Di dalam Al Qur’an Surah Hud ayat ke-32, dinyatakan;

قَالُوا۟ یَانُوحُ قَدۡ جَادَلۡتَنَا فَأَكۡثَرۡتَ جِدَ ٰ⁠لَنَا

Mereka berkata, “Wahai Nuh! Sungguh, engkau telah berbantah-bantahan (debat/jadal) dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami”

Menafsiri ayat tersebut, Imam Al-Qurtubi menyatakan;

وَالْجَدَلُ فِي الدِّينِ مَحْمُودٌ، وَلِهَذَا جَادَلَ نُوحٌ وَالْأَنْبِيَاءُ قَوْمَهُمْ حَتَّى يَظْهَرَ الْحَقُّ، فَمَنْ قَبِلَهُ أَنْجَحَ وَأَفْلَحَ، وَمَنْ رَدَّهُ خَابَ وَخَسِرَ. وَأَمَّا الْجِدَالُ لِغَيْرِ الْحَقِّ حَتَّى يَظْهَرَ الْبَاطِلُ فِي صُورَةِ الْحَقِّ فَمَذْمُومٌ، وَصَاحِبُهُ فِي الدَّارَيْنِ مَلُومٌ.

Adapun debat tentang Agama merupakan hal yang terpuji (mahmud). Olehkarenanya, Nabi Nuh dan juga nabi-nabi yang lain telah melakukan debat terhadap kaum mereka, sehingga nampak jelas suatu Kebenaran (al-haq). Lalu, barangsiapa menerima kebenarannya, maka berarti ia telah sukses (menemukan kebenaran sejati) dan beruntung. Dan, barangsiapa menolaknya, maka berarti ia telah gagal dan merugi.

Sedangkan, debat yg tidak demi kebenaran, sehingga malah menampakan wujud kebatilan di dalam bentuk kebenaran, merupakan hal yang tercela (madzmum). Adapun pelaku debat ini akan celaka di dunia maupun di akhirat.

Adapun Tata Cara Debatnya;

  • Debat dilakukan oleh dua pihak, yg setara secara keilmuan, dan penuh keilmiahan.
  • Dua pihak itu adalah; (a) Pihak pertama disebut al-Mu’taridh, yaitu; orang yg menyodorkan argumen penyangkalan dan beberapa pertanyaan yg merontokkan. (b) Pihak kedua disebut al-Mustadill, yaitu; Orang yg mempresentasikan ide dan dalil-argumentasi logisnya (ad-dalil wa al- istidlal), serta menjawab berbagai penyangkalan dan pertanyaan.
  • Suasana debat haruslah berupa; membenarkan/menguatkan statemennya, dan merontokkan statemen lawannya.
  • Debat boleh dalam ranah Teologis (tauhid) maupun Syariah-Fiqh.
  • Debat tersebut haruslah mengikuti standar ilmiah, dan benar-benar demi ilmu, supaya nampak jelas; mana yg Al-Haq, mana yg Al-Bathil, mana yg konsisten, mana yg ngawur.
  • Oleh karenanya, debat tersebut jangan sampai seperti pencari ranting dan kayu bakar di malam hari, yang mana ia tidak bisa membedakan mana ranting, mana ular. Ataupun, seperti seseorang yang mencari ketiak ular; udah berjalan bolak-balik dari kepala hingga ekor, tetapi gak dapat apa-apa.

Merumuskan tehnis dan tatacara berdebat itu sangat penting. Supaya dalam debat tersebut menjadi jelas; (a) siapa yg mendakwa (mudda’iy), dan siapa yg terdakwa (mudda’a ‘alaih). (b) mana obyek/hal yg realistis-faktual, dan mana yg hanya asumsi dan halusinasi. (c) mana hal argumentatif-inspiratif (munadharah), dan mana hal yg subyektif-narsis dan sombong (mukabarah).

Perlu diingat; Walaupun, ilmu jadal ini didasarkan pada surah Hud ayat ke-32, seyogyanya tidak meniru cara dan tuntutan norak kaum musyrikin umatnya Nabi Nuh, yaitu;

فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَاۤ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّادِقِینَ

Maka datangkanlah kepada kami Azab yang engkau ancamkan, jika kamu termasuk orang yang benar.

Lagian, debatnya terjadi diantara sesama orang yang bersyahadat, sholat, puasa, zakat dan haji, serta meyakini rukun enam iman, sehingga tidaklah pantas tuntut-menuntut saling ditimpakan Azab. Bahkan, di zaman modern dan makin saintis-ilmiah, tuntut-menuntut adzab merupakan hal bodoh dan jadi bahan olok-olokan, yg malah merendahkan, dan bisa jadi malah mengkerdilkan Islam dan umat Islam.

Baca Juga : Ketika Ulama Surau Bermudzakaroh

Ulama Islam banyak membahas tentang ilmu ini. Misalnya, Imam Al Haramain dalam karyanya Al Kafiyah fi al-Jadal, Imam Abu Ishaq As Syirazi dalam Al Ma’unah fi al Jadal, Imam Najmuddin At Thufi dalam ‘Alamu al Jadzal fi Ilmi al Jadal, Imam Ibnul Jauzi dalam Al Idhaah li Qawanini al Ishtilah fi al Jadal wa al Munadharah, Imam Abul Walid al-Baji dalam karyanya Al Minhaj fi Tartibi al Hijaj, Syeikh As Syanqithy dalam Adabu al Bahts wa al Munadharah, dan lain sebagainya. Maka, sebaiknya seseorang merujuk dan mempelajari ilmu ini, sebelum debat, jadal dan munadharah dilakukannya. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *