Categories:

Oleh: Amaradya Larasati

Secara Bahasa, kata pernikahan dapat diartikan sebagai ‘berkumpul’. Sedangkan secara pengertian, pernikahan adalah akad (ijab dan kabul) yang memperbolehkan pergaulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sebelumnya bukan muhrim. Dan menurut istilah Fiqh, perkawinan adalah suatu akad yang memperbolehkan pergaulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bukan muhrim sebelumnya. Akad tersebut menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya untuk hidup bersama dalam satu rumah dan mempunyai keturunan yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum Islam.

Perikahan itu bisa dibilang sangat sakral di Indonesia, dan hanya dapat terjadi dengan persetujuan dari kedua belah pihak. Harapan semua orang dari pernikahan adalah dapat menikah dengan orang yang dicintai sekali seumur hidup. Tetapi tidak semua hubungan itu berjalan dengan mulus, setiap hubungan pasti ada saja cobaannya. Bagaimana mereka berakhir itu tergantung dari bagaimana mereka dapat melewati ‘badai’ tersebut, mereka akan dihadapkan dengan 2 pilihan; memaafkan dan berbaikan kembali atau cerai.

Sifat perkawinan dalam Islam pun pada dasarnya adalah abadi sampai akhir hayat atau tak terceraikan. Akan tetapi, dalam keadaan yang sangat mendesak dan tidak ada jalan lain serta dengan alasan yang tepat perceraian dibolehkan. Rasul memperingatkan bahwa meskipun dibolehkan, cerai adalah perbuatan halal yang paling dibenci Allah subhanahu wa Ta’ala (H.R. Abu Dawud).

Dalam islam, cerai ada hukumnya; wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram.

  1. Wajib

Perceraian wajib jika perceraian tersebut sudah disetujui dan ditetapkan oleh pihak kedua (sebagai juru damai) dari keluarga pihak suami dan pihak istri.

Dalilnya sebagaimana telah Allah subhanahu wa Ta’ala dalam Q.S. An-Nisa ayat 35 yang memiliki arti :

“Jika kamu (para wali) khawatir terjadi persengketaan di antara keduanya, utuslah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya bermaksud melakukan islah (perdamaian), niscaya Allah memberi taufik kepada keduanya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Cerai juga wajib jika seorang suami sudah mengucap sumpah untuk tidak menggauli istrinya lagi. Jika setelah masa tunggu selama 4 bulan sang suami tidak berubah pikiran, wajib baginya untuk menceraikan sang istri.

Dalilnya ada dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 226 yang memiliki arti :

“Orang yang meng-ila’ (bersumpah tidak mencampuri) istrinya diberi tenggang waktu empat bulan. Jika mereka kembali (mencampuri istrinya), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

  • Sunnah

Terkadang perceraian itu dianjurkan dalam beberapa keadaan, misalnya jika sang istri adalah wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya, atau dia adalah wanita yang meremehkan kewajibannya kepada Allah dan suami tidak bisa mengajari atau memaksanya untuk menjalankan kewajiban seperti sholat, puasa, atau lainnya.

Dalilnya, “Talak itu dilakukan karena kebutuhan” (H.R. Bukhari, dari ibnu ‘Abbas). Maksudnya, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah, “Sesungguhnya tidak patut bagi lelaki mentalak istrinya kecuali dalam keadaan yang mendesak seperti karena nusyuz”.

  • Mubah

Contohnya apa yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qudamah, “Perceraian itu mubah kalau perlu untuk melaksanakannya, disebabkan oleh akhlak istri yang jelek dan suami merasa mendapatkan mafsadah dari pergaulan dengannya tanpa bisa mendapatkan tujuan dari pernikahannya tersebut.” (Al-Mughni, 10:324)

  • Makruh

Yaitu perceraian tanpa sebab apapun, padahal kondisi rumah tangga nya baik-baik saja dan tidak ada masalah yang bisa menjadi alas an perceraian.

Imam Said bin Manshur no.1099 meriwayatkan dari Abdullah bin Umar dengan sanad shahih mauquf, bahwasanya beliau menceraikan istrinya, maka istrinya pun berkata, “Apakah engkau melihat sesuatu yang tidak engkau senangi dariku?” Ibnu Umar menjawab, “Tidak.” Maka dia pun berkata, “Kalau begitu, kenapa engkau menceraikan seorang wanita muslimah yang mampu menjaga kehormatannya?” Maka akhirnya Ibnu Umar pun merujuknya kembali.

  • Haram

Perceraian hukumnya diharamkan apabila termasuk talak bid’i (bid’ah) yang tidak sesuai dengan syari’at. Misalnya menceraikan istri ketika sedang haid atau nifas, atau menceraikan setelah melakukan jima’ dalam keadaan telah bersuci.

Dalilnya ada dalam potongan Q.S. At-talaq ayat 1 yang memiliki arti :

“Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar)”

Jika talak itu dijatuhkan dalam masa haidh, hukumnya haram berdasarkan Al-Qur`ân, Sunnah dan Ijma’. Tidak ada perselisihan  dalam pengharamannya.

Referensi :

almanhaj. “10 Ketentuan Talak Dari Al-Qur’an Dan As-Sunnah.” : 1. https://almanhaj.or.id/8874-10-ketentuan-talak-dari-alqurn-dan-sunnah.html.

Berita hari ini. 2022. “5 Hukum Cerai Dalam Islam Yang Perlu Dipahami Pasangan Muslim.” kumparan. https://kumparan.com/berita-hari-ini/5-hukum-cerai-dalam-islam-yang-perlu-dipahami-pasangan-muslim-1xOVR5Wby6k/full.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *