Imam Ghozali bercerita, satu hari Nabi Musa AS berdialog dengan Gusti Allah, “Duh Gusti, mohon tunjukkan pada saya perkara yang di dalamnya ada ridho-Mu sehingga saya bisa melakukannya,”
Gusti Allah berfirman “Sesungguhnya ridho-Ku berada pada hal yang kamu benci, dan sungguh kamu tidak akan sabar menghadapi hal yang kamu benci itu,”
Nabi Musa AS tetap ngeyel, “Duh Gusti, tunjukkan saja, siapa tahu saya berhasil”
Gusti Allah berfirman, “Bahwa ridho-Ku tergantung pada ridhomu pada ketetapan-Ku”
Cerita ini mengingatkan kita pada pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidhir. Nabi Khidhir memperingatkan bahwa Nabi Musa tidak akan sanggup sabar di dekatnya. Tapi Nabi Musa tetep ngeyel ikut Nabi Khidhir.
Dan beneran. Saat Nabi Khidhir melubangi perahu, membunuh anak kecil dan membangun lagi rumah milik 2 anak yatim, Nabi Musa tidak sabar dengan menilai perilaku Nabi Khidir itu nyeleneh dan melanggar syariat. Ini seakan jadi pembenaran bahwa Nabi Musa masih belum sanggup sabar dengan ketetapan Gusti Allah sesuai cerita Imam Ghozali tersebut.
Padahal, menurut Mbah Maimoen Zubair, 3 perbuatan Nabi Khidhir itu merupakan sindiran dari Gusti Allah atas apa yang telah dilakukan Nabi Musa di masa lalunya.
- Nabi Musa saat masih bayi, dihanyutkan oleh ibunya dengan perahu kecil yang sangat bagus, dalam usaha menyelamatkan bayi Nabi Musa. Saking bagusnya, sehingga bikin istri penguasa (Fir’aun) tertarik untuk mengambilnya. Ternyata di dalamnya ada bayi Nabi Musa.
Ternyata di kemudian hari, terjadi kebalikannya. Perahu yang ditumpangi Nabi Musa, malah dirusak oleh Nabi Khidhir. Dengan maksud agar penguasa tidak tertarik dgn perahunya.
Nabi Musa menilai perbuatan Nabi Khidhir itu dzolim. Padahal tujuan Nabi Khidhir sama dengan tujuan dulu ibu Nabi Musa menghanyutkan bayi Nabi Musa dengan perahu kecil yang bagus. Sama-sama cari selamat dari penguasa dzolim.
- Dulu Nabi Musa pernah gak sengaja membunuh bawahan Fir’aun. Lalu beliau melarikan diri sebelum kena tangkap. Kejadian ini pun menjadi kesedihan tersendiri bagi Nabi Musa.
Eh, ternyata di kemudian hari, Nabi Khidhir sengaja membunuh seorang anak di hadapan Nabi Musa. Namun justru Nabi Musa langsung menghakimi Nabi Khidhir. Nabi Musa lupa kalo dulu beliau juga pernah membunuh manusia.
- Nabi Musa pernah menolong 2 anak keturunan orang sholeh dari negeri Madyan, yaitu Shafura dan Layya. Setelah menolong, Nabi Musa minta imbalan pada Gusti Allah.
Eh, ndilalah di kemudian hari, Nabi Musa lagi-lagi membantu 2 anak keturunan orang sholeh, dengan cara mendirikan rumah mereka, membantu Nabi Khidhir.
Namun saat Nabi Musa menyinggung tentang imbalan atas bantuannya pada Nabi Khidhir, saat itu juga Nabi Khidhir menyudahi pertemuan mereka. Dengan perkataan tersebut, Nabi Khidhir menilai Nabi Musa tidak punya kesabaran.
Ini bukan menghakimi Nabi Musa, ya. Bagaimanapun Nabi Musa adalah kekasih Gusti Allah. Tapi kita mencoba mengambil hikmah dari kisah beliau yang telah diwedar para ulama.
Bahwa hikmahnya, kita harus bisa bercermin sebelum mengomentari sesuatu dan sanggup sabar untuk menahan lisan. Sehingga tiap perkataan kita bisa terkontrol, terarah dan tidak berlebihan. Biar kita gak keceplosan misuhi takdir dan gampang mendapat ridho Gusti Allah.

No responses yet