Banyak pakar yang menafsirkan ajaran Islam sebagai ajaran “jalan tengah”. Apakah sebagai sebuah pandangan ideologis atau praktik amalan kulturalnya. Sebagai sebuah “ideologi” ajaran Islam juga memiliki dua kutub ekstrim yang “berlawanan”. Satu titik sangat tekstualis dan pada titik yang lain sangat substantif. Mereka yang tekstual begitu meyakini bahwa teks ajaran itu tak perlu ditafsiri lagi (secara kontekstual) untuk mencari makna atau pesan tersembunyinya. Sedangkan yang substantif selalu mencoba mencari “pesan” apa yang ada di balik teks, termasuk dengan mengungkap konteks turunnya atau terbentuknya teks tersebut.

Di antara dua ekstrim inilah ada ruang pemahaman ideologis yang cukup luas yang diikuti mayoritas ummat dan juga ulama. Mereka mencoba (secara penuh kesadaran) menemukan titik temu di antara dua ekstrim tersebut. Inilah yang kemudian dikenal sebagai “jalan tengah”.

Begitu panjang dan luas area jalan tengah ini, sehingga ada titik-titik yang dekat dengan ekstrimitas dua ideologi di atas. NU dan Muhammadiyah adalah mereka yang berada disekitaran titik tengah meskipun berseberangan area. MU lebih ke sisi tekstual dan NU di sisi substansial. Dua organisasi yang memiliki ummat paling banyak di Indonesia inilah yang menjadi penyokong utama “jalan tengah”.

Mereka yang berada di titik ekstrim kanan dan kiri ketika mencapai titik kejenuhan akan kembali ke titik dua organisasi tersebut. Satu kelompok yang berada di luar dua ekstrimitas ini yakni kelompok yang selama ini dikenal kelompok “liberal-sekular” akan cenderung melompati jalan tengah langsung masuk ke titik ekstrim tekstual ataupun substansial. Fenomena inilah yang kemudian dikenal dengan fenomena “hijrah” menjadi pengikut salafy dan “hijrah” menjadi pengikut “tasawuf atau Islam spiritualis”. Fenomena ini sangat umum terjadi di kalangan muslim perkotaan atau urban.

Fenomena hijrah atau pertaubatan dari kalangan muslim perkotaan yang awalnya awam dalam beragama dipicu oleh banyak faktor. Meskipun umumnya dipicu oleh faktor ekonomi dan juga faktor transmisi ideologis lewat komunitas yang bersifat eksklusif. Seperti yang terjadi di kalangan artis dan pekerja eksekutif. Tak jarang gejala ini juga dipicu oleh kegagalan “sosial” karena kelelahan mengikuti ngaya hidup yang hedonis penuh dengan “kemaksiatan” di kalangan artis.

Sedangkan di kalangan eksekutif, proses ini seringkali diperkuat dengan ketatnya persaingan bisnis yang menuntut banyak “siasat” yang jauh dari nilai kejujuran. (Bersambung). #SeriPaijo

Batu, 1 November 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *