Sering kita mendengar kisah lucu tentang orang Madura yang berbau kuno, lugu dan ketinggalan zaman. Malam ini saya buktikan sebaliknya. Wilayah pesisir Madura, tepatnya di Tanjung Saronggi, menunjukkan kemajuan peradaban luar biasa, mengadakan pengajian akbar via zoom. Ini bukan suatu yang lazim dilakukan di desa pesisir Madura.

Malam ini saya tidak bisa hadir secara fisik ke tempat acara. Ada penyekatan dan pengetatan keluar masuk Madura semenjak 3 hari yang lalu karena covid 19 yang sedang naik lagi. Panitia sepakat pengajian tetap berlanjut namun via online. Luar biasa, bukan? Madura, model kuno oke, model baru juga oke.

Dari suara zoom itu saya bisa menilai bahwa respon masyarakat/jamaah juga luar biasa, komunikasi dua arah. Ini bermakna bahwa pesan tersampaikan dengan jelas. Pengajian model ini ada sisi positifnya bagi saya, yakni penghematan waktu yang biasanya dihabiskan dalam perjalanan. Kalau saya ke Sumenep, rata-rata pulang pergi menghabiskan waktu 8 sampai 9 jam. Waktu sia-sia, bukan? Belum lagi capeknya di jalan yang tak selalu mulus dan lancar.

Malam.ini kepada para jamaah saya bercerita cara mudah menangkap kera. Ambil kelapa, dilubangi seukur tangan kera, lalu masukkan ke dala..kelapa itu buah kesukaan kera. Kera akan memasukkan tangannya ke kelapa itu, menggenggam buah itu untjk dikeluarkan, namun tak bisa karena genggamannya lebih besar  dari lubang kelapa. Kerapun tak mau melepaskan gemggannya dan akhirnya tangannya terus terjepit di dalam kelapa.

Ada banyak manusia yang seperti kera, rela menderita demi menggenggam sesuatu yang tak mungkin bisa dinikmati. Untuk bebas dan bahagia, kadang kita perlu melepaskan yang kita genggam. Itu pelajaran dari kisah itu. Jangan tamak dan egois, berbagilah dengan orang lain. Salam, Ahmad Imam Mawardi

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *