Meski proses kelahirannya sempat dianggap kontroversial dan ditentang oleh ulama thariqah lain, dan baru reda setelah disepakati keabsahannya dalam bahtsul masail di muktamar NU ke-3 di Surabaya tahun 1928 dan Muktamar ke-6 di Cirebon tahun 1931,[19]  Tijaniyyah tumbuh subur di Cirebon dan Garut dengan Pesantren Buntet, Cirebon sebagai pusatnya. Saat ini terdapat tak kurang dari 28 muqaddam, istilah untuk guru mursyid dalam thariqah ini, yang tersebar di seluruh Indonesia.

Selain thariqah-thariqah yang sudah disebut di muka, ada lagi beberapa thariqah yang masuk ke nusantara di seputar abad 19-20. Yang paling besar tentu saja Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah (TNK), hasil pembaruan dari thariqah Naqsyabandiyyah yang dilakukan oleh Maulana Khalid Al-Mujaddid Al-Baghdadi. Thariqah ini, menurut berbagai sumber yang dikutip Martin Van Bruinessen, dalam buku Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, masuk nusantara untuk kali pertama melalui Syaikh Ismail Al-Minangkabawi, yang mengajar di Singapura, di abad 19. Melalui tokoh mendapat ijazah dari Syaikh Abdullah Barzinjani (khalifah Maula Khalid) itu TNK-pun menyebar ke Kerajaan Riau, Kerajaan Minang kemudian seluruh tanah air.[20]  

Di Minang, para pengikut Naqsyabandiyyah Khalidiyyah yang dipimpin Syaikh Jalaluddin Cangking sempat terlibat bentrokan dengan pengikut tarekat Syattariyah yang berpusat di Ulakan, yang ajaran thariqahnya mereka anggap sudah tercemari sinkretisme. Belakangan, para tokoh Naqsyabandiyyah di Cangking terlibat peperangan melawan penjajah Belanda dalam perang Paderi, yang dipimpin Imam Bonjol.  

Cerita seputar hubungan antara Perang Paderi dengan thariqah Naqsyabandiyyah belakangan kembali dipertanyakan, terutama oleh sejarawan Minang dan Tapanuli. Pemicunya adalah beberapa buku sejarah yang menyatakan Imam Bonjol dan pasukannya adalah penganut paham Wahhabi yang bermaksud menggusur kaum muslim tradisionalis di kawasan itu.

Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah semakin berkembang pesat di tanah air melalui jamaah haji sejak Syaikh Sulaiman Zuhdi, khalifah thariqah tersebut membuka zawiyyah di Jabal Abi Qubais, Makkah Al-Mukarramah. Untuk wilayah Jawa, misalnya, Syaikh Sulaiman menunjuk tiga khalifah: Syaikh Abdullah Kepatihan (Tegal), Syaikh Muhammad Ilyas Sokaraja (Banyumas), dan Syaikh Muhammad Hadi, Girikusumo (Salatiga).  

Khalifah pertama hingga wafatnya tidak mengangkat pengganti. Sementara kekhalifahan Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo dilanjutkan oleh putranya Kiai Manshur Popongan Klaten, lalu oleh cucunya Kiai Salman Dahlawi, serta murid-muridnya : Kiai Arwani Amin Kudus, K.H. Abdullah Salam Kajen dan K.H. Hafidh Rembang. [21]

Sedangkan kekhalifahan Syaikh Ilyas diteruskan oleh putranya Kiai Abdul Malik, Purwokerto. Sepeninggal Mbah Malik kemursyidan Naqsyabandiyyah diteruskan murid kesayangannya, Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya di pekalongan. Sementara kemursyidan di Kedung Paruk diteruskan oleh cucunya K.H. Abdul Qadir bin Ilyas Noor, lalu diteruskan adiknya K.H. Said bin K.H. Ilyas Noor dan kini dilanjutkan oleh K.H. Muhammad bin Ilyas Noor.[22]

Selain mewariskan Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah, Kiai Abdul Malik juga mewariskan ijazah kemursyidan beberapa thariqah kepada Habib Luthfi Bin Yahya, salah satunya adalah Thariqah Syadziliyyah. Bahkan, belakangan pemimpin tertinggi Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah itu lebih identik dengan tarekat yang berasal dari Afrika Utara tersebut.

Selain melalui jalur Kiai Abdul Malik, Thariqah Syadziliyyah di Jawa juga dibawa oleh K.H. Muhammad Dalhar Watucongol, Muntilan, dan Kyai Siroj, Payaman, Magelang; K.H. Ahmad Ngadirejo, Klaten; Kyai Abdullah bin Abdul Muthalib, Kaliwungu, Kendal; Kyai Abdurrahman (Syaikh Abdul Kaafi II) Sumolangu, Kebumen; dan K.H. Idris Jamsaren, Solo. Kelima guru Syadziliyah pertama memiliki mata rantai sanad yg sama: Kyai Abdullah, Kyai Abdurrahman, Mbah Malik dan Mbah Dalhar mendapatkan ijazahnya dari Syaikh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Makki, ulama Haramain asal Banyumas. Sementara Kiai Idris Jamsaren dan Kiai Ahmad Ngadirejo yang satu generasi lebih tua mendapatkan ijazah kemursyidannya dari guru Syaikh Ahmad Nahrawi Muhtaram, yakni Syaikh Muhammad Shalih Al-Mufti Al-Hanafi.[23]

Dari para guru ini kemudian Thariqah Syadziliyyah menyebar ke berbagai daerah di Jawa. Saat ini pusat pengajaran Thariqah Syadziliyyah di Jawa antara lain terdapat di : Kanzus Shalawat, Pekalongan dengan mursyidnya Habib Luthfi bin Ali bin Yahya; Pesulukan Tarekat Agung (PETA) Tulungagung dengan mursyid K.H. Shalahudin (Gus Saladin), Pesantren Sumolangu Kebumen dengan mursyid K.H. Musyaffa’ Ali, dan beberapa tempat lain.

Masih banyak lagi thariqah-thariqah lain yang saat ini terus tumbuh dan berkembang di tanah air, baik yang mu’tabar (keabsahannya diakui) maupun yang belum diakui. Dari yang diperkirakan datang bersamaan dengan tibanya wali songo seperti Thariqah Kubrawiyyah, sampai yang baru masuk Indonesia di penghujung abad dua puluh, seperti Thariqah Naqsyabandiyyah Haqqaniyyah yang dibawa oleh ulama asal Amerika Serikat, Syaikh Muhammad Hisham Kabbani, atau Syadziliyyah Darqawiyyah yang dibawa para alumnus Damaskus, Syiria[24] yakni murid-murid Syaikh Muhammad Al-Ya’qubi, dan murid-murid Syaikh Yasin Al-Fadani.

  • Era Modern : Pengorganisasian Tarekat dalam JATMAN

Di Indonesia sendiri saat ini tak kurang dari tujuh puluhan juta orang tercatat sebagai pengamal thariqah. Empat puluh juta diantaranya tergabung dalam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah, organisasi para pengamal thariqah yang didirikan oleh para ulama dan guru mursyid thariqah yang berasa dari kalangan Nahdliyyin.

Dalam format awalnya Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah didirikan di Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Rajab 1377 H/ 10 Oktober 1957. Tokoh pendirinya  waktu itu adalah K.H. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Am PBNU), K.H. Bisri Syamsuri, Dr. K.H. Idham Cholid, K.H. Masykur dan K.H. Muslih.[25] Namun dalam perjalanannya, organisasi ini sempat dibawa ke politik praktis oleh salah seorang pemimpinnya, hingga menimbulkan gejolak. Terutama pada menjelang dan pasca pemilu 1977. Pada tahun 1979, dalam muktamar ke-limnya, beberapa ulama senior lalu memilih memisahkan diri dan mendirikan organisasi baru dengan menambahkan kata “An-Nahdliyyah” di belakangnya, sehingga menjadi Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah.[26]

Kelahiran organisasi ini dilatarbelakangi kekhawatiran sebagian besar ulama thariqah atas maraknya aktivitas thariqah di tengah masyarakat yang keabsahannya meragukan. Baik keabsahan dalam silsilah sanadnya, validitas kemursyidan gurunya, maupun amaliah kethariqahannya. Untuk membentengi umat Islam khususnya warga nahdliyyin itulah para mursyid yang diakui kemu’tabaran thariqah dan sanad kemursyidannya berhimpun dan mengorganisir diri.

Menurut anggaran dasarnya, misi organisasi ini antara lain mengusahakan berlakunya syariat Islam, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah dengan tetap berpegang kepada aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah dan salah satu Madzhab empat. Jatman juga akan berupaya menggiatkan kegiatan bai’at yang shahih dan membantu penyelenggaraan pengajian khusus thariqah atau tawaj-juhan di berbagai kantong-kantong NU.

Karena thariqah saat itu jumlahnya sangat banyak, organisasi kaum tarekat NU itu menambah kata mu’tabarah di belakangnya. Kata mu’tabarah dalam nama tersebut ialah muttashil sanadnya sampai kepada Rasulallah SAW yang menerima ijazah dan bai’atnya dari Malaikat Jibril AS dari Allah SWT. Dan di kemudian hari, nama itu ditambah lagi dengan An-Nahdliyyah untuk membedakan dengan kemungkinan munculnya jam’iyyah sejenis yang bukan tidak berafiliasi kepada Nahdlatul Ulama. (Keputusan Mu’tamar NU ke-26 di Semarang 1979 M)

Untuk mempermudah pengaturan roda organisasi, struktur kepengurusan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah dibagi menjadi lima jenjang. Di tingkat nasional kepengurusannya disebut Idarah ‘Aliyah, sementara di tingkat provinsi dinamakan Idarah Wustha. Di bawahnya, tingkat kabupaten dan kota dinamakan Idarah Syu’biyyah. Di bawahnya lagi atau tingkat kecamatan, kepengurusannya disebut Idarah Ghusniyyah. Dan yang paling bawah, tingkat kelurahan atau desa disebut Idarah Saafiyyah.

Setiap jenjang kepengurusan berkewajiban ikut menyiarkan serta menggiatkan pelaksanaan ajaran Islam ala Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan cara-cara yang bijaksana. Pengurus juga wajib mendukung kegiatan para guru mursyid dalam mendidik (tarbiyyah) para murid agar mencapai akhlaq yang mulia dan ma’rifat kepada Allah.

Secara rutin pengurus JATMAN di setiap jenjang juga wajib mengadakan bai’atan (bila kondisi memungkinkan), majelis sewelasan, dan pengajian-pengajian rutin lain di daerahnya. Bagi kepengurusan di tingkat provinsi diharuskan menggelar haul akbar dan manaqib kubra tiga kali dalam setahun yang tempatnya berpindah-pindah.

Setelah secara resmi berdiri, progam pertama yang dilakukan oleh pengurus Jam’iyyah adalah meneliti kemu’tabarahan thariqah-thariqah shufiyyah, baik yang tersebar di Indonesia maupun tidak. Dan setelah bekerja keras selama berbulan-bulan, pengurus yang dibantu beberapa mursyid senior yang tidak masuk dalam kepengurusan pun memutuskan 45 thariqah shufiyyah yang diakui kemu’tabarahannya.

Thariqah-thariqah tersebut adalah: Rumiyyah, Ghaiyyah, Rifa’iyyah, Tijaniyyah, Sa’diyyah, Uwaisiyyah, Bakriyyah, Idrisiyyah, Jistiyyah (Chistiyyah), Samaniyyah, Umariyyah, Buhuriyyah, Alawiyyah, Usyaqiyyah, Abasiyyah, Kubrawiyyah, Zainiyyah, Maulawiyyah, Dasuqiyyah, Jalwatiyyah, Akbariyyah, Bairumiyyah, Bayumiyyah, Ghazaliyyah, Malamiyyah, Hamzawiyyah, Haddadiyyah, Bakdasyiyyah (Bekhtasyiyyah), Madbuliyyah, Syuhrawiyyah, Sumbuliyyah, dan Idrusiyyah.

Selain itu masih ada lagi Thariqah ‘Isawiyyah, Utsmaniyyah, Syadziliyyah, Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah, Sya’baniyyah, Khalidiyyah Wa Naqsyabandiyyah, Kalsyaniyyah, Khadliriyyah, Syathariyyah, Khalwatiyyah, Thariqah Ahmadiyyah (bukan Jamaah Ahmadiyyah yang belakang ribut dengan FPI), Thuruqil Akabiril Auliyya dan Thariqah Ahli Mulazamatil Qur’an was Sunnah wa Dala’ilil Khairat wa Ta’limi Fathil Qorib au Kifayatil Awami

Selain menentukan thariqah-thariqah yang mu’tabarah, jam’iyyah juga merumuskan peryaratan dasar untuk menjadi guru mursyid, badal dan murid. Di antara syarat menjadi mursyid, misalnya, adalah bertaqwa kepada Allah, menguasai dan mengamalkan ilmu-ilmu syariah, telah selesai mengikuti tarbiyyah Thariqiyyah dan sebagainya. (Lebih lengkap tentang syarat dan kriteria mursyid baca rubrik Tawajjuh)

Kemudian untuk pegangan para pengamal thariqah, jam’iyyah juga menentukan kitab-kitab kethariqahan yang mu’tabarah. Di antara yang termasuk dalam kategori tersebut adalah Ihya’ ‘Ulumuddin, Tanwirul Qulub, Jami’ul Ushul, Majmu’atul Khalidiyyah wa Naqsyabandiyyah, Al-Futuhatur Rabbaniyyah, ‘Umdatus Salik fi Khairil Masalik, Al-Minahus Saniyyah, Bahjatul Asrar, Ar-Rasyajat, An-Nafahat dan lain sebagainya.

Tak hanya itu. Dalam setiap mu’tamarnya ulama thariqah dan guru mursyid yang tergabung dalam jam’iyyah juga menggelar kajian masalah-masalah keagamaan kontemporer, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas kethariqahan. Mengikuti jejak pendiri-pendirinya, jam’iyyah juga sangat peduli dengan berbagai isu kebangsaan. Hal itu terlihat dari tema-tema yang diusung di setiap mu’tamar dan musywarah kubranya.

Dalam muktamar ini, misalnya, tema yang diusung adalah menggalang kebersamaan jamaah untuk meneguhkah khidmah kaum thariqah kepada bangsa dan negara.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *