi lunas, Alhamdulillah.

Ustadz Erfan baru saja berada di Jombang untuk menjemput dua anaknya yang mondok di Tambakberas. Dia menceritakan perkembangan positif dari anak perempuannya yang baru dipondokkan itu. 

Entah bagaimana ceritanya kok jagongannya  sampai membahas kenalan Ustadz Erfan seorang Hindu yang  pernah bertanya, “Kenapa putra-putrinya sekolahnya jauh di Jawa, di Bali kan juga ada sekolah.” 

Jawaban Ustadz Erfan ringkas dan jelas, “Agar mereka bisa berlatih mandiri.” Memang salah satu faktor penting mondok adalah melatih mandiri sedikit demi sedikit.

Orang Hindu yang bertanya  itu adalah Pak Darius atau Pak Nengah. Pak Nengah adalah  pedagang sekaligus  pemangku adat. 

***

Baru-baru ini Pak Nengah yang ditemani orang-orang Bali pernah berkata kepada Ustadz Erfan dengan berseloroh, “Ini lho temannya kelompok yang demo itu.” Kebetulan waktu itu di Jakarta ramai-riuh terkait dengan kelompok keislaman yang show of force.

Ustadz Erfan paham bahwa itu guyon, tapi karena di sekitar Pak Nengah  ada orang lain, maka perlu dijawab. Ustadz Erfan berkata, “Pemahaman Islam saya dengan mereka tidak sama. Seperti di Bali sendiri juga ada beberapa kelompok yang beda.” 

Pak Nengah mengakhiri ucapannya, “Mau jadi apa kalau mereka itu menguasai negara ini, bisa perang saudara.” Tentu ini adalah kekhawatiran umat lain sesama warga NKRI yang perlu kita renungkan bersama.

***

Ustadz Erfan juga sering berkunjung ke dokter spesialis anak yang namanya  dokter Wirata. Tiga putra-putrinya semuanya langganan dokter itu saat sakit.

Dokter Wirata ini pengagum Gus Dur karena Gus Dur biasa bergaul dan mengunjungi mereka saat di Bali. Lebih dari itu, ternyata dokter Wirata suka dengan Gus Dur karena humornya yang menggelitik.

Memang setelah pilkada DKI dan pilpres 2019, nampaknya wajah umat beragama lebih “serem dan garang” baik karena ucapan-ucapan, tulisan maupun aksi-aksinya. Candaan dan humor kayak barang  mahal saja.

Dokter Wirata juga mengagumi Gus Dur  karena penuh toleran. Sikap toleran Gus Dur ini yang menjadikan warga Hindu Bali juga menyambut baik orang-orang NU.

Tidak hanya dokter Wirata, Pak Agung yang pensiunan PNS juga pernah berkata ke Ustadz Erfan bahwa beliau  suka membaca literatur NU dan Gus Dur  walau dia Hindu.

***

Kata Ustadz yang sejak di MAPK tidak neko-neko dan jujur ini, mereka bisa dikatakan mewakili suara masyarakat Bali yang memang bersahabat dengan orang NU dan suka kepada Gus Dur. Gus Dur banyak kontribusinya dalam menyatukaan warga NKRI. Lahul Fatihah.

***

Foto lokasi ngaji  Ustadz Erfan di Denpasar yang tanahnya milik orang Hindu. Namanya “Rumah Ngaji Ash Shibyan’. Juga foto anak-anak yang antri mau mengaji.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *