Oleh: Sitti Masyita (mahasiswa fakultas psikologi Universitas Muhammadyah Prof.DR. Hamka)
Ibu merupakan sapaan atau panggilan bagi wanita yang telah melahirkan atau bagi wanita karir. Di mana hanya sosok ibu dikodratkan melahirkan manusia yang menjadi pelanjut keberlangsungan kehidupan manusia, berketurunan secara turun temurun. Sosok ini sangat dimuliakan dalam pandangan agama khususnya agama Islam. Menempatkan sosok ibu sebagai tiang negara sebagaimana salah satu hadist Nabi Muhammad mengatakan yang artinya bahwa :
“Wanita adalah tiang negara. Kalau wanitanya baik maka baiklah negara, sebaliknya kalau wanitanya rusak maka rusaklah negara.”
Dari hadist di atas, menggambarkan betapa pentingnya kedudukan wanita, jangankan di dalam kehidupan rumah tangga, wanita juga memiliki peran yang sangat penting dalam bernegara, sebagai tiang negara. Diibaratkan rumah, jika tiangnya tidak ada, maka rumah tidak akan bisa berdiri tegak seperti yang diharapkan.
Dari gambaran yang disampaikan di salah satu hadist Nabi tersebut, mengindikasikan bahwa ibu memiliki peran yang sangat strategis untuk menciptakan susasana suatu bangsa menjadi kuat berdiri tegak, maju dan berkeadaban, semuanya tergantung peran ibu, yang tentu saja ditunjang oleh peran-peran lainnya karena sehebat apapun sosok manusia kalau hanya bekerja sendiri tanpa ditunjang yang lainnya tentu sangat sulit mencapai suasana seperti yang diharapkan.
Suasana seperti apa yang diharapkan dalam kehidupan rumah tangga yang akan mempengaruhi kehidupan bernegara? Tentu di dalamnya ada peran-peran pemimpin, peran masyarakat baik yang tua sebagai penuntun terlebih bagi yang masih muda sebagai pelanjut estafet kepemimpinan berbangsa bernegara di masa yang akan datang, terutama peran ibu. Mengapa peran Ibu sangat penting? Karena ibulah yang melahirkan yang didahului suasana hamil selama Sembilan bulan, tentu ada interaksi antara ibu dan anak walau masih janin dan masih di dalam kandungan karena emosi ibu sangat mempengaruhi peerkembangan emosi anak bahkan perkembangan dan pertumbuhan fisik dan otaknya yang beersumber dari pola makan dan pola hidup sang ibu, di mana semua yang dimakan ibu akan membentuk organ tubuhnya dan suasana emosi ibu juga secara langsung mempengaruhi emosi anak karena saraf-saraf anak terhubung dengan saraf-saraf ibu.
Kondisi anak tidak hanya berpengaruh pada saat masih dalam kandungan melainkan pada saat anak lahir ia menyusui pada ibunya, maka semua makanan yang dimakan oleh ibu akan menjadi air susu yang juga akan menjadi makanannya. Selain itu, saat menyususi berlangsung, ada kontak mata, denyut nadi, sentuhan kulit, belaian rambut sampai ke ujung kaki, tentu semua sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Belum cukup sampai di situ, saat anak mulai merangkak, berjalan, terlebih saat mulai berbicara, maka yang pertama manusia yang memulai mengajari si anak berbicara adalah ibu, baik disengaja maupun tidak disengaja. Saat enyususi misalnya, ibu bernyanyi, maka anak pasti langsung mendengarkan ucapan si anak yang ada dalam gendongannya.
Dari uaraian di atas, maka tidak salah pula bila sosok ibu dikatakan sebagai sosok pendidik pertama dan utama dalam perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya, karena sejak dalam kandungan, dilahirkan, disusui dan seterusnya, Pendidikan itu sudah berlangsung, anak–anak sebelum bersekolah hingga duduk di bangku sekolahpun ibu masih besar pengaruhnya terhadap anak-anaknya sampai melanjutkan ke Pendidikan yang lebih tinggi, bahkan setelah lulus dan berumah tangga sendiri, bimbingan sang ibu masih terus diharapkan. Pepatah usangpun masih berlaku bahwa :
”Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang jalan.” “Kasih ibu bagai matahari tak pernah Lelah bersinar, tak berharap akan dibalas.”

No responses yet