Berawal dari kelompok studi ini, mereka senantiasa rajin mengadakan kajian-kajian keislaman versi ajaran-ajaran yang terinspirasi dengan qaul dan Fatwa Najd sebagaimana saya sebutkan sebelumnya. Mereka membandingkan praktek kebiasaan peribadatan di Indonesia dengan kebiasaan di Saudi Arabia.
Imron dan kawan-kawan prihatin sekaligus kecewa dengan penerapan ibadah Islam di Indonesia yang dipenuhi dengan praktek bid’ah, kekufuran dan khurafat. Apalagi hal ini termasuk perbuatan Syirik yang tidak ada Udzhur (tidak ada maaf )karena kebodohan dalam perkara Syirik akbar, dan membuat pelakunya kafir walau sholat, puasa, zakat dan bersyahadat.
Ada semacam trend bagi gerakan Islam pada saat itu, kesamaan nasib, termarginalkan, kesamaan diperlakukan diskriminasi, hak-hak politik yang terabaikan oleh rezim yang berkuasa, Arab Saudi saat itu adalah negara yang memberikan rumah aman dan harapan optimisme bagi para aktifis gerakan Islam diseluruh dunia, menjadikan Negara Arab Saudi sebagai tempat Hijrah dan berkumpulnya para aktifis diseluruh negeri-negeri muslim, hal ini tidak lepas kondisi politik dunia saat itu yang menjadikan aktifis Islam sebagai musuh bahaya laten seperti Indonesia, misalnya sikap keras rezim Mesir terhadap aktifis gerakan Islam, Pengaruh Ikhwan datang ke Saudi berbarengan dengan kedatangan para pelarian Ikhwan ke Saudi yang dikejar-kejar oleh rezim Jamal Abdul Naser. Saudi sengaja menampung para aktivis Ikhwan karena punya kepentingan yang sama untuk melawan Naser.
Arab Saudi merasa terancam dengan gagasan sosialisme Arab versi Naser yang sangat anti monarki. Bahkan Saudi terlibat konflik dengan Mesir akibat perang sipil di Yaman. Saat itu di Yaman yang berbatasan dengan Saudi sedang terjadi perang antara kelompok “royalist” yang didukung Saudi melawan kelompok “republicans” yang didukung Mesir.
Pada November 1963, pesawat Mesir membom desa-desa d iwilayah Saudi. Namun Mesir tak berani lebih jauh mengancam wilayah Saudi karena diancam Amerika. Nah, untuk melawan Naser, didalam negeri Mesir, Saudi mensupport kelompok Ikhwanul Muslimin yang juga anti Naser. Saudi juga menampung para pelarian Ikhwanul Muslimin dari seluruh dunia. Salah satu tokoh penting Ikhwanul Muslimin di Arab Saudi adalah Syaikh Muhammad Qutb yang merupakan adik kandung dari Sayyid Qutb, DR Sayyid Sabiq, Dr. Muhammad Munir Al-Gadhban dari Suriah.
Kesadaran mereka tentang pentingnya berjamaah sebagai sarana untuk menggapai cita-cita mereka telah menemukan momentum dan waktunya, mereka menyimpulkan bahwa keabsahan Islam seseorang adalah dengan cara berjamaah, mengangkat imam jamaah dan berbai’at untuk taat kepada sang imam. Pada 1976 anggota jamaah ini masih sedikit, Semuanya hanya berjumlah 7 orang, mereka adalah Mahrizal Thayeb, Ahmad Yani, Abdul Razak Mansyur, Udep Mahfud, Adas Haedar, Salman Hafidz dan Imron bin Muhammad Zein yang diangkat sebagai Amir Jamaah(2).
Selama kajian di Arab Saudi mereka concern terhadap dua isu besar yang merupakan tujuan asasi bagi gerakan Islam dimana saja, terutama para penggiat pejuang Syariat Islam hari ini, dan di antaranya mereka membandingkan praktek peribadatan di Indonesia dengan Saudi Arabia. Imron dan kawan-kawan prihatin dengan penerapan Islam di Indonesia yang dipenuhi dengan praktek bid’ah, kekufuran dan khurafat.
Dalam diskusi-diskusinya, jamaah ini sepakat untuk melakukan dua program besar saat mereka kembali ke Indonesia. Pertama, melakukan pemurnian terhadap ajaran Islam dengan menghapuskan bid’ah, syirik dan khurafat dalam praktek ibadah Islam di Indonesia. Kedua, menegakkan syariat Islam dengan cara menggantikan UUD 45 dan Pancasila dengan Al Qur’an dan Assunah. Buat Imron dan kawan-kawan menegakkan hukum Islam di Indonesia adalah bagian dari persoalan aqidah yang punya konsekuensi membatalkan keislaman seseorang ketika ia menolaknya.
Imron melihat bahwa tidak direalisasikan hukum Islam menjadi penyebab Indonesia tak kunjung sejahtera. Padahal, menyarakat Indonesia adalah negeri makmur, kaya raya dan subur. Mereka membandingkan dengan Arab Saudi yang tandus, namun karena menerapkan hukum Syariat Islam secara murni, maka Allah memberikan kelimpahan rezeki dengan minyak yang melimpah ruah. Minyak yang melimpah ruah menurut mereka adalah rezeki Allah yang diberikan kepada Arab Saudi karena mereka beragama secara benar(3)
Bersambung ke bag 3
——–
(2). Pledoi hukuman mati bagi Imran
(3). Idem, 5

No responses yet