“Sebetulnya apa yg keliru dalam gaya beragama kita? Saya kira letaknya sudah jelas, bahwa kita menganggap agama itu sepenuhnya persoalan “ajaran” ketimbang “amalan”. Kita gagal menggabungkan keduanya”, karena kurang memahami agamanya sendiri”.
Saat cuma melihat dan memaknai agama sbg sekedar pondasi, akhirnya orang mungkin hanya akan mementingkan ibadah. Atau bila melihat agama sbg atapnya saja, akhirnya mungkin orang akan dgn lantang menyerukan jihad sbg segala2nya. Lalu, mengabaikan sudut pandang lain, seperti mungkin menjadi pribadi yg kurang ramah pada tentangga, menutup diri, diluar kelompok dirinya dianggap sesat, sering terlihat minimnya rasa sosialitas dan solidaritas kewargaan dan keberagaman.
Padahal agama juga mengajarkan untuk berbaik hati kepada sesama. Juga pada binatang hingga tanaman dan makhluk hidup lainnya. Memperlakukan hewan dgn baik juga ada dalilnya. Hidup bertetangga, kepedulian sosial, memberi manfaat pada orang lain dan lain2, semua ada dalilnya.
Apakah hal yg luput dari ranah agama? Sebab agama itu sebenarnya bisa menjangkau banyak hal. Mengayomi segalanya. Islam jika dipahami dgn baik, tentunya tidak identik dgn masjid, sedekah, atau kajian ilmiah. Islam itu sendiri ada dimana saja, tergantung kualitas subyek yg membawanya.
Sikap kaku dalam beragama, sebetulnya adalah manifestasi dari sikap egoisme, simbol antroposentrisme ekstrim. Kita menganggap diri sbg pendulum atau penentu suatu kebenaran mutlak. Mengapa kita bisa menganggap demikian? Karena, kita hanya melihat lurus ke depan seperti “kacamata kuda”, tanpa menengok sebelah kiri dan kanan, serta bawah dan atas. Orang yg kaku khususnya dalam hal beragama, sangat percaya diri dan meletakkan dirinya sbg pusat kenyataan, ketimbang sbg bagian dari kenyataan itu sendiri. Sehingga, dia mengambil peran sbg gravitasi, menarik segala sesuatu supaya berdiri rapat mengikuti cara pandangnya, jija tidak sama maka divonis salah bahkan sesat, yg harus di perangi. Pola itu hanya berlaku dalam komunitas kecil, dan akan semakin tidak relevan di dalam kehidupan yg luas.
Allah subhanahu wa ta’ala mengkhendaki kemudahan bagi hamba-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (QS. Al-Baqarah:185]
Sebagian dari kita, mungkin dikarenakan masih sedikitnya ilmu, terlalu kaku dalam menerapkan ilmu dan amaliah beragama, sehingga menampakkan Islam adalah agama yg sulit dan tidak fleksibel.
Teror teologis petinggi Islam kaku
Hal lain yg perlu dicatat, kenapa Islam kaku itu tidak laku, adalah karena para elit kelompok Islam kaku, sebenarnya menyembunyikan “kepentingan sekuler-duniawi” yg dibungkus dgn jargon2 sakral-ukhrawiyah. “Perjuangan Islam” yg mereka serukan, hanyalah bungkus, strategi, taktik, politis dan jargon kosong belaka, untuk menarik minat sebanyak2nya para “konsumen” Muslim terutama kaum mudanya. Bagi para petinggi Islam kaku, ideologi Islam hanya dijadikan sbg jalan untuk meraup keuntungan material – politik – ekonomi sebanyak2nya.
Kembalilah kepada ulama yg memiliki kualitas adab dan sanad keilmuan yg jelas, untuk belajar Alquran dan Al-hadits secara benar…
Wallahu a’lam bish shawab
Summarized from various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet